SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

UPAH TAK SEBERAPA

Upah yang Tak Seberapa---o0o---

Matahari sore baru saja tergelincir di balik deretan gedung pencakar langit ketika Fardhan Ar Rimbai berdiri di sudut koridor kantor PT Nuansa Niaga. Di tangannya, sebuah amplop cokelat bersampul tebal tergenggam erat. Di dalam amplop itulah terbaring buah keringat pertamanya selama satu bulan penuh bertarung dengan kerasnya perantauan—upah pertama sebagai staf administrasi operasional.

Fardhan menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan seraya melangkah menuju ruang kerja Hafiz Al-Manshur yang sedang bersiap-siap untuk pulang.

"Fardhan! Kamu sudah menerima amplop gaji pertamamu?" panggil Hafiz antusias saat melihat Fardhan melangkah mendekat.

"Alhamdulillah, Hafiz. Baru saja diserahkan oleh bagian keuangan," jawab Fardhan seraya menunjukkan amplop cokelat tersebut dengan senyum tulus yang memancar dari wajahnya.

"Luar biasa, Saudaraku! Selamat atas gaji pertamamu di kota!" seru Hafiz seraya menepuk bahu Fardhan penuh rasa bangga. "Bagaimana rasanya memegang uang hasil keringat sendiri di belantara beton ini?"

"Rasanya campur aduk, Hafiz," tutur Fardhan lembut. "Ada rasa haru yang teramat sangat. Mengingat bagaimana aku melangkah pertama kali ke kota ini hanya dengan tas kain kusam, kini Allah memberikan kecukupan rezeki lewat pekerjaan ini."

Hafiz terkekeh pelan seraya merapikan barang-barang di atas mejanya. "Nah, sekarang pertanyaannya, apa hal pertama yang ingin kamu beli dengan uang gaji ini? Kemeja baru? Sepatu necis? Atau kita makan enak malam ini di warung steak depan kompleks?"

Fardhan menggelengkan kepala pelan seraya tersenyum tipis. "Tidak, Hafiz. Aku tidak berpikir untuk membeli kemeja atau makan di tempat mewah."

"Lalu? Kamu mau menyimpan semuanya di bank?" tanya Hafiz penasaran.

"Aku ingin pergi ke kantor pos sore ini juga sebelum tutup," ujar Fardhan mantap. "Aku ingin mengirimkan sebagian besar uang ini untuk Ayah dan Ibu di desa."

Hafiz tertegun sejenak, menatap Fardhan dengan pandangan takjub. "Sebagian besar? Fardhan, biaya hidup di kota ini sangat mahal. Sewa kontrakan, makan sehari-hari, ongkos transportasi... apakah kamu tidak menyisakan sebagian besar untuk dirimu sendiri?"

"Cukup, Hafiz. Sebagian kecil yang tersisa sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan makanku dan bayar kontrakan," balas Fardhan dengan keyakinan yang mantap. "Kepuasan terbesar bagiku bukan saat membeli barang mewah untuk diriku sendiri, melainkan saat mengetahui orang tuaku di desa terbantu oleh hasil keringatku ini."

Hafiz tersenyum haru, merangkul bahu Fardhan dengan erat. "Masya Allah, Fardhan. Beruntung sekali Pak Karim dan Bu Maryam memiliki putra sepertimu. Ayo, aku antar kamu ke kantor pos sekarang sebelum gerbangnya ditutup!"

°˖✧✿✧˖°

Langkah kaki Fardhan dan Hafiz membelah keramaian jalan raya kota menuju kantor pos pusat. Di dalam ruangan kantor pos yang hangat, Fardhan duduk bersila di depan loket pengiriman uang. Jemarinya dengan teliti menuliskan nama penerima pada formulir slip wesel: Abdul Karim Ar Rimbai, Desa Sumber Bakti.

Petugas loket penerima wesel, seorang pria paruh baya berkacamata, menerima lembaran uang dan formulir dari Fardhan.

"Nominal yang dikirimkan sebesar ini, Mas Fardhan?" tanya petugas loket seraya mengonfirmasi angka yang tertera.

"Benar, Pak. Tolong diproses seluruhnya untuk alamat tersebut," jawab Fardhan dengan sopan.

"Apakah ini pengiriman untuk keluarga di kampung?" pancing petugas itu ramah.

"Iya, Pak. Ini gaji pertama saya di perantauan untuk orang tua saya," jawab Fardhan seraya mengulas senyum bahagia.

Petugas pos itu mengangguk-angguk penuh apresiasi. "Semoga rezekimu makin berlimpah dan penuh keberkahan, Young Man. Anak yang berbakti pada orang tua tidak akan pernah dihitung miskin oleh Allah."

"Aamiin ya Rabbal 'alamin. Terima kasih banyak, Pak," balas Fardhan.

Setelah menyelesaikan transaksi, Fardhan melangkah keluar dari kantor pos bersama Hafiz. Di teras gedung, Fardhan memandangi resi bukti pengiriman uang di tangannya. Ada kehangatan luar biasa yang menjalar di relung dadanya, sebuah perasaan lega yang tak bisa dinilai dengan materi apa pun.

"Perasaanmu lega sekali tampaknya, Fardhan?" tebak Hafiz yang melangkah di sampingnya.

"Sangat lega, Hafiz," aku Fardhan. "Selama berbulan-bulan di desa, aku menyaksikan Ayah bekerja keras membanting tulang di ladang hingga tubuh tuanya makin membungkuk. Ibu juga selalu berhemat demi memberi makan kami. Hari ini, meski upahku tak seberapa, aku bisa meringankan sedikit beban mereka."

"Inilah bedanya rezeki yang diberkahi dengan yang sekadar bertumpuk, Fardhan," ujar Hafiz bijak. "Uang ribuan rupiah yang dikirim dengan cinta jauh lebih bernilai dibanding jutaan rupiah yang dihamburkan untuk gengsi."

"Kamu benar, Hafiz," timpal Fardhan seraya meraba saku bajunya, merasakan keberadaan Al-Qur'an kecil pemberian ayahnya. "Aku selalu ingat pesan Ayah, bahwa harta yang kita pegang hanyalah titipan untuk menabur kebaikan."

Saat mereka hendak naik ke atas sepeda motor, sosok Dzulfikar melintas mengendarai mobil mewahnya dari area parkir gedung seberang. Dzulfikar menghentikan laju mobilnya sejenak, menurunkan kaca jendela, lalu menatap Fardhan dan Hafiz yang berdiri di tepi jalan dengan pandangan meremehkan.

"Masih jalan kaki dan nongkrong di depan kantor pos, Fardhan?" tegur Dzulfikar dengan nada sinis dari dalam mobilnya.

Fardhan membungkuk sopan. "Selamat sore, Pak Dzulfikar. Kami baru saja menyelesaikan urusan sebentar."

"Gaji pertamamu pasti habis untuk membayar tunggakan utang di kampung, bukan?" cibir Dzulfikar seraya tertawa sinis. "Di kota ini, upah kecil staf biasa tidak akan pernah bisa mengubah nasibmu menjadi kaya raya."

"Tujuan saya bekerja bukan untuk menjadi kaya raya di mata manusia, Pak," sahut Fardhan tenang tanpa tersulut emosi. "Cukup bagi saya jika upah ini bisa membawa keberkahan dan kebahagiaan untuk keluarga."

Dzulfikar menyunggingkan senyum keangkuhan. "Bahasa orang kalah. Kita lihat saja berapa lama idealisme murahmu itu bisa bertahan di kota ini!" bentak Dzulfikar seraya menaikkan kaca jendela dan menancap gas mobilnya, meninggalkan kepulan asap tipis di hadapan mereka.

°˖✧✿✧˖°

Beberapa hari kemudian, resi wesel pengiriman uang dari kota akhirnya tiba di rumah sederhana keluarga Fardhan di desa. Sore itu, petugas pos desa menghentikan sepeda motornya di depan pelataran rumah Abdul Karim Ar Rimbai.

"Assalamu’alaikum, Pak Karim!" panggil petugas pos dari luar gerbang kayu.

Maryam, ibu Fardhan, keluar dari balik pintu dapur seraya mengusap tangannya pada kain celemek. "Wa’alaikumussalam warahmatullah. Eh, Pak Pos. Ada apa, Pak?"

"Ada pengiriman wesel uang dan surat darurat dari Fardhan di kota, Bu Maryam," terang petugas pos seraya menyerahkan amplop resi dan selembar surat lipat.

Abdul Karim yang baru saja selesai menimba air di belakang rumah melangkah ke teras. "Ada apa, Ibu? Dari Fardhan?"

"Iya, Ayah! Fardhan berkirim surat dan... Masya Allah, Fardhan mengirimkan uang wesel dari gaji pertamanya!" seru Maryam dengan suara bergetar haru.

Abdul Karim mengambil lembaran wesel tersebut. Matanya yang mulai kabur meneliti nominal angka yang tertera di sana. Uang yang dikirimkan Fardhan jumlahnya sangat besar bagi ukuran kehidupan desa, bahkan jelas merupakan sebagian besar dari total gaji yang diterima anak sulungnya itu.

"Anak ini..." bisik Abdul Karim, air mata bening menetes perlahan membasahi pipinya yang keriput. "Dia mengirimkan hampir seluruh upahnya untuk kita di desa..."

"Apakah Fardhan tidak menyisakan uang untuk makan dan sewa kontrakannya sendiri di kota, Ayah?" tanya Maryam khawatir seraya membuka lipatan surat anak tercintanya.

"Mari kita baca suratnya bersama, Bu," ajak Abdul Karim seraya duduk di amben kayu teras.

Lihat selengkapnya