SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

KEGAGALAN PERTAMA

Di bawah kilat sore yang membelah langit perbatasan kota, udara terasa mengendap tebal oleh aroma jelaga dan tanah basah. Fardhan berdiri mematung di depan bangunan kios beratap seng yang pintu harmonikanya telah terkunci rapat oleh rantai besi berkarat. Di seberang jalan, deru kendaraan berlalu-lalang tanpa peduli pada runtuhnya sebuah impian kecil yang dibangun dengan linangan keringat selama dua tahun terakhir. Lembar-lembar nota tagihan yang mulai meredup tintanya bergetar dalam genggaman tangannya yang dingin, menegaskan kenyataan pahit yang tak lagi bisa dihindari.

"Semua angka di pembukuan ini tidak pernah berbohong, Fardhan," ujar Rafiq Al-Hakim dengan nada suara pelan namun terasa memotong hawa dingin sore itu. Ia menyandarkan tubuhnya pada tiang beton yang terkelupas catnya. "Suplai barang dari vendor utama dihentikan total sejak kemarin pagi. Saldo kas kita tersisa tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Kita benar-benar habis."

Fardhan menatap sahabat sekaligus mitra bisnisnya itu dengan tatapan hampa. Matanya sembap, dikelilingi lingkaran hitam akibat berminggu-minggu menolak tidur demi menyelamatkan usaha distribusi bahan pangan murah yang mereka rintis. "Bagaimana dengan sisa stok tepung dan minyak di gudang belakang, Rafiq? Bukankah kita masih bisa menjualnya dengan harga modal untuk menutup tunggakan sewa bulan ini?"

Rafiq menggeleng perlahan, matanya menatap lurus ke arah genangan air hujan di pelataran. "Pemilik gedung sudah menggemboknya tadi siang. Dzulfikar datang membawa surat kuasa penagihan utang. Dia mengklaim seluruh sisa barang di dalam sebagai jaminan atas keterlambatan pembayaran komisi persentase yang ia manipulasi dari perjanjian awal. Kita ditipu bulat-bulat, Fardhan."

Kata-kata itu menghantam dada Fardhan bagaikan pukulan godam. Udara di sekitarnya mendadak terasa menyesakkan, seolah seluruh oksigen di dalam paru-parunya tersedot habis. Modal puluhan juta yang ia kumpulkan dari sisa tabungan merantau, pinjaman ikhlas dari keluarga di desa, hingga seluruh cadangan dana daruratnya kini menguap tanpa sisa. Kesalahan karena terlalu percaya pada tawaran kemudahan jalur distribusi yang disodorkan Dzulfikar kini membayar tuntas seluruh masa depannya.

"Ini tidak mungkin terjadi begitu saja, Rafiq," bisik Fardhan, suaranya parau menahan desakan emosi yang bergolak di tenggorokan. "Kita sudah menghitung seluruh risiko dengan sangat teliti. Kita tidak mengambil keuntungan berlebih, kita menjaga kejujuran timbangan, lalu mengapa pintu kejepit ini yang harus terbuka untuk kita?"

"Dunia bisnis perantauan tidak pernah sejujur madrasah tempatmu belajar dulu, Sahabat," sahut Rafiq seraya menepuk bahu Fardhan dengan guncangan pelan. "Dzulfikar memanfaatkan celah dalam surat perjanjian yang kita tandatangani tanpa pendampingan hukum. Dia tahu kita terdesak modal, dan dia mengeksekusi niat jahatnya tepat di saat seluruh tagihan jatuh tempo secara bersamaan."

Fardhan terduduk di atas undakan semen yang tertutup debu jalanan. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kasar. Bayangan wajah ayah dan ibunya di desa mendadak melintas, diiringi kenangan akan doa-doa yang selalu dilangitkan di surau tua tempatnya dibesarkan. Pengorbanan untuk melangkah jauh meninggalkan kedamaian kampung halaman kini hanya berbuah kehancuran yang nyata dan memalukan.

"Apalagi yang tersisa dari kita sekarang?" tanya Fardhan pelan pada kesunyian yang merayap di antara deru mesin kendaraan.

"Hanya pakaian di badan dan nama baik yang harus kita jaga agar tidak ikut tercemar," balas Rafiq lirih. "Tarik napasmu, Fardhan. Bencana ini baru saja dimulai."

