Keuntungan Pertama
*Kabar Masuknya Saldo dan Godaan Kemewahan*
---o0o---
Deru kipas angin tua di sudut bengkel pengemasan kopi berderit ritmis, mengaduk aroma robusta sangrai dan bubuk gula semut di udara sore. Di atas meja lapuk yang diganjal kardus tebal, ponsel berlayar retak milik Fardhan bergetar panjang. Dua getaran pendek menyusul cepat, diiringi denting notifikasi perbankan yang berbulan-bulan tak pernah terdengar berbunyi nyaring.
Fardhan menyeka peluh dingin di pelipisnya dengan kaus oblong hitam pudar. Jarinya yang bernoda serbuk kopi menekan kaca layar dengan ragu. Sepasang matanya terpaku kaku pada sebaris teks mutasi kredit rekening operasional Kala Mandiri.
"Radit, kemari sebentar," bisik Fardhan parau seraya menahan gejolak dada. "Tinggalkan dulu tumpukan karung goni di dekat pintu itu sekarang juga, ya."
Radit yang tengah menumpuk karung di pintu geser menoleh dengan kening berkerut. Ia menyeka kedua tangannya ke celana jin belel sebelum melangkah mendekat.
"Kenapa lagi, Dhan? Ada komplain retur barang dari toko stasiun kereta? Atau tagihan listrik bengkel yang jatuh tempo petang ini?" tanya Radit cemas.
"Bukan masalah komplain atau tagihan, Dit. Kemarilah dulu. Dekatkan matamu ke layar ponsel ini dan baca sendiri angka di baris paling atas sekarang juga," ujar Fardhan gemetar.
Radit membungkuk di atas pundak Fardhan. Selama beberapa detik, ruangan sempit berukuran empat kali enam meter itu tenggelam dalam kesenyapan ganjil. Hanya desau angin senja dari ventilasi kayu yang berbisik.
"Astaga naga... Dhan! Demi Tuhan semesta alam, ini beneran nyata?!" pekik Radit histeris hingga suaranya melengking tinggi menembus keheningan ruangan. "Empat puluh delapan juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah?! Pelunasan dari Konsorsium Katering Horison sudah cair penuh ke rekening kita?!"
"Pencairan termin ketiga sekaligus pelunasan total lima ratus boks hampers kopi pesanan korporat," gumam Fardhan seraya menarik napas panjang. Dadanya bergemuruh kencang bagai derap langkah pelari maraton menanjak bukit cadas terjal.
"Kita kaya, Dhan! Akhirnya kita pegang uang tunai bergepok-gepok!" seru Radit melonjak kegirangan hingga debu di lantai semen berterbangan. "Delapan bulan, Dhan! Delapan bulan kita makan sebungkus mi instan dibagi dua, tidur beralas karung goni kotor, dan diusir dari kontrakan sempit. Sekarang saldo kita bernyawa puluhan juta rupiah!"
"Jangan berteriak begitu keras, Dit. Dinding tetangga tipis sekali, orang lain bisa curiga," tegur Fardhan dengan senyum tipis.
Fardhan menyandarkan punggungnya ke kursi kayu reyot yang berderit pasrah. Pandangannya menatap langit-langit asbes bernoda bekas rembesan air hujan. Bayangan masa pahit saat modal awalnya ludes ditipu makelar kembali melintas. Uang ini bukan sekadar angka biasa, melainkan helaan napas kehidupan yang nyaris putus di jalan berliku.
"Dhan, malam ini kita wajib merayakannya sampai puas!" seru Radit menarik kursi plastik dan duduk menghadap Fardhan dengan mata berbinar penuh gairah muda. "Ayo keluar dari sarang tikus ini sebentar. Kita ke kafe rooftop termegah di pusat kota, pesan steik daging impor paling mahal, terus besok temani aku ke diler otomotif."
"Mau pergi ke diler otomotif untuk apa, Dit?" tanya Fardhan menaikkan sebelah alisnya yang tebal keheranan.
"Ganti sepeda motormu yang knalpotnya suka menembak-nembak dan mogok di jalan raya itu, Dhan! Kamu ini pemilik Kala Mandiri sekarang! Jangan merendah terus seperti gembel jalanan. Ambil skutik bongsor warna hitam mengkilap atau motor sport dua ratus lima puluh cc yang gagah. Biar orang-orang sombong yang dulu menghina dan mengusir kita langsung bungkam menelan ludah!" desak Radit berapi-api.
Fardhan menatap telapak tangannya sendiri yang kapalan dan mengelupas di sela-sela jari akibat ratusan malam menyegel kemasan secara manual di atas kompor. Uang puluhan juta di rekening itu adalah darah, keringat, dan kehormatan keluarga yang ditebus dengan rasa lapar berbulan-bulan tanpa mengeluh sama sekali.
"Dit, apakah menurutmu uang keuntungan pertama ini sudah menjadi hak milik pribadi kita berdua untuk dihambur-hamburkan begitu saja?" tanya Fardhan dengan nada teramat tenang namun menghunjam sanubari.
"Ya... tentu saja ini keuntungan jerih payah kita berdua, kan? Hak kita setelah babak belur bekerja siang malam menahan malu dan lapar?" sahut Radit mulai bingung.
"Ini keuntungan pertama, Dit. Bukan uang warisan cuma-cuma. Sekali kita salah melangkah menuruti hawa nafsu sesaat, lusa tempat ini akan mati suri dan kembali jadi kuburan mimpi kita berdua selamanya tanpa sisa."
°˖✧✿✧˖°
Sebelum Radit sempat menimpali ucapan Fardhan, deru suara knalpot berisik berhenti di pelataran pintu bengkel. Langkah sepatu kulit mengilap terdengar melangkah mendekat. Sosok Dimas, kawan lama seangkatan di kampus yang kini berprofesi sