Pelanggan Pertama
---o0o---
Lampu neon di langit-langit kantor logistik yang baru disewa itu berkedip-kedip, membiaskan cahaya temaram di atas meja kayu yang bersih dari hiasan. Aroma cat dinding yang belum sepenuhnya kering bersaing ketat dengan wangi kopi hitam yang dihirup Rafiq Al-Hakim di sudut ruangan. Di luar, deru kendaraan malam mulai mereda, meninggalkan denyut pasar grosir yang perlahan melambat.
Fardhan Ar Rimbai membetulkan letak buku catatan tebal bersampul hitam di hadapannya. Jemarinya menelusuri garis-garis halaman yang masih kosong, menanti catatan transaksi pertama yang belum juga kunjung hadir sejak pintu kantor kecil itu dibuka resmi tiga hari lalu.
"Jalur telepon operasional kita masih sangat hening, Fardhan," ujar Rafiq seraya menurunkan cangkir sengnya ke atas meja kerja. "Brosur jasa pengiriman barang yang dibagikan Hafiz di lorong grosir beras tadi pagi sepertinya belum memancing reaksi para pedagang besar."
Fardhan mendongak, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan raut cemas di wajah sahabatnya. "Sabar, Rafiq. Kepercayaan di kawasan pasar ini tidak dibangun lewat selebaran kertas dalam semalam. Mereka masih mengamati apakah kita benar-benar bertahan atau hanya sekadar tumpangan lewat."
"Tapi biaya sewa dua armada pikap bekas itu terus berjalan harian, Fardhan," sela Hafiz Al-Manshur yang baru saja masuk seraya menyapu keringat di dahi dengan ujung lengan bajunya. "Jika tidak ada satu pun barang yang kita angkut hingga esok sore, kas kecil kita akan tergerus untuk membayar uang jalan sopir yang sudah bersiap sejak subuh."
"Apakah ada respon dari toko grosir bahan pokok di blok timur, Hafiz?" tanya Fardhan tenang.
Hafiz menggelengkan kepala dengan desah napas berat. "Pemilik toko di sana masih ragu. Dzulfikar menyebarkan kabar angin bahwa jasa pengiriman kita tidak memiliki jaminan ganti rugi jika barang rusak di jalan. Pedagang-pedagang itu memilih bertahan dengan kurir lama walau harganya jauh lebih mahal."
"Hembusan fitnah itu memang sengaja dirancang untuk mematikan langkah awal kita," sahut Rafiq dengan nada geram. "Orang-orang takut mengambil risiko sekecil apa pun jika menyangkut barang dagangan mereka."
Fardhan merapatkan kedua telapak tangannya di atas meja, menatap kedua sahabatnya dengan pandangan mata yang mantap. "Biar bagaimanapun, jalan ini sudah kita pilih. Kita tidak boleh goyah hanya karena keraguan orang lain di hari ketiga. Terus perbaiki sistem pencatatan kita, pastikan armada selalu siap, dan biarkan keikhlasan kita bekerja."
Tiba-tiba, derit pintu kayu di bagian depan memecah keheningan malam yang sunyi.
°˖✧✿✧˖°
Sesosok pria paruh baya dengan pakaian lusuh berkeringat dan celana kain yang tergulung hingga betis berdiri canggung di ambang pintu. Di tangannya, pria itu memegang selembar brosur kertas lusuh yang dilipat empat. Matanya beredar menatap ruangan kantor yang bersahaja sebelum akhirnya tertuju pada Fardhan.
"Assalamu’alaikum... Maaf, Apakah benar ini tempat jasa pengangkutan barang yang tertulis di kertas ini?" sapa pria tua itu dengan suara pelan dan agak bergetar.
Fardhan segera bangkit dari kursinya, melangkah maju dengan senyum hangat melingkupi wajahnya. "Wa’alaikumussalam warahmatullah. Benar, Pak. Mari masuk, silakan duduk dulu."
Pria tua itu mengusap telapak tangannya yang kotor ke celananya sebelum menjabat tangan Fardhan dengan ragu. "Nama saya Pak Parto, Mas. Saya punya usaha pembuatan tempe kecil-kecilan di pinggir lorong pasar."
"Saya Fardhan, Pak Parto," jawab Fardhan seraya menarikkan kursi kayu untuk tamu pertamanya itu. "Ada yang bisa kami bantu untuk pengangkutan barang usaha Bapak?"
Pak Parto duduk di ujung kursi, memegang brosur kertas itu erat-erat. "Begini, Mas... Saya butuh bantuan mengangkut lima karung kedelai dari gudang utama di ujung barat pasar menuju tempat pemrosesan saya di lorong belakang. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi tubuh saya sudah tidak sanggup lagi memikulnya satu per satu."
Rafiq yang berdiri di dekat meja saling berpandangan dengan Hafiz. Nilai muatan lima karung kedelai adalah pesanan yang teramat kecil, bahkan tidak sebanding dengan biaya operasional menyalakan mesin mobil pikap untuk satu kali perjalanan pendek.
"Berapa biaya yang harus saya bayar untuk lima karung itu, Mas?" tanya Pak Parto dengan nada cemas, tangannya merogoh saku kemejanya yang kusam. "Saya hanya punya uang tiga puluh ribu rupiah malam ini. Apakah jumlah itu cukup untuk memakai jasa armada Mas Fardhan?"
Hafiz hendak menyela untuk menjelaskan batas minimum muatan, namun Fardhan mengangkat tangannya pelan, menghentikan niat sahabatnya itu sebelum sempat terucap.
Fardhan berlutut kecil di samping kursi Pak Parto, menatap mata pria tua itu dengan ketulusan yang mendalam. "Tiga puluh ribu rupiah itu sudah lebih dari cukup, Pak Parto. Kami akan antarkan lima karung kedelai Bapak sampai ke dalam tempat pemrosesan dengan selamat dan tepat waktu."
Mata Pak Parto mendadak berbinar basah oleh rasa haru yang tak terhingga. "Beneran, Mas? Terima kasih banyak... Dari tadi sore saya ditolak oleh kurir troli pasar karena muatan saya dianggap terlalu sedikit dan uang saya tidak cukup."
°˖✧✿✧˖°
Fardhan segera menginstruksikan Hafiz untuk menyiapkan mobil pikap kecil di halaman samping kantor. Ia sendiri turun tangan mengambil jaket lapangan dan sarung tangan kain dari rak penyimpanan barang.