
Langkah Kecil Menuju Kesuksesan
---o0o---
Fardhan mulai memperoleh hasil dari kerja kerasnya.
Untuk pertama kalinya ia menyadari: mimpi itu mulai mendekat.
Derit engsel pintu seng berkarat memecah keheningan fajar di sudut gang sempit Cibaduyut. Udara dingin sisa hujan semalam merayap masuk lewat kisi ventilasi, menusuk kulit Fardhan yang terbalut kaus katun pudar. Di atas meja kerja bertabur serbuk gergaji, secangkir kopi hitam tubruk telah mendingin tanpa sempat tersentuh sejak pukul empat pagi.
Kelopak matanya yang membengkak menatap layar laptop tua dengan engsel terikat lakban hitam. Kipas mesin menderu payah, menemani tiga malam tanpa tidur demi menuntaskan purwarupa meja modular berbahan limbah jati belanda. Tepat saat fajar merekah, denting notifikasi berdering pendek di kotak masuk surelnya.
Fardhan menggerakkan kursor dengan jemari kaku. Nama pengirim di baris atas membuat napasnya tertahan seketika: Sekretariat Dewan Kurasi Megatara Design Expo.
“Selamat pagi, Saudara Fardhan Ardiansyah,” gumamnya membaca baris pembuka dengan suara parau yang bergetar hebat. “Berdasarkan evaluasi teknis tahap awal Karsa Studio, dewan kurator memutuskan purwarupa karya Saudara berhak melaju ke babak verifikasi fisik langsung.”
Jantungnya berdegup kencang memompa darah hangat ke sekujur tubuhnya. Derap langkah kaki tergesa terdengar dari pintu depan. Dika melangkah masuk seraya menyeka tetes gerimis di jaket parasitnya dengan wajah pucat sarat kecemasan.
“Dhan, tolong jangan bilang kamu belum tidur lagi semalaman,” tegur Dika seraya melemparkan tas selempangnya ke atas bangku kayu. “Pemilik bengkel sebelah baru saja mencegatku di warung kopi depan gang. Katanya kalau kita menunggak uang sewa dua minggu lagi, rantai gembok bakal dipasang di pintu ini.”
Fardhan tidak menoleh, matanya masih terpaku pada layar kaca yang berpendar temaram.
“Dika, cepat ke sini sebentar,” panggil Fardhan dengan nada bergetar pelan.
“Ada apa lagi? Surat denda listrik PLN jatuh tempo?” dengus Dika seraya melangkah mendekat dengan langkah gontai. “Sudah kubilang kemarin, kita jual saja mesin amplas cadangan itu untuk bayar sewa—”
“Baca ini, Dik. Tolong baca keras-keras dengan suaramu sendiri sekarang juga.”
Dika membungkukkan badannya di samping monitor. Matanya menyipit membaca lambang garuda perak pada surat elektronik itu. Seketika napas Dika tersentak di tenggorokan, pupil matanya melebar tak percaya.
“Megatara? Maksudmu konsorsium ritel interior terbesar di Asia Tenggara itu?” seru Dika histeris, suaranya melengking menembus kesunyian fajar. “Mereka meloloskan purwarupa kita dari ribuan studio di seluruh negeri?”
“Coba cubit lenganku dulu, Dik,” bisik Fardhan lirih, kedua matanya berkaca-kaca menatap sahabatnya. “Aku tidak sedang berhalusinasi karena lapar dan kurang tidur, kan?”
Dika mencengkeram kedua pundak Fardhan erat-erat, lalu mengguncang badannya kuat-kuat hingga cangkir kopi bergetar.
“Kamu bangun dan kamu sadar penuh, Fardhan! Ini sungguhan karya kita terpilih!” teriak Dika tertawa lepas, sebelum mendadak tawanya membeku saat membaca kalimat penutup surat tersebut. “Tunggu sebentar... Dhan, baca batas waktu pengujian ini.”
Fardhan mendekatkan pandangannya ke paragraf paling bawah.
“Verifikasi fisik purwarupa dan kalkulasi kelayakan produksi massal wajib dipresentasikan langsung di hadapan Dewan Direksi Megatara hari ini pukul dua siang,” baca Fardhan pelan, setiap kata terasa menghantam ulu hatinya. “Bila terlambat tiga puluh menit saja, hak kurasi dialihkan otomatis kepada peserta cadangan.”
Dika melirik jam dinding tua bermotif kayu di dinding bata. Waktu telah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.
“Dhan, pasak meja modular kita belum diamplas lapis terakhir dan poros pengunci masih di bengkel Pak Sanusi!” jerit Dika panik seraya memegangi kepalanya. “Bagaimana kita bisa menembus macet menuju Menara Megatara sebelum jam dua siang?”
Fardhan menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma serbuk gergaji yang telah menjadi napas hidupnya selama tiga tahun penuh penderitaan.
“Tiga tahun kita makan mi instan dan tidur beralas kardus di bengkel ini bukan untuk menyerah di depan pintu gerbang, Dika,” tegas Fardhan, sorot matanya tajam menembus keraguan sahabatnya. “Siapkan amplas halus dan kain lap pembersih. Telepon Pak Sanusi sekarang juga. Jangan biarkan rasa takut membunuh kesempatan emas ini!”
“Baik, Dhan! Aku siapkan pernisnya sekarang!” sahut Dika mantap.
°˖✧✿✧˖°
Keputusan telah dijatuhkan seperti palu yang menghantam landasan besi. Fardhan tidak memberi ruang sedikit pun bagi keraguan untuk merayap kembali ke benaknya. Di atas meja kerja, ia membentangkan kain beludru hitam guna melindungi permukaan kayu dari debu.
“Dhan, pesanan rak gantung murah dari toko Bu Endang di pasar baru saja masuk,” ujar Dika seraya menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan tanda jadi dua ratus ribu rupiah. “Kalau kita batalkan hari ini demi mengejar Megatara, kita kehilangan uang makan minggu depan.”
Fardhan menatap sahabatnya lekat-lekat, lalu menggeleng pelan namun tanpa ragu.
“Kembalikan uangnya sekarang juga, Dik,” titah Fardhan tegas. “Kalau kita terus bertahan hidup hanya dengan pesanan receh pengganjal perut, kita tidak akan pernah punya waktu untuk lompatan besar ini. Kita pertaruhkan seluruh tenaga untuk presentasi jam dua siang nanti.”
Dika mengangguk patuh dan membatalkan pesanan itu di ponselnya. Tepat saat itu, semerbak aroma nasi uduk bertabur bawang goreng menyeruak dari pintu. Arini melangkah masuk seraya menenteng rantang makanan hangat.
“Kalian berdua pasti belum makan sejak kemarin sore,” sapa Arini seraya menaruh rantang di atas bangku bersih. “Aku bawakan lauk tempe orek dan telur balado buatan Ibu.”
“Arini, kamu benar-benar penyelamat hidup kami,” sambut Dika seraya membuka tutup rantang dengan mata berbinar lapar.
“Ada apa sebenarnya? Mengapa wajah kalian tegang sekali?” tanya Arini cermat menatap raut muka kakaknya.
“Kita lolos kurasi fisik Megatara Design Expo, Rin,” jawab Fardhan seraya mengelap peluh di keningnya. “Tapi presentasinya jam dua siang ini di Menara Megatara.”
Sendok di tangan Arini terhenti di udara. Raut wajahnya berubah waspada.
“Mas, kamu tahu siapa yang juga bersaing di kategori perabot arsitektural?” bisik Arini lirih. “Kantor konsultan tempatku magang kemarin membicarakan Vandana Group. Mereka menyiapkan tim desainer lulusan Eropa dan dana promosi miliaran rupiah untuk menyapu bersih kontrak tahun ini.”
Dika tersedak mendengar nama raksasa itu. “Vandana Group? Pabrik mereka lima hektar di Cikarang! Bagaimana bengkel kecil kita bisa melawan mereka di depan dewan kurasi?”
Fardhan menyentuh sambungan kayu mahoni pada kaki meja ciptaannya dengan tatapan membaja.
“Vandana punya modal raksasa, tapi karya mereka dicetak mesin pabrik yang dingin tanpa jiwa,” tandas Fardhan menggetarkan ruangan. “Karya kita menyatukan kearifan pasak Nusantara dengan efisiensi modular masa depan. Kita tidak akan lari dari pertarungan ini. Bungkus purwarupanya, Dika, kita berangkat sekarang juga!”
°˖✧✿✧˖°
Bencana pertama menghantam tanpa ampun tepat pukul sepuluh pagi ketika hujan lebat di luar mengguncang atap seng bengkel. Ponsel Fardhan yang tergeletak di atas mesin serut bergetar liar. Nama Pak Sanusi, pemilik bengkel bubut rekanan mereka, menyala terang di layar.
Fardhan segera menekan tombol hijau dan menyalakan pengeras suara.