SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

TEMAN YANG MENGUJI KEJUJURAN

Teman yang Menguji Kejujuran

---o0o---

Sinar matahari siang memancar terik menembus dedaunan pohon angsana di pelataran kampus. Fardhan Ar Rimbai berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor Fakultas Ekonomi, menjinjing map berisikan berkas proposal riset perbankan syariah yang baru saja ditandatangani oleh Profesor Aris. Di sampingnya, melangkah seorang pemuda sebaya berpakaian necis dengan kemeja ikatan dinas dan jam tangan berkilat. Pemuda itu adalah Hafiz Al-Manshur, teman seangkatannya di jurusan Manajemen Keuangan yang dikenal memiliki pergaulan luas di lingkungan pebisnis muda kota besar.

Meskipun namanya sama dengan sahabat kecil Fardhan di Desa Rimbai, Hafiz Al-Manshur adalah sosok yang amat berbeda. Ia adalah pemuda kota yang ambisius, serba pragmatis, dan selalu mencari jalan terpesat untuk meraih kesuksesan finansial.

"Fardhan, tunggu dulu!" panggil Hafiz Al-Manshur seraya menepuk pundak Fardhan, menghentikan langkahnya di dekat bangku taman.

Fardhan menoleh, menyunggingkan senyum ramahnya. "Ada apa, Hafiz? Kamu kelihatan buru-buru sekali."

Hafiz Al-Manshur melirik ke sekeliling selasar yang mulai sepi, lalu mendekatkan wajahnya dengan nada suara berbisik penuh intrik. "Aku punya penawaran proyek emas buat kamu, Fardhan. Ini kesempatan sekali seumur hidup untuk melunasi seluruh biaya kuliahmu dan keluar dari kehidupan susahmu di kontrakan sempit itu."

Fardhan menaikkan sebelah alisnya, mengamati raut wajah Hafiz yang penuh teka-teki. "Proyek apa yang kamu maksud, Fiz?"

Hafiz Al-Manshur mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari dalam tas kulitnya, menyodorkannya ke hadapan Fardhan dengan binar mata yang bersemangat.

"Ini proyek rekapitulasi dan pemutihan laporan keuangan bulanan milik konsorsium investasi milik kerabat dekat Saudara Dzulfikar," bisik Hafiz Al-Manshur. "Tugas kita cuma merapikan beberapa angka minus di kolom audit internal agar kelihatan surplus sebelum diajukan ke jajaran investor pekan depan."

Fardhan memandangi amplop tebal itu tanpa menyentuhnya. "Memutihkan angka minus? Maksudmu merekayasa data keuangan, Hafiz?"

"Ah, jangan pakai istilah kasar begitu, Fardhan!" potong Hafiz Al-Manshur seraya tertawa renyah. "Ini cuma penyesuaian teknis! Yang penting, kalau kamu mau bantu aku mengerjakan rekap analisis ini selama tiga hari, kita berdua masing-masing langsung dapat komisi tunai lima belas juta rupiah!"

Peristiwa pemicu itu menghentak kesadaran Fardhan, menyodorkan sebuah godaan uang cepat yang sangat besar di tengah kesempitan ekonominya, namun berisikan benih kecurangan yang meragukan.

°˖✧✿✧˖°

Fardhan menarik napas dalam-dalam, menggeser amplop cokelat itu kembali ke tangan Hafiz Al-Manshur dengan gerakan tangan yang tegas namun tetap santun.

"Maafkan aku, Hafiz. Aku tidak bisa menerima pekerjaan ini," jawab Fardhan jujur tanpa ragu.

Hafiz Al-Manshur terbelalak kaget, matanya melotot menatap Fardhan seolah-olah sahabatnya itu baru saja kehilangan akal sehatnya.

"Kamu gila, Fardhan?!" seru Hafiz Al-Manshur dengan nada tertahan, matanya membesar. "Lima belas juta rupiah, Fardhan! Itu uang tunai bersih! Kamu bisa beli sepeda motor baru, bayar sewa kontrakanmu untuk dua tahun ke depan, dan tidak perlu lagi memanggul karung beras di pasar subuh-subuh!"

"Uang itu tidak pernah bersih kalau didapat dari memalsukan angka, Hafiz," pangkas Fardhan menatap lurus mata temannya. "Merekayasa laporan keuangan untuk mengelabui investor adalah kebohongan dan bentuk kecurangan yang diharamkan."

Titik plot pertama terjadi ketika Fardhan secara terbuka menolak tawaran tersebut, memilih memegang teguh prinsip kejujuran meskipun tahu bahwa keputusannya akan memicu risiko konflik dan kerugian finansial yang nyata.

Hafiz Al-Manshur meremas amplop cokelat di tangannya, wajahnya berubah merah padam akibat rasa kesal.

"Jangan sok suci di kota besar ini, Fardhan!" tegas Hafiz Al-Manshur dengan nada sinis. "Di dunia bisnis nyata, rekayasa laporan seperti ini sudah biasa terjadi! Semua orang melakukannya demi bertahan hidup! Kalau kamu terlalu kaku dan idealis begini, kamu tidak akan pernah bisa sukses di kota ini!"

"Kalau sukses harus dicapai dengan menjual kejujuran dan iman, aku lebih memilih tetap menjadi anak miskin dari desa, Hafiz," balas Fardhan dengan suara tenang namun berwibawa.

Hafiz Al-Manshur menatap Fardhan dengan pandangan kecewa dan marah. "Baik! Kalau kamu menolak, jangan sesali keputusan konyolmu ini saat melihat aku berhasil memegang uang besar pekan depan!"

Hafiz Al-Manshur berbalik dan melangkah pergi dengan gusar, meninggalkan Fardhan yang berdiri sendirian di bawah rindangnya pohon angsana.

°˖✧✿✧˖°

Dampak dari penolakan Fardhan mulai terasa nyata dalam beberapa hari berikutnya. Hafiz Al-Manshur yang merasa sakit hati dan terancam oleh idealisme Fardhan mulai melancarkan aksi pembalasan secara halus di lingkungan kampus.

Hafiz Al-Manshur memanfaatkan pengaruh dan pergaulannya untuk menghalang-halangi Fardhan dari berbagai peluang kerja sampingan akademis.

Di ruang sekretariat Lembaga Kajian Ekonomi, Fardhan menemui Mas Roni, staf senior yang biasanya memberi Fardhan pekerjaan sampingan mengolah data survei UMKM.

"Maaf sekali, Fardhan," ujar Mas Roni seraya menghindari tatapan mata Fardhan. "Pekerjaan olah data untuk bulan ini sudah diserahkan semuanya kepada timnya Hafiz Al-Manshur. Hafiz menyanggupi pengerjaannya lebih cepat dengan biaya yang lebih murah."

Lihat selengkapnya