SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

REZEKI TAK TERDUGA

Rezeki dari Jalan yang Tak Terduga

---o0o---

Aroma kopi tubruk yang pekat menyeruak di antara tumpukan lembaran berkas dan kuitansi di meja kerja kayu yang penuh goresan. Di sudut ruangan kantor kontrakan sempit itu, Fardhan Ar Rimbai memijat pelipisnya yang berdenyut. Suara deru mesin cetak tua bersahut-sahutan dengan riuh rendah jalanan pasar grosir di luar window kayu yang terbuka separuh.

"Kertas tagihan sewa armada truk untuk minggu depan sudah menumpuk di meja saya, Fardhan," ujar Rafiq Al-Hakim seraya meletakkan selembar map jingga yang lusuh. Ia menarik kursi kayu lalu duduk bersandar dengan napas berhembus berat. "Margin keuntungan dari pengiriman bahan pangan skala kecil hanya cukup untuk menutup biaya bahan bakar dan uang makan para sopir. Jika kita tidak mendapatkan klien skala sedang dalam dua minggu ini, kas operasional kita akan memerah."

Fardhan membetulkan posisi duduknya, menatap lurus lembaran kertas di hadapannya sebelum menjawab. "Kita tidak boleh memotong standar kualitas layanan atau mengurangi hak harian para pekerja, Rafiq. Apapun yang terjadi, kejujuran dalam menimbang berat muatan dan ketepatan waktu pengiriman adalah satu-satunya modal yang membuat usaha kecil kita ini dipercaya orang."

"Aku paham betul prinsipmu, Fardhan," balurnya cepat, menyilangkan kedua tangan di dada. "Tetapi prinsip tanpa arus kas yang sehat akan membuat kita gulung tikar untuk kedua kalinya. Perusahaan distributor besar di kawasan barat mulai menekan harga, dan beberapa pedagang pasar memilih beralih ke jasa logistik milik jaringan Dzulfikar karena iming-iming potongan harga di awal."

Fardhan menarik napas dalam-dalam, merasakan sesak yang perlahan merayap di dadanya. "Apakah Dzulfikar kembali menggunakan pola pemotongan harga secara tidak sehat itu?"

"Tentu saja," sahut Rafiq dengan nada getir. "Dia tahu betul kita sedang merangkak membangun kembali sisa-sisa kepercayaan yang pernah hancur. Dia sengaja menutup celah agar pedagang-pedagang menengah tidak melirik jasa kita."

Di tengah suasana tegang yang menyelimuti ruangan, pintu kayu kontrakan berderit terbuka. Hafiz Al-Manshur melangkah masuk seraya menyapu keringat di lehernya dengan handuk kecil. "Ada berita dari pelabuhan, Fardhan. Pihak pengelola gudang pendingin membatalkan kontrak sepihak untuk pengangkutan dua ton ikan beku esok hari."

"Membatalkan?" potong Fardhan seraya bangkit dari kursinya. "Atas alasan apa? Kita sudah menandatangani kesepakatan awal dan menyiapkan dua unit mobil boks sejak kemarin sore!"

"Mereka berdalih ada perubahan jadwal mendadak dari pemilik komoditas utama," jawab Hafiz dengan raut wajah muram. "Tetapi di lapangan, orang gudang membisikkan padaku bahwa anak buah Dzulfikar baru saja mendatangi kantor manajer operasional mereka tadi pagi."

Fardhan mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas meja kayu. Angin sore yang membawa debu kering berhembus melalui celah jendela, membiaskan bayangan kelesuan di dalam kantor kecil tersebut.

"Ini bukan sekadar persaingan bisnis biasa, Fardhan," tegas Rafiq dengan suara rendah dan penuh penekanan. "Ini adalah upaya sistematis untuk membunuh langkah kita sebelum usaha baru ini sempat mengepakkan sayap."

Fardhan menundukkan kepala, memandang tumpukan berkas tagihan yang seolah siap menggulung seluruh asa yang baru saja ia rakit kembali dari puing-puing kegagalan.

°˖✧✿✧˖°

Langit malam memayungi kota dengan keheningan yang dingin. Cahaya lampu neon pasar grosir berpendar redup di atas genangan air hujan di pelataran parkir. Fardhan berjalan menyusuri lorong pasar yang mulai sepi, melangkah bersama Rafiq menuju sebuah kedai makan sederhana di sudut persimpangan jalan.

"Kau terlalu banyak diam sejak tadi sore, Fardhan," ucap Rafiq seraya merapatkan jaket kainnya yang kusam. "Apakah kau memikirkan ucapan orang gudang pelabuhan itu?"

Fardhan menghentikan langkahnya sejenak, memandang jajaran ruko yang pintunya telah terkunci rapat oleh rantai besi. "Aku tidak meratapi pembatalan kontrak itu, Rafiq. Yang sedang kupikirkan adalah bagaimana caranya agar kita tidak terus-menerus dijebak dalam pola permainan yang dibuat oleh Dzulfikar. Kita harus keluar dari arena persaingan harga yang tidak sehat ini."

"Tapi bagaimana caranya?" tanya Rafiq seraya mengangkat kedua tangannya. "Skala armada kita terbatas, modal kita sangat pas-pasan, dan nama baik kita baru saja pulih dari terpaan isu wanprestasi kemarin. Klien skala besar mana yang mau mempercayakan pengiriman mereka pada kita?"

Sebelum Fardhan sempat menjawab, suara klakson mobil menyapa dari pinggir jalan. Sebuah mobil minibus hitam berhenti perlahan di dekat mereka. Pintu kaca terbuka, memperlihatkan wajah Kiai Zulfikar Al-Faruqi yang teduh di balik sorban putihnya.

"Assalamu’alaikum, Fardhan, Rafiq," sapa Kiai Zulfikar dengan suara yang dalam dan lembut.

"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Kiai," sahut Fardhan dan Rafiq seraya membungkuk penuh hormat.

"Apakah kalian baru saja selesai mengurus pekerjaan di pasar?" tanya Kiai Zulfikar seraya mengisyaratkan mereka untuk mendekat.

"Benar, Kiai," jawab Fardhan jujur. "Kami baru saja menyelesaikan penataan jadwal pengiriman barang untuk besok pagi."

Kiai Zulfikar tersenyum tipis, matanya menatap tajam namun penuh kasih sayang ke arah Fardhan. "Naiklah sebentar, Ada seseorang di dalam mobil ini yang ingin berkenalan denganmu."

Fardhan dan Rafiq saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Di kursi tengah, duduk seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang mengenakan kemeja batik bernuansa elegan. Wajahnya memancarkan ketegasan seorang pengusaha yang terbiasa memimpin organisasi besar.

"Fardhan, ini adalah Bapak Ir. H. Irfan Firmansyah," tutur Kiai Zulfikar memperkenalkan sosok di sebelahnya. "Beliau adalah pimpinan utama dari Konsorsium Logistik Nusantara yang sedang menangani proyek pengadaan dan distribusi bahan pangan untuk bantuan kemanusiaan serta pasokan rantai dingin antar-provinsi."

Pak Irfan mengulurkan tangannya dengan senyum ramah. "Assalamu’alaikum, Mas Fardhan. Kiai Zulfikar dan Pak Khalid Al-Basri telah banyak menceritakan tentang integritas dan kegigihanmu di pasar ini."

"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Pak Irfan," jawab Fardhan seraya menjabat tangan itu penuh kesopanan. "Suatu kehormatan besar bisa bertemu dengan Bapak."

"Saya tidak butuh basa-basi yang terlalu panjang, Mas Fardhan," ujar Pak Irfan langsung pada inti pembicaraan. "Konsorsium kami sedang mencari mitra lokal yang tidak hanya memiliki armada, tetapi memiliki integritas yang teruji untuk mengelola jalur distribusi logistik darat bernilai miliaran rupiah."

Dada Fardhan berdesir hebat mendengar angka yang baru saja disebutkan, sementara Rafiq di sebelahnya tertahan napas.

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya