SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

SEPERTIGA MALAM

Sujud Panjang di Sepertiga Malam

---o0o---

Di bawah naungan langit perbatasan kota yang legam, angin malam bertiup membawa aroma tanah basah dan jelaga dingin. Kios beratap seng tempat Fardhan menggantungkan asa kini berdiri kaku dengan pintu kayu yang terkunci rapat dari luar. Lampu jalan berkedip redup, membiaskan bayangan sesosok pemuda yang duduk terpaku di atas undakan semen dingin. Di jemarinya yang gemetar, selembar kertas pembukuan usahanya yang koyak bergoyang perlahan, memperlihatkan deretan angka merah yang menegaskan kehancuran: modal habis, tabungan lenyap, dan utang melilit lehernya tanpa ampun.

"Semua angka ini tidak bisa diajak bernegosiasi lagi, Fardhan," ujar Rafiq Al-Hakim seraya bersandar pada tiang listrik berkarat di sampingnya. "Vendor utama memutus pasokan minyak dan beras sejak tadi sore. Uang kas tersisa sepuluh ribu rupiah, sementara besok pemilik tempat ini menagih sewa gedung."

Fardhan mengangkat wajahnya, menatap sahabat sekaligus mitra bisnisnya dengan pandangan kosong dan mata yang memerah. "Bagaimana dengan sisa persediaan di gudang belakang, Rafiq? Bukankah masih ada sepuluh karung gula yang bisa kita jadikan penutup sewa minggu ini?"

Rafiq menggelengkan kepala dengan raut wajah penuh penyesalan. "Dzulfikar sudah menguncinya tadi siang. Dia membawa dua preman pasar dan mengklaim seluruh sisa barang kita sebagai denda atas keterlambatan pembayaran yang ia buat-buat sendiri. Kita ditipu bulat-bulat, Saudaraku."

Kata-kata itu menghantam dada Fardhan bagaikan pukulan godam yang telak. Udara di sekitarnya terasa mendadak hilang, menyisakan sesak yang membakar tenggorokan. Seluruh tabungan dari hasil memeras keringat di perantauan, ditambah modal kepercayaan yang dikumpulkan dari doa-doa di desa, kini menguap dalam sekejap mata akibat ketamakan orang lain.

"Ini tidak adil, Rafiq," bisik Fardhan, suaranya parau menahan serakan emosi yang membuncah. "Kita tidak pernah mengurangi timbangan, kita tidak pernah menipu pembeli, lalu mengapa pintu usaha ini ditutup dengan cara semalang ini?"

"Dunia pasar tidak pernah bersahabat bagi orang yang hanya mengandalkan kelurusan hati tanpa kecerdasan memagari diri," balas Rafiq lirih seraya menepuk bahu Fardhan. "Dzulfikar tahu kita terdesak, dan dia mengeksekusi niat jahatnya tanpa sedikit pun rasa belas kasihan."

Fardhan menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di antara kedua telapak tangan yang kasar. Bayangan senyum ayahnya dan harapan hangat ibunya di kampung halaman melintas secepat kilat, menghantam kesadarannya hingga berkeping-keping.

"Lalu apa yang harus kita katakan kepada orang-orang yang bergantung pada kita?" tanya Fardhan pada kegelapan malam.

"Menghadapi kenyataan pahit ini, atau kita akan hancur digilas rasa bersalah kita sendiri," jawab Rafiq singkat.

°˖✧✿✧˖°

Langkah kaki Fardhan terasa begitu berat ketika menyusuri gang sempit menuju rumah kontrakan petakan yang ia sewa bersama Hafiz. Setiap ketukan alas sepatunya yang aus di atas papan kayu seolah menyuarakan ketidakdayaan yang meremukkan tulang-tulangnya. Ketika pintu berderit terbuka, Hafiz Al-Manshur yang sedang menyeduh teh hangat di sudut ruangan langsung berpaling.

"Bagaimana dengan negosiasi gudang sore ini, Fardhan?" tanya Hafiz cepat, matanya memancarkan rasa cemas yang tak sanggup disembunyikan.

Fardhan menyandarkan punggungnya pada dinding tembok yang lembap, lalu perlahan meluncur turun hingga terduduk di lantai. "Selesai, Hafiz. Semuanya habis. Dzulfikar menyita seluruh sisa stok barang dan mengunci usaha kita. Modal kita musnah tanpa sisa."

Hafiz menghentikan gerakannya, cangkir seng di tangannya bergetar pelan. "Bagaimana bisa dia melakukan penyitaan sepihak? Perjanjian kita kan masih berlaku hingga akhir bulan ini!"

"Dia memanfaatkan kelalaian kita pada klausul denda di lembar perjanjian," sahut Fardhan seraya memegangi pelipisnya yang berdenyut hebat. "Aku terlalu percaya pada janji manisnya. Sekarang, Jangankan untuk membayar sewa gedung atau mengganti modal, untuk makan kita besok pagi pun aku tidak punya uang sepeser pun."

Hafiz menarik napas panjang, meletakkan cangkirnya, lalu duduk tepat di hadapan Fardhan. "Dengar aku, Fardhan. Usaha bisa hancur, uang bisa lenyap, tetapi jangan biarkan martabat dan imanmu ikut terseret runtuh dalam lubang ini."

"Tapi bagaimana aku harus menjelaskan ini pada Ayah di desa, Hafiz?" potong Fardhan dengan nada suara bersimbah keputusasaan. "Ayah mempercayakan uang tabungan organisenya untuk modal ini. Ibu menaruh doa di setiap sujudnya agar anak sulungnya berhasil. Bagaimana bisa aku pulang membawa kabar kemiskinan dan kegagalan yang memalukan seperti ini?"

"Kau tidak mencuri, Fardhan! Kau tidak menipu siapapun!" tegas Hafiz dengan suara tertahan namun menyengat. "Kau adalah korban dari keserakahan Dzulfikar. Ada perbedaan besar antara orang yang tersungkur karena kejahatan orang lain dan orang yang runtuh karena kemalasannya sendiri."

Di tengah keheningan yang mencekat, ketukan pelan terdengar di pintu depan. Hafiz bangkit membukanya, memperlihatkan Ustaz Ahmad Fathan yang berdiri anggun dengan jubah bersahaja dan wajah yang memancarkan ketenangan tiada tara.

"Assalamu’alaikum, Anak-anakku," sapa Ustaz Ahmad seraya melangkah masuk dan menatap Fardhan yang terkulai lesu. "Aku mendengar guncangan yang menimpa usahamu dari Rafiq. Bagaimana keadaan hatimu malam ini, Fardhan?"

Fardhan meraih jemari gurunya, menciumnya erat seraya menahan derai air mata. "Wa’alaikumussalam, Ustaz. Hati saya hancur. Saya merasa langit runtuh menimpa kepala saya dan Allah telah berpaling dari doa-doa saya."

Ustaz Ahmad duduk bersila di samping Fardhan, memandangnya dengan tatapan penuh kasih sayang yang mendalam. "Apakah kau mengira jalan menuju ridha Allah selalu berhiaskan karpet merah kesuksesan duniawi, Fardhan?"

"Saya hanya minta kemudahan untuk niat yang baik, Ustaz," bisik Fardhan.

"Kadang, Kemudahan terbesar yang Allah berikan adalah dengan menghancurkan sandaran duniaku, agar kau tidak menyembah usahamu sendiri," tutur Ustaz Ahmad menyejukkan.

°˖✧✿✧˖°

Malam makin menua, membiaskan kesunyian yang mencekam di ruangan kecil itu. Namun, kata-kata yang diucapkan Ustaz Ahmad bukannya langsung memadamkan api emosi di dada Fardhan, melainkan makin membakar pertentangan batin yang bergejolak hebat di dalam pikirannya.

"Sangat mudah berbicara tentang keikhlasan dan hikmah saat Ustaz tidak berdiri di posisiku sekarang!" potong Fardhan tiba-tiba, suaranya meninggi akibat tekanan beban yang tak sanggup lagi ditampungnya. "Besok pagi penagih utang akan menggedor pintu ini! Orang-orang pasar akan menunjuk mukaku sebagai pengusaha gagal! Bagaimana saya bisa memberikan teori spiritual kepada perut yang lapar dan utang yang menumpuk?"

Hafiz terkejut mendengar nada bicara Fardhan yang tidak biasa, namun Ustaz Ahmad tetap tenang, senyum tipis yang penuh pemakluman terukir di wajahnya.

"Aku tidak memintamu memberi makan penagih utang dengan teori, Fardhan," sahut Ustaz Ahmad pelan. "Aku memintamu menata ulang posisi hatimu. Kau marah karena merasa usahamu adalah milikmu, modalmu adalah kepunyaanmu, dan keberhasilan adalah hakmu. Kau lupa siapa Pemilik sebenarnya dari seluruh garis takdir ini."

Lihat selengkapnya