SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

MALAM PENUH PERHITUNGAN

Malam-Malam Penuh Perhitungan

---o0o---

Lampu neon di dalam kantor kecil gudang Rimbai Niaga Mandiri berkelip redup, memancarkan cahaya putih keperakan yang membentang di atas meja kayu tebal. Jam dinding melingkar berbahan plastik kusam menunjuk tepat ke angka satu dini hari. Suasana Pasar Induk yang biasanya bising oleh suara klakson truk dan teriakan para kuli panggul kini telah lengang, menyisakan derap langkah tikus-tikus malam dan hembusan angin dingin yang menembus celah ventilasi.

Fardhan Ar Rimbai duduk tegak di kursinya. Pandangan matanya menatap tajam ke arah layar laptop yang menyala terang, memantulkan angka-angka pembukuan keuangan bulanan yang rumit. Di samping laptopnya, tumpukan nota pembelian, faktur penagihan vendor, dan kuitansi operasional menggunung tinggi.

Fardhan mengusap wajahnya yang pucat seraya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut lambat.

"Mengapa hitungan kas operasional minggu ini masih belum seimbang juga?" bisik Fardhan pada keheningan ruangan.

Hafiz Al-Manshur, yang baru saja selesai mengecek gembok pintu utama gudang, melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia membawa dua cangkir kopi hitam panas yang uapnya masih membumbung tipis.

"Fardhan, kamu belum menyentuh makanan malammu dari tadi," ujar Hafiz seraya meletakkan cangkir kopi di tepi meja. "Ini sudah jam satu malam. Tubuhmu butuh istirahat."

Fardhan menoleh pelan, menyunggingkan senyum tipis yang dipenuhi rasa lelah. "Aku tidak bisa tidur tenang, Hafiz. Margin keuntungan kita di bulan ini tergerus oleh lonjakan biaya bahan bakar dan keterlambatan pembayaran dari dua koperasi mitra."

"Apakah selisihnya sangat besar?" tanya Hafiz seraya menyandarkan tubuhnya di tepi meja.

"Cukup besar untuk mengancam gaji lima karyawan gudang minggu depan," sahut Fardhan seraya menggeser lembaran kalkulasi ke arah Hafiz. "Jika penagihan kita besok pagi macet lagi, kita harus menggunakan dana cadangan yang sebenarnya diperuntukkan bagi uang muka pembelian beras dari petani."

Hafiz menghela napas panjang, merenungi angka-angka di kertas tersebut. "Ternyata, mengurus bisnis milik sendiri tidak seindah bayangan kita saat masih menjadi staf kantor ya?"

"Kamu benar, Hafiz," aku Fardhan jujur. "Dahulu, ketika masih menjadi karyawan di perusahaan Pak Rafiq, aku hanya memikirkan target analisis dan laporan bulanan. Tanggal satu tiap bulan, gaji pasti masuk ke rekening. Sekarang, sebagai pemilik usaha, aku adalah orang terakhir yang menerima uang, tetapi menjadi orang pertama yang harus bertanggung jawab atas perut orang banyak."

"Inilah ujian seorang wirausahawan, Fardhan," hibur Hafiz penuh empati. "Rasa cemas ini adalah tanda bahwa kamu sangat peduli pada amanah yang kamu pegang."

Fardhan mengangguk pelan, lalu menyesap kopi hitamnya yang pahit. Di balik keletihan fisiknya, sebuah kenyataan merayap masuk ke dalam relung batinnya: membangun dan mempertahankan sebuah usaha mandiri memerlukan ketahanan jiwa yang jauh lebih besar daripada sekadar teori di atas kertas.

°˖✧✿✧˖°

Keheningan malam kian larut, namun jemari Fardhan kembali menari di atas papan ketik. Ia memeriksa ulang daftar arus kas dan jadwal jatuh tempo pembayaran utang dagang. Di dalam kepalanya, skenario demi skenario bisnis bertarung sengit untuk menemukan jalan keluar yang paling aman dan halal.

"Fardhan, mengapa kamu tidak menaikkan sedikit saja harga jual eceran beras kita minggu ini?" usul Hafiz memecah keheningan. "Naik dua ratus rupiah per kilogram saja sudah bisa menutup seluruh biaya operasional gudang."

Fardhan menghentikan ketikannya, lalu memandangi sahabatnya dengan tatapan mata yang amat teduh.

"Dua ratus rupiah bagi kita mungkin terdengar kecil, Hafiz," jawab Fardhan lembut. "Namun bagi Bu Salmah dan para pemilik warung makan kecil di pinggiran kota, dua ratus rupiah per kilogram adalah penentu apakah anak-anak mereka bisa membeli lauk atau tidak hari itu."

"Tapi usaha kita juga butuh bernapas, Fardhan," dorong Hafiz penuh keraguan. "Jika kita terus menahan harga di bawah rata-rata pasar demi membela pembeli kecil, usaha kita sendiri yang bisa gulung tikar."

"Menjaga komitmen harga adil adalah janji awal kita mendirikan Rimbai Niaga Mandiri, Hafiz," pangkas Fardhan tegas namun tenang. "Kita tidak boleh mengorbankan prinsip hanya karena kita sedang berada di bawah tekanan keuangan. Pasti ada cara lain tanpa harus membebankan kesulitan kita kepada rakyat kecil."

Hafiz terdiam, merenungi keteguhan sahabatnya. "Lalu, strategi apa yang akan kita pakai untuk menutupi defisit kas minggu depan?"

"Kita harus memotong biaya operasional internal kita sendiri," terang Fardhan seraya membuka lembaran anggaran pribadi. "Mulai bulan ini, potong alokasi gajiku sebesar lima puluh persen. Gunakan sisanya untuk memastikan seluruh hak karyawan gudang dan pembayaran petani terbayar penuh tepat waktu."

"Fardhan! Kamu gila?!" seru Hafiz terkejut. "Kamu sendiri butuh uang untuk biaya hidup di kota ini! Bagaimana dengan sewa kontrakanmu?"

"Aku masih memiliki sedikit tabungan pribadi untuk bertahan hidup sederhana, Hafiz," sahut Fardhan mantap. "Seorang pemimpin harus berani berkorban paling awal dan menikmati hasil paling akhir. Itulah esensi kepemimpinan yang diajarkan dalam Islam."

Hafiz menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa haru dan kagum kembali memenuhi dadanya melihat keikhlasan sahabatnya yang begitu murni.

Di tempat lain, puluhan kilometer dari riuk-piuk kota Jakarta, keheningan malam juga memeluk Surau Desa. Di dalam kamar sederhananya, Kiai Zulfikar Al-Faruqi masih duduk bersila di atas sajadah seraya memegang tasbih kayu tua.

Di sampingnya, Abdul Karim Ar Rimbai duduk menunduk dengan wajah syahdu.

"Pak Karim," panggil Kiai Zulfikar dengan suara halus namun menggema.

"Inggih, Kiai," sahut Abdul Karim.

"Malam ini, pikiran saya terus tertuju pada Fardhan di kota," tutur Kiai Zulfikar. "Usaha yang sedang dirintisnya sedang memasuki fase penggodaan jiwa yang sangat menentukan."

"Apakah anak saya sedang mengalami kesulitan besar, Kiai?" tanya Abdul Karim cemas.

"Menjadi pemilik usaha itu seperti menunggangi angin, Pak Karim," jelas Kiai Zulfikar bijak. "Saat berada di atas, ada ancaman kesombongan. Saat berada di bawah, ada ancaman keputusasaan. Mari kita kirimkan doa agar Allah mengokohkan pundak Fardhan di sepertiga malam ini."

°˖✧✿✧˖°

Lantunan doa dari desa seolah menjadi energi gaib yang menguatkan Fardhan di perantauan. Memasuki pukul dua pagi, Fardhan menutup laptopnya, lalu berdiri memandangi hamparan karung beras yang tertumpuk rapi di dalam gudang.

Ia menyusuri lorong sempit di antara tumpukan karung, menyentuh serat kain karung beras tersebut dengan jemarinya yang dingin.

"Memiliki usaha ternyata jauh lebih sulit daripada membayangkannya," gumam Fardhan seraya menghela napas panjang.

Lihat selengkapnya