Di bawah naungan teriti papan yang mengelupas catnya di pinggir lapangan desa, angin sore berhembus membawa aroma tanah basah dan sisa hujan gerimis. Fardhan Ar Rimbai menyapu peluh di dahi dengan lengan bajunya yang bergulung hingga siku. Di sekelilingnya, puluhan tumpukan karung beras dan kardus minyak goreng berjajar rapi di atas terpal plastik, menunggu untuk dibagikan dalam kegiatan bakti sosial pasar murah bagi warga kurang mampu.
"Fardhan, tolong pastikan daftar penerima kupon di zona tiga sudah sesuai dengan data dari kelurahan," panggil Rafiq Al-Hakim seraya melambaikan selembar papan jepit dari balik meja pendaftaran. "Jangan sampai ada warga yang berhak justru terlewat hanya karena kekeliruan nomor urut."
Fardhan mengangkat satu karung beras lima kilogram terakhir ke atas meja distribusi lalu mengangguk mantap. "Semua lembar verifikasi sudah kuperiksa dua kali bersama Ustaz Ahmad Fathan tadi siang, Rafiq. Kita tinggal menunggu tim relawan konseling kesehatan dan bantuan pakaian layak pakai tiba."
"Mereka sudah datang di gerbang depan," sahut Hafiz Al-Manshur yang baru saja muncul dari balik lorong surau dengan menjinjing dua ember air bersih. "Rombongan dari himpunan mahasiswi muslimah kota yang dipimpin oleh Aisyah Rahmah baru saja menurunkan barang bawaan mereka dari mobil bak terbuka."
Fardhan berpaling mengarahkan pandangannya ke arah pintu gerbang kayu halaman surau. Dari balik kerumunan warga yang mulai memadati area, muncul beberapa relawan perempuan bersahaja yang membawa kotak-kotak bantuan medis dan pakaian. Di antara mereka, berjalan seorang perempuan dengan pakaian bersahaja, mengenakan jilbab lebar berwarna abu-abu gelap yang menjuntai rapi menutupi dada. Langkah kakinya tenang, membawanya berjalan mengiringi langkah Aisyah.
"Assalamu’alaikum, Mas Fardhan, Mas Rafiq," sapa Aisyah Rahmah begitu tiba di area meja panitia utama. "Maafkan kami sedikit terlambat karena jalan setapak menuju desa sempat tergenang air hujan."
"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Mbak Aisyah," jawab Fardhan seraya menundukkan pandangannya penuh hormat. "Tidak apa-apa, acara pembagian sembako baru saja akan kita buka beberapa menit lagi."
Aisyah kemudian menggeser posisinya sedikit ke samping, membiarkan perempuan di sebelahnya melangkah maju satu tapak. "Kenalkan, ini Humaira. Dia yang mengoordinasi bantuan pakaian layak pakai dan bagian pemilahan paket obat-obatan ringan untuk ibu-ibu menyusui."
Humaira menangkupkan kedua telapak tangannya di dada, memberi isyarat salam tanpa sedikit pun menyentuh kulit atau menatap berlebihan. "Assalamu’alaikum, Mas Fardhan. Terima kasih sudah mengizinkan kami bergabung dalam agenda kebaikan ini."
"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Mbak Humaira," balas Fardhan singkat seraya membalas isyarat salam tersebut dengan sopan. "Sama-sama. Bantuan dari tim panjenengan sangat berarti untuk melengkapi kegiatan sore ini."
Tidak ada kilatan emosi berlebihan di antara mereka. Tidak ada pandangan pertama yang mendebarkan dada atau tatapan mata yang terkunci lama. Pertemuan itu berlangsung sangat sederhana, layaknya dua orang asing yang kebetulan dipertemukan oleh satu agenda kerja sosial di sebuah desa terpencil. Fardhan kembali menyibukkan dirinya dengan lembar catatan barang di meja, sementara Humaira berjalan menuju sudut terpal untuk menata kardus-kardus pakaian bersama relawan lainnya.
"Tolong bantu saya mengangkat kardus obat ini ke meja kesehatan, Mas," panggil seorang relawan muda dari arah belakang.
Fardhan bergegas melangkah, meninggalkan area pendaftaran untuk melanjutkan tugasnya di tengah riuh warga yang mulai mengantre.
°˖✧✿✧˖°
Garis-garis cahaya matahari sore makin menipis di antara celah dedaunan pohon beringin tua di samping surau. Antrean warga desa yang memegang kupon sembako murah makin memanjang dengan tertib. Namun, di sudut meja pembagian bahan pangan, sedikit kegaduhan kecil mendadak muncul ketika seorang nenek tua berjalan terbungkuk-bungkuk sambil memegangi kupon kertasnya yang telah lusuh dan basah terkena sapuan air hujan.
"Maafkan saya, Nak," bisik Mbah Sukma, perempuan tua bergaris wajah dalam itu dengan suara gemetar. "Kupon saya basah karena tersiram air di jalan tadi. Apakah saya masih bisa mendapatkan beras murah untuk cucu saya di rumah?"
Rafiq yang berada di meja verifikasi mengernyitkan dahi seraya memeriksa lembaran kertas basah yang tintanya telah melarut menjadi bercak hitam tak terbaca. "Waduh, Mbah... nomor seri dan stempel kelurahannya sudah tidak kelihatan sama sekali ini. Kalau sesuai aturan panitia, kupon yang rusak atau tidak terbaca tidak bisa ditukarkan."
Fardhan yang mendengar percakapan itu segera mendekat dari samping meja. "Coba saya periksa dulu, Rafiq. Mbah Sukma ini warga dari RT empat di ujung selokan desa. Saya kenal betul dengan rumahnya."
"Tapi aturan tetap aturan, Fardhan," sela seorang panitia lain dari kelurahan dengan nada tegas. "Kalau kita meloloskan kupon rusak tanpa stempel, nanti warga lain akan ikut-ikutan membawa kertas basah dan sistem pembukuan kita bisa kacau."
Di saat perdebatan kecil itu berlangsung, Humaira yang baru saja selesai membagikan Pakaian layak pakai melangkah mendekati meja pembagian sembako. Ia membawa sebuah buku catatan tebal bersampul batik yang selalu ia pegang sejak awal acara.
"Assalamu’alaikum, Maaf menyela," ujar Humaira dengan suara yang tenang namun memancarkan ketegasan yang halus. "Apakah ini Mbah Sukma dari lingkungan RT empat?"
"Benar, Nak... saya Sukma..." jawab nenek tua itu dengan mata berkaca-kaca menahan rasa cemas.
Humaira membuka halaman tengah buku catatannya, lalu mengarahkan telunjuknya pada baris tabel yang tertulis rapi dengan tinta hitam. "Di data cadangan tim relawan kami, nama Mbah Sukma sudah terdaftar secara mandiri sejak kemarin pagi. Nomor serinya nol empat puluh tujuh, terdata sebagai penerima prioritas lansia tunggal."
Fardhan menatap lembar catatan di tangan Humaira dengan sedikit terkejut. "Mbak Humaira mencatat ulang seluruh data warga lansia secara terpisah?"
Humaira mengangguk perlahan, matanya menatap lurus ke arah papan jepit Fardhan tanpa kesan menggurui. "Saya belajar dari pengalaman bakti sosial di tempat lain, Mas Fardhan. Kertas kupon warga sepuh sering kali hilang atau rusak di perjalanan. Catatan pembanding ini sengaja disiapkan agar hak orang-orang tua seperti Mbah Sukma tidak hilang hanya karena selembar kertas yang basah."
Fardhan terpaku sejenak, meresapi kecermatan dan kepekaan cara berpikir perempuan di hadapannya. Ia berdehem pelan untuk menutupi rasa kagumnya yang terbit secara alami. "Penanganan yang sangat sigap, Mbak Humaira. Rafiq, tolong cocokkan nomor seri nol empat puluh tujuh di buku induk kita."
Rafiq memeriksa lembarannya cepat-cepat. "Cocok! Angkanya persis sama. Beras dan minyak goreng Mbah Sukma bisa langsung diserahkan sekarang."
Mbah Sukma mengusap air matanya seraya mengucapkan terima kasih berulang kali kepada panitia. Humaira tersenyum tipis, membantu nenek tua itu memegangi kantong berasnya dengan kedua tangannya sendiri hingga sampai ke tepi jalan. Fardhan memperhatikan interaksi singkat tersebut dari kejauhan, menyadari bahwa di balik kesederhanaan penampilan Humaira, tersimpan kecerdasan praktis dan empati yang sangat dalam terhadap sesama.
"Seorang muslimah yang tidak hanya cerdas di atas kertas, tapi juga peka di lapangan," bisik Ustaz Ahmad Fathan yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Fardhan seraya tersenyum mengamati hal yang sama.
"Iya, Ustaz," sahut Fardhan singkat dan datar. "Cara kerjanya sangat teratur."
°˖✧✿✧˖°
Langit sore meredup menjadi warna ungu keemasan ketika seluruh paket sembako dan bantuan pakaian selesai dibagikan. Lapangan desa yang semula bising oleh riuh warga kini kembali lengang. Para relawan mulai membersihkan sisa-sisa sampah plastik dan mengumpulkan kembali meja-meja kayu ke dalam teras surau.
Fardhan duduk di atas undakan semen surau, mengeringkan peluh di lehernya dengan selembar handuk kecil. Di tangannya, sebotol air mineral terasa dingin menyentuh telapak tangannya yang kaku. Dari arah samping, langkah kaki yang tenang terdengar mendekat. Humaira berjalan membawa dua buah cangkir kaleng berisi teh hangat, meletakkannya di atas meja kayu di dekat Fardhan dengan jarak yang sangat terjaga.