°˖✧✿✧˖°

Langkah kaki Fardhan terasa begitu berat menelusuri lorong pemukiman padat penduduk menuju kontrakan petakan yang ia sewa bersama Hafiz. Lampu-lampu jalanan mulai menyala satu per satu, membiaskan bayangan tubuhnya yang bungkuk melintasi dinding-dinding bata yang lembap. Setiap ketukan langkahnya serasa menggemakan kegagalan yang kini melekat erat pada dirinya.

Hafiz Al-Manshur sedang menyeduh teh hangat di sudut ruangan sempit ketika Fardhan mendorong pintu kayu yang berderit nyaring. Melihat wajah Fardhan yang pucat dan tatapan matanya yang kosong, Hafiz segera meletakkan cangkirnya di atas meja lipat.

"Fardhan? Ada apa? Bagaimana urusan pelunasan barang di gudang pusat?" tanya Hafiz dengan raut wajah cemas.

Fardhan tidak langsung menjawab. Ia melepas sepatu kainnya yang lembap, lalu terduduk lemas di atas kasur tipis yang terbentang di lantai. "Habis, Hafiz. Semuanya habis. Usaha kita digulung total oleh Dzulfikar. Modal yang ku kumpulkan selama bertahun-tahun lenyap dalam sekejap."

Hafiz tertegun, matanya membelalak tak percaya. "Bagaimana bisa? Bukankah kemarin Dzulfikar berjanji memberikan kelonggaran tempo pembayaran hingga akhir bulan? Kenapa dia tega melakukan hal sekejam itu?"

"Janji di atas kertas yang dirancang untuk menjebak kita," jawab Fardhan seraya memegangi kepalanya yang dihantam rasa nyeri luar biasa. "Dia memanfaatkan ketidakpahamanku soal klausul hukum jual-beli. Dia menyita seluruh sisa stok barang dan menyegel lokasi usaha. Aku bahkan tak punya sisa uang sepeser pun untuk sekadar membeli makan malam kita hari ini."

Hafiz menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak emosi yang mulai membakar dadanya. Ia berjalan mendekati Fardhan, lalu duduk di samping sahabatnya itu. "Dengar aku, Fardhan. Harta yang hilang bisa dicari kembali, tapi jangan biarkan jiwa dan imanmu ikut bangkrut karena kejadian ini. Kita masih hidup, kita masih punya tangan dan kaki yang sehat untuk berusaha."

"Tapi bagaimana dengan amanah orang tuaku di desa, Hafiz?" potong Fardhan dengan nada keputusasaan yang mendalam. "Ayah memberikan tabungan hajinya untuk membantu modal awal ini. Ibu menaruh harapan besar bahwa anak sulungnya bisa mandiri dan membantu perekonomian keluarga. Bagaimana mungkin aku menyampaikan bahwa uang yang mereka kumpulkan dengan menahan lapar itu kini hilang ditelan penipu?"

"Kau tidak menipunya, Fardhan! Kau ditipu!" tegas Hafiz dengan suara tertahan namun tajam. "Ada perbedaan besar antara orang yang gagal karena malas dan orang yang tersungkur karena dizalimi. Tuhan tidak pernah tidur melihat ketulusan niatmu."

Tiba-tiba ketukan pelan terdengar dari balik pintu kontrakan. Hafiz bergegas membukanya, dan tampaklah sosok Ustaz Ahmad Fathan berdiri di ambang pintu dengan membawa sebungkus plastik berisi roti dan kurma. Tali sorban putihnya tersampir rapi di bahu, memancarkan ketenangan yang kontras dengan kekacauan di dalam ruangan tersebut.

"Assalamu’alaikum, Fardhan, Hafiz," salam Ustaz Ahmad dengan suara lembut. "Aku mendengar kabar kurang menyenangkan dari Rafiq di perjalanan tadi. Bagaimanakah keadaan hatimu sore ini, Fardhan?"

Fardhan mencium tangan guru mudanya itu dengan bibir gemetar. "Wa’alaikumussalam, Ustaz. Hati saya hancur. Saya merasa telah gagal menjalankan amanah dan tak tahu lagi harus melangkah ke mana. Pintu-pintu rezeki serasa dikunci rapat untuk saya."

Ustaz Ahmad duduk bersilat di atas tikar, menatap muridnya itu dengan pandangan penuh kasih sayang dan kedalaman pemahaman. "Fardhan, saat Allah menutup sebuah pintu yang kau sangka adalah jalan kesuksesanmu, pernahkah kau berpikir bahwa Dia sedang menyelamatkanmu dari kehancuran yang lebih besar di masa depan?"

"Tapi modal itu adalah seluruh hidup saya, Ustaz," sahut Fardhan lirih.

"Modal hartamu mungkin habis," ucap Ustaz Ahmad sembari menepuk dada Fardhan. "Tapi modal terbesarmu—iman, kejujuran, dan prinsip hidupmu—masih utuh. Apakah kau lupa ayat yang selalu kau baca di surau desa dulu?"

°˖✧✿✧˖°

Malam makin menua, menyeret kota ke dalam kesunyian yang dingin. Di dalam ruangan sempit itu, kata-kata Ustaz Ahmad masih bergema tajam di telinga Fardhan, menembus lapisan kepedihan yang menyelimuti pikirannya. Namun, kenyataan hidup tidak lantas berubah menjadi mudah hanya dalam semalam.

"Ustaz," potong Fardhan seraya menundukkan kepala dalam-dalam. "Sangat mudah membicarakan keikhlasan saat kita tidak berada di posisi orang yang kehilangan segalanya. Besok pagi, pemilik kontrakan ini akan datang menagih sewa gedung yang tertunggak. Penagih utang yang diutus Dzulfikar akan terus mendatangi tempat ini. Bagaimana saya harus menghadapi kenyataan kasar ini hanya dengan berpasrah diri?"

Ustaz Ahmad tersenyum tipis, tidak sedikit pun tersinggung oleh nada bicara Fardhan yang meninggi akibat tekanan emosi. "Pasrah yang kusebutkan bukanlah kepasrahan orang yang kalah dan berhenti melangkah, Fardhan. Pasrah adalah melepaskan kepemilikan hatimu atas hasil, setelah seluruh kemampuan fisikmu kau kerahkan. Kau merasa terpukul karena kau menganggap modal dan usaha itu adalah milikmu sepenuhnya."

"Bukankah itu memang hasil keringat saya sendiri selama bertahun-tahun di perantauan?" balas Fardhan dengan mata memerah.

"Siapa yang memberimu kesehatan untuk bekerja? Siapa yang menggerakkan hati orang-orang untuk membantumu di awal jalanmu?" tanya Ustaz Ahmad balik dengan nada menyejukkan. "Semua itu adalah titipan. Hari ini, Sang Pemilik mengambil kembali titipan-Nya dengan cara yang tidak kau sukai, untuk menguji apakah kau mencintai Titipan-Nya atau mencintai Sang Pemberi Titipan."

Hafiz menyodorkan secangkir teh hangat yang masih berasap ke depan Fardhan. "Minumlah dulu, Fardhan. Pikirkan langkah riil yang harus kita ambil besok. Kita tidak bisa bersembunyi di kamar ini selamanya."

Fardhan menerima cangkir itu, merasakan kehangatan yang merambat ke jemarinya yang kaku. "Aku harus menemui Dzulfikar besok pagi. Aku harus meminta penjelasan resmi dan menuntut pengembalian barang-barang yang bukan haknya."

"Jangan mendatangi serigala tanpa perlindungan, Fardhan," sela Hafiz cepat. "Dzulfikar memiliki banyak preman di kawasan pasar. Kau hanya akan menyetor nyawa atau memancing emosi yang membuatmu melakukan tindakan nekat."

"Lalu apa pilihan yang aku punya?" seru Fardhan dengan nada frustrasi. "Apakah aku harus berdiam diri menerima penghinaan ini? Menunggu orang-orang menunjuk mukaku sebagai pengusaha gagal yang kabur dari tanggung jawab?"

"Kau mendatangi Khalid Al-Basri," potong Ustaz Ahmad dengan tenang. "Beliau adalah sosok senior di perserikatan pedagang muslim kota ini. Beliau kenal baik dengan watak Dzulfikar dan memiliki otoritas moral untuk mediasi. Tapi ingat, Fardhan, mintalah bantuan dengan tegak, bukan dengan mengemis. Tunjukkan bahwa kau adalah pemuda yang menjaga kehormatan imanmu."

Fardhan mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas lutut. Pertentangan batin berkecamuk hebat di dalam dadanya. Antara rasa gengsi yang terluka, amarah pada ketidakadilan, serta keharusan untuk merendahkan hati mencari pertolongan, ia merasa terasing di tengah keramaian dunia yang tak pernah ramah pada orang-orang miskin.

Lihat selengkapnya