SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

USAHA KECIL FARDHAN

Usaha Kecil Fardhan

---o0o---

Matahari pagi menyusup dari balik celah tirai tipis di balik jendela kamar sewaan sederhana yang disewa Fardhan Ar Rimbai di sudut pinggiran Jakarta. Di atas meja kayu lapuk yang diperbaiki sendiri legok jalannya, bertumpuk lembaran kertas kalkulasi harga, draf kerja sama produsen, dan buku catatan keuangan bersampul cokelat. Setelah melewati berbagai pengalaman berharga di dunia korporasi, kini Fardhan mengambil keputusan terbesar dalam perjalanan hidupnya. Ia mantap mendirikan usaha mandiri di bidang distribusi bahan pokok skala menengah, mengusung nama Rimbai Niaga Mandiri.

"Langkah awal ini mungkin tampak sangat kecil," gumam Fardhan seraya merapikan tumpukan dokumen transaksi pertamanya.

Hafiz Al-Manshur melangkah masuk ke dalam kamar seraya menyodorkan secangkir teh hangat yang masih berasap tipis. Ia duduk bersila di samping Fardhan dengan binar mata penuh antusias.

"Berapa sisa tabunganmu yang tersisa setelah membayar sewa gudang kecil di Pasar Induk, Fardhan?" tanya Hafiz seraya menyerahkan cangkir tersebut.

Fardhan tersenyum tipis, menyesap teh hangatnya pelan. "Hampir semuanya sudah terpakai untuk uang muka sewa gudang enam bulan dan jaminan pembelian lima ton beras pertama dari petani lokal. Sisa uang tunai di tabunganku sekarang tinggal tiga juta rupiah."

Hafiz terperanjat pelan. "Hanya tiga juta rupiah? Apakah itu tidak terlalu berisiko, Fardhan? Di perusahaan Pak Rafiq dahulu, kamu mengelola anggaran proyek hingga puluhan miliar rupiah!"

"Mengelola uang puluhan miliar milik orang lain dan mengelola modal sendiri senilai puluhan juta memiliki ruh yang berbeda, Hafiz," sahut Fardhan lembut namun bernada sangat mantap. "Modal materi kita memang belum besar. Namun, pengalaman, kejujuran, dan jaringan kepercayaan yang kita kumpulkan selama bertahun-tahun adalah modal terbesar yang tidak bisa dinilai dengan angka."

"Kamu benar-benar yakin ingin memulai dari bawah lagi?" pancing Hafiz untuk menguji keteguhan sahabatnya.

"Sangat yakin," tegas Fardhan seraya menatap lurus ke depan. "Usaha ini bukan sekadar tentang mengejar keuntungan finansial pribadi. Aku ingin membangun rantai perdagangan yang adil, yang menghargai jerih payah petani desa sekaligus memberi harga yang terjangkau bagi rakyat kecil di kota. Bismillah, jika niat kita jujur, Allah pasti membukakan jalan."

Hafiz menepuk bahu Fardhan dengan kehangatan luar biasa. "Kalau begitu, izinkan aku menjadi staf pertamamu tanpa gaji bulanan sampai usaha ini benar-benar berdiri kokoh, Saudaraku!"

"Terima kasih, Hafiz," balas Fardhan dengan mata berbinar haru. "Kita akan berjuang bersama-sama dari titik ini."

°˖✧✿✧˖°

Pagi berikutnya, Fardhan dan Hafiz melangkah menuju gudang kecil berukuran empat kali enam meter di sudut Pasar Induk. Bangunan tua bercat mengelupas itu berdebu dan sepi. Di sinilah seluruh fondasi awal Rimbai Niaga Mandiri mulai dirajut.

Dengan sigap, Fardhan menyingsingkan lengan kemeja sederhananya, mengambil sapu dan kain lap untuk membersihkan seluruh ruangan. Tidak ada lagi fasilitas kantor mewah ber-AC atau sekretaris pribadi yang melayaninya. Fardhan mengerjakan segalanya sendiri dengan senyuman yang sangat lepas.

"Fardhan, truk pengangkut beras lima ton pertama dari kelompok tani daerah Jawa Barat sudah tiba di depan lorong pasar!" seru Hafiz dari luar gudang.

Fardhan bergegas keluar. Seorang sopir truk tua bernama Pak Kusno turun dari kabin seraya menyapu keringat di dahinya.

"Selamat pagi, Pak Kusno," sapa Fardhan hangat seraya mengulurkan tangan.

Pak Kusno memandangi Fardhan dengan cermat. "Mas Fardhan ya? Saya sempat kaget waktu ketua kelompok tani di desa bilang kalau pemesan beras lima ton ini adalah mantan analis di gedung jangkung Jakarta."

"Benar, Pak Kusno," jawab Fardhan seraya tersenyum ramah. "Saya Fardhan. Mari kita bongkar muatannya bersama-sama."

"Eh, Mas Fardhan tidak usah ikut mengangkut karung," celetuk Pak Kusno sungkan. "Mas Fardhan kan pimpinan usahanya."

"Di sini tidak ada pimpinan dan bawahan dalam urusan kerja keras, Pak Kusno," pangkas Fardhan tegas seraya mengangkat satu karung beras lima puluh kilogram ke pundaknya. "Kita semua adalah kawan sekerja yang mencari rezeki halal."

Pak Kusno dan para kuli panggul pasar terperanjat melihat bagaimana seorang pemuda terdidik seperti Fardhan tanpa ragu ikut memanggul karung-karung beras yang berat di bawah terik matahari pagi. Pengalaman Fardhan di lapangan membuat cara kerjanya sangat efisien dan rapi.

Di tempat lain, di surau desa yang sejuk, Humaira baru saja menyapu halaman depan ketika pos keliling berhenti di depan gerbang. Petugas pos menyerahkan selembar surat berkala dan buletin kabar perantau yang dikirim oleh lembaga swadaya masyarakat desa di Jakarta.

Humaira menerima surat tersebut dengan sopan. Saat merapikan lembaran buletin di meja belajar surau, pandangannya tertuju pada satu kolom cerita inspirasi pemuda perantau. Di sana terpampang foto Fardhan yang sedang tersenyum bersahaja di depan gudang beras kecilnya.

Tulisan di bawah foto itu memuat wawancara singkat mengenai perjuangan Fardhan melepas kemewahan jabatan korporasi demi mendirikan usaha perdagangan independen yang membela hak petani kecil.

Humaira terpaku. Jarinya mengusap lembut cetakan nama Fardhan di atas kertas tersebut.

"Fardhan..." bisik Humaira dengan dada berdebar halus. "Kamu memilih jalan yang begitu sunyi dan penuh perjuangan demi menjaga prinsip keadilanmu..."

°˖✧✿✧˖°

Kabar mengenai perjuangan Fardhan menyebar pelan di antara lingkaran keluarga dan kerabat di desa. Di dalam ruangan keputrian surau, Humaira duduk mendampingi Aisyah Rahmah seraya membaca ulang lembaran buletin tersebut.

Aisyah memperhatikan wajah Humaira yang tampak begitu tekun menyimak cerita perjalanan Fardhan.

"Humaira, kamu sudah membaca seluruh artikel perjuangan Fardhan di kota?" tanya Aisyah seraya menyentuh lengan sahabatnya.

Humaira menundukkan pandangannya, merapikan letak jilbabnya yang rapi. "Sudah, Aisyah. Aku baru menyadari betapa berat ujian yang dilaluinya di perantauan."

"Dia meninggalkan segala kenyamanan fasilitas gaji besar dan posisi terpandang demi memulai usaha kecil dari nol," tutur Aisyah dengan raut kagum. "Banyak pemuda di luar sana mengejar harta dan takhta, tapi Fardhan justru mengejar keberkahan rezeki dengan keringatnya sendiri."

"Pilihan hidupnya mencerminkan kebersihan hatinya," jawab Humaira pelan, suaranya sarat akan rasa hormat yang amat mendalam. "Selama ini aku hanya mendengar cerita keberhasilannya di kantor besar. Tapi membaca bagaimana ia memanggul karung beras sendiri, menolak kompromi harga yang merugikan petani, aku paham betul bahwa Fardhan bukan pemuda biasa."

"Apakah hatimu makin yakin padanya, Humaira?" goda Aisyah lembut seraya tersenyum tipis.

Humaira menatap kaligrafi Masya Allah, la quwwata illa billah di dinding kayu surau. "Keagungan hatinya dalam memegang janji kepada Allah adalah hal yang paling kuhormati. Aku selalu berdoa agar Allah melindunginya di setiap langkah usahanya."

Lihat selengkapnya