SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

PEKERJAAN PERTAMA

Pekerjaan Pertama

---o0o---

Pagi itu, kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung rendah di atas atap seng pemukiman padat tepi rel kereta api. Fardhan berdiri di depan cermin lemari kayu yang retak di sudut kamarnya, merapikan kerah kemeja putih lungsuran milik pamannya dengan jemari yang sedikit gemetar. Di atas meja kayu lapuk berjarak dua langkah darinya, tergeletak sebuah amplop cokelat kusam dengan cap bertinta ungu pudar bertuliskan 'CV Logistik Perkasa — Bagian Personalia & Operasional'. Selembar surat keputusan di dalamnya telah menetapkan babak baru dalam hidupnya: diterima sebagai staf administrasi gudang dengan masa percobaan tiga bulan.

"Jadi berangkat pagi ini, Fardhan?" Suara lembut sang ibu memecah keheningan dari arah pintu dapur yang hanya dibatasi selembar kelambu usang.

Fardhan menoleh, menatap wajah ibunya yang dipenuhi guratan usia dan keletihan bertahun-tahun. "Jadi, Bu. Pukul tujuh pagi aku sudah harus berada di lokasi pergudangan pasar induk," jawab Fardhan seraya mengancingkan kedua pergelangan tangannya. "Pak Hendra menekankan bahwa keterlambatan satu menit pun dianggap sebagai pengunduran diri sukarela."

Sang ibu meletakkan segelas teh manis hangat di atas meja, lalu mengusap bahu putranya dengan penuh kasih sayang. "Kemarin kamu sudah membaca rincian upah bersihnya, Nak? Apa cukup untuk menutup biaya bensin motor tua itu dan makan siangmu selama sebulan?"

Fardhan menarik napas panjang, berusaha menelan rasa getir yang mendadak menyumbat tenggorokannya. "Hanya delapan ratus lima puluh ribu rupiah per bulan, Bu. Sangat kecil bila dibandingkan biaya hidup di kota ini."

"Apa kamu tidak ingin menunggu panggilan dari kantor percetakan di pusat kota yang kemarin kamu lamar?" tanya ibu dengan tatapan cemas yang tak sanggup disembunyikan.

"Tidak ada waktu lagi untuk menunggu ketidakpastian, Bu," sahut Fardhan dengan nada yang ditegaskan. "Tunggakan beras di warung Mak Minah sudah menumpuk, dan adik membutuhkan biaya ujian akhir minggu depan. Berapa pun nilainya, ini pekerjaan pertamaku. Aku harus memulainya dengan kepala tegak."

"Ibu selalu mendoakan keselamatan dan kelancaran setiap langkahmu, Le," bisik sang ibu sembari menyodorkan selembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir dari dompet kainnya. "Ingat pesan almarhum bapakmu: bekerjalah seperti akar pohon; meski terbenam di tanah gelap dan terinjak kaki orang, ia tetap teguh menghidupi batang dan dedaunan."

"Pasti, Bu. Restu Ibu adalah pelindung terbesarku," jawab Fardhan seraya mencium takzim punggung tangan ibunya yang kasar.

Tepat pukul setengah tujuh, deru mesin sepeda motor bebek tua Fardhan membelah udara pagi yang dingin. Tiga puluh menit kemudian, ia tiba di pelataran semen retak gudang CV Logistik Perkasa. Udara pengap berbau solar, debu kardus lapuk, dan karat besi langsung menyambut indra penciumannya. Di balik pintu kaca buram ruang operasional, seorang pria bertubuh gempal dengan kemeja safari abu-abu sedang membanting tumpukan map berkas ke meja kayu jati.

"Kamu anak baru yang bernama Fardhan Wardana?!" bentak pria itu dengan suara menggelegar sebelum Fardhan sempat melangkah melewati ambang pintu.

"Benar, Pak. Selamat pagi, saya Fardhan, staf administrasi gudang yang baru—"

"Tidak usah berpidato panjang lebar di depanku!" potong pria itu dengan tatapan mata melotot tajam. "Namaku Hendra, kepala operasional gudang ini! Di tempat ini, perintahku adalah hukum mutlak! Upah kecilmu itu bukan alasan untuk berlagak seperti sarjana kantoran yang manja!"

Fardhan tercekat di tempatnya, menahan gejolak keterkejutan yang merambati dadanya. "Saya siap bekerja keras dan mematuhi seluruh instruksi Bapak."

"Buktikan dengan kerjamu, bukan dengan mulut manismu!" sergah Pak Hendra sembari melempar sebundel buku ekspedisi tebal berdebu ke dada Fardhan. "Periksa seribu lembar manifes barang masuk sebelum jam sembilan pagi! Kalau ada satu angka saja yang selisih, gajimu hari ini langsung kupotong separuh!"

°˖✧✿✧˖°

Hentakan buku ekspedisi tebal di dada Fardhan meninggalkan sengatan rasa ngilu yang menjalar hingga ke punggungnya. Sambil mendekap bundel berkas berdebu itu, ia melangkah masuk ke bilik sempit di sudut barat gudang yang menjadi meja kerjanya. Meja tersebut hanyalah susunan papan partikel lapuk yang bergoyang setiap kali disentuh, beralaskan selembar plastik kusam dengan komputer tabung kuno yang mendengung keras bagai mesin penggiling padi.

"Jangan dimasukkan ke dalam hati bentakan Pak Hendra barusan," bisik seorang wanita berkacamata bingkai tipis dari bilik sebelah, jari-jarinya tetap lincah menari di atas papan ketik yang berdebu.

Fardhan menoleh cepat seraya menyeka butiran keringat dingin di pelipisnya. "Apakah beliau selalu menyambut setiap karyawan baru dengan cara seperti itu, Mbak?"

"Bukan sekadar menyambut, anak muda. Itu menu sarapan wajib bagi siapa pun yang bekerja di bawah telunjuknya," jawab wanita itu seraya menoleh dan mengulurkan tangan. "Kenalkan, namaku Rina. Sudah dua tahun aku bertahan menjadi juru ketik di neraka kecil ini."

"Saya Fardhan, Mbak. Mohon bimbingannya. Terus terang, tulisan tangan pada lembar manifes ini banyak yang kabur dan tintanya luntur," kata Fardhan sembari membalik halaman pertama buku ekspedisi.

Mbak Rina menghela napas panjang, menatap Fardhan dengan sorot mata penuh rasa iba. "Dengarkan aku baik-baik, Fardhan. Di perusahaan ini tidak ada yang namanya bimbingan atau masa orientasi kerja. Kamu dilemparkan begitu saja ke dalam sarang serigala dan dipaksa bertahan hidup sendiri. Tiga orang pemuda sebelum kamu memutuskan kabur pada minggu pertama karena tidak tahan dicaci maki dan dipaksa lembur tanpa uang makan."

"Apakah tidak ada uang lembur sama sekali untuk staf administrasi gudang?" tanya Fardhan dengan suara tercekat, menatap tumpukan berkas yang menjulang setinggi setengah meter.

"Uang lembur hanyalah mitos di ruangan ini," sahut Mbak Rina getir seraya mengetik kembali. "Pak Hendra selalu mencari kambing hitam setiap kali ada selisih stok barang. Jadi, pastikan setiap angka yang kamu masukkan ke komputer memiliki paraf basah dari mandor lapangan."

"Terima kasih banyak atas peringatannya, Mbak Rina. Aku berjanji akan bertahan di sini apa pun yang terjadi," tegas Fardhan dengan rahang yang mengeras kokoh.

"Bagus kalau kamu punya tekad baja seperti itu," bisik Mbak Rina pelan. "Tapi ingat, di tempat ini, niat baik saja tidak cukup untuk menyelamatkan nasibmu dari amukan badai."

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya