Hampir Menyerah
---o0o---
Untuk pertama kalinya Fardhan berpikir pulang ke desa. Ia merasa semua mimpinya terlalu tinggi.
Lampu bohlam lima watt di langit-langit kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di gang sempit Palmerah itu berkedip-kedip suram. Cahaya temaram kekuningan itu beradu dengan deru hujan gerimis yang menghantam seng berkarat di atas kepalanya. Udara di dalam ruangan terasa pengap, bercampur bau kuah mi instan yang telah dingin dan mengering di bibir mangkuk sejak siang tadi. Di atas meja lipat kayu yang sudut-sudutnya mulai lapuk terkelupas, layar laptop tua Fardhan memancarkan radiasi biru yang menyengat matanya yang memerah menahan kantuk dan kelelahan berminggu-minggu.
Sebuah surel dengan kop surat resmi berwarna merah menyala terpampang tanpa ampun di hadapannya.
"Dengan ini manajemen memutuskan untuk membatalkan kontrak kerja sama penjenamaan studio Arkana Visual secara sepihak tanpa kompensasi penalti..." bisik Fardhan dengan bibir kelu, membaca tiap kata yang serasa menghunjam ulu hatinya.
"Dua puluh lima juta rupiah lenyap hanya dalam satu ketukan tetikus. Dua bulan tidak tidur, modal pinjaman kawan, semuanya hangus jadi debu."
Fardhan membenamkan wajahnya ke kedua telapak tangan yang kasar. Jemarinya mencengkeram rambutnya yang lepek dan acak-acakan. Dadanya sesak seperti terhimpit lempengan beton gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang selama ini ia puja dari kejauhan. Tiga tahun lalu, ia menginjakkan kaki di Stasiun Pasar Senen dengan dada berdegup kencang, menggenggam selembar ijazah SMK dan segepok sketsa impian untuk menjadi desainer grafis ternama di ibu kota. Namun malam ini, kenyataan kota metropolitan meremukkan seluruh kebanggaannya tanpa sisa.
Tepat saat kepalanya serasa hendak pecah oleh keputusasaan, ponsel pintarnya yang retak di sudut layar bergetar panjang di atas kasur lantai tipis. Nada dering standar berbunyi nyaring di tengah kesunyian malam.
Nama yang tertera di layar seketika membuat seluruh persendian Fardhan membeku kaku: *Ibu di Kampung*.
Fardhan menarik napas panjang, menepuk-nepuk kedua pipinya untuk mengusir getar kepedihan, lalu menggeser ikon hijau dengan jari yang dingin.
"Halo, Assalamu’alaikum, Bu..." Fardhan berusaha sekuat tenaga membuat suaranya terdengar renyah dan bersemangat.
"Wa’alaikumsalam warahmatullah, Le. Fardhan belum tidur ya, Nak? Suaramu kok kedengaran berat dan serak begitu? Kamu nggak lagi masuk angin atau meriang kan di sana?"
Suara lembut dan teduh itu langsung menusuk pertahanan batin Fardhan yang paling rapuh. Ada desau angin malam pedesaan Blitar dan suara jangkrik di pekarangan belakang yang tertangkap samar melalui mikrofon telepon, membangkitkan aroma tanah basah dan pelukan hangat rumah masa kecilnya.
"Fardhan sehat sekali, Bu. Tadi cuma baru selesai minum air hangat saja setelah merapikan beberapa berkas gambar. Ibu sendiri bagaimana kabarnya di rumah? Kaki Ibu masih suka linu kalau malam dingin begini?"
"Alhamdulillah, kaki Ibu sudah mendingan setelah dipijat Mbakyu-mu sore tadi. Kamu nggak usah cemas mikirin Ibu di sini ya, Le. Yang penting kamu di Jakarta makan yang bergizi, jangan hemat berlebihan sampai sakit seperti waktu awal merantau dulu."
Fardhan melirik sisa kuah mi instan keruh di mangkuk melamin dan dompet kulit imitasi yang tergeletak pasrah di meja. Di dalam dompet itu hanya tersisa selembar uang pecahan lima ribu rupiah dan koin receh berkarat.
"Iya, Bu... Fardhan makannya teratur kok. Tadi malam baru saja makan nasi padang lauk rendang sama ayam gulai bareng kawan-kawan. Enak dan kenyang sekali."
"Syukurlah kalau begitu, Le. O iya, Le... Ibu cuma mau mengabari, genteng dapur kita kemarin ada yang melorot tertiup angin barat. Kemarin waktu hujan deras airnya masuk ke lumbung beras kecil. Pakde Harjo bilang butuh dibenahi rangkanya sebelum musim hujan puncak datang. Tapi santai saja ya, Nak. Jangan dipaksakan kalau proyekmu belum cair. Ibu nggak mau membebani kamu."
Kata-kata ibunya sama sekali tidak menuntut, justru penuh kehati-hatian yang menyayat sanubari. Fardhan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa asin darah di ujung lidah demi menahan jeritan tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya.
"Pasti Fardhan kirim uang renovasinya lusa, Bu. Ibu tenang saja ya, pokoknya jangan sampai Ibu naik tangga benerin genteng sendiri. Percaya sama Fardhan ya, Bu."
"Ibu selalu percaya sama kamu, Le. Dari dulu almarhum Bapakmu juga selalu bilang kalau anak bungsunya ini punya tangan emas yang bakal membawa berkah buat orang banyak. Ya sudah, istirahat ya Nak Fardhan. Jangan begadang terus."
Panggilan terputus dengan suara nada tut panjang yang sunyi. Fardhan meletakkan ponselnya, lalu menatap dinding tripleks berjamur di depannya dengan tatapan kosong. Kepalanya terasa berdengung hebat. Di dalam lubuk hatinya yang paling sunyi, sebuah bisikan kepasrahan mulai membakar akal sehatnya: *Kemasi barangmu, Fardhan. Beli tiket kereta paling murah, pulanglah ke desa dan akui bahwa kamu hanyalah seorang pecundang.*
°˖✧✿✧˖°
Pintu tripleks kamar kos mendadak terdorong dari luar dengan derit engsel yang memekakkan telinga. Sosok berpostur jangkung melangkah masuk dengan napas memburu, pakaian dan jaket parasutnya basah kuyup meneteskan air hujan ke lantai semen. Dimas meletakkan dua bungkus nasi rames beralas kertas cokelat basah ke atas meja dengan gerakan letih.
"Hujan badai di luar gila-gilaan, Dhan. Motorku mogok di kolong jembatan layang Slipi dan businya kemasukan air," kata Dimas sambil menyeka wajahnya dengan lengan baju. "Nih, aku cuma dapat nasi bungkus lauk tempe orek sama kuah sayur nangka. Klien PT Cahaya gimana? Uang mukanya sudah masuk ke rekening studio kita?"
Fardhan tidak menoleh ataupun mengangkat kepalanya. Ia hanya menggeser layar laptop ke arah sahabatnya itu dengan gerakan kaku seperti robot tak bernyawa. Dimas mencondongkan badan, membaca baris-baris kalimat penolakan itu dengan mata yang perlahan membelalak ngeri.
"Mereka membatalkan kontraknya?! Setelah dua minggu kita tidak tidur menyempurnakan rancangan visual itu?!" suara Dimas melonjak satu oktaf, gemetar antara amarah dan rasa tidak percaya.
"Bukan cuma batal, Dim. Mereka memanfaatkan celah klausul keterlambatan revisi saat daerah kita padam listrik kemarin," sahut Fardhan dengan suara hampa. "Saldo rekening Arkana Visual saat ini tinggal lima puluh empat ribu dua ratus rupiah."
"Ya Tuhan... Besok pagi jam sepuluh uang sewa kamar kos satu setengah juta harus lunas di meja Bu Ros, Dhan! Kalau tidak ada, kita berdua bakal ditendang ke jalanan malam-malam!"
Fardhan bangkit perlahan dari kursi kayunya. Ia berlutut di lantai dingin, lalu menjulurkan kedua tangannya ke bawah kolong ranjang besi yang gelap dan berdebu tebal. Dari sana, ia menarik keluar sebuah koper kain berwarna cokelat kusam dengan resleting yang sudah berkarat.
"Kamu mau ngapain buka koper itu, Dhan? Jangan bikin aku gila malam-malam begini!"
"Aku mau berkemas dan pulang ke Blitar, Dim. Aku mau menyerah," ucap Fardhan menatap lurus ke manik mata sahabatnya. "Kita sudah kalah. Kita cuma dua orang anak kampung dungu yang terlalu percaya diri bahwa bakat menggambar bisa menaklukkan kekejaman ibu kota."
"Tarik ucapanmu barusan, Fardhan! Tiga tahun kita berdarah-darah bukan buat kamu sudahi di dalam koper rongsokan ini!"
°˖✧✿✧˖°
Sebelum perselisihan mereka memuncak, tiga kali gedoran keras menghantam daun pintu tripleks kos hingga debu di kusen berhamburan ke udara. Denting tajam serangkaian anak kunci besi yang beradu dari luar lorong memberi isyarat mengerikan tentang siapa yang berdiri di sana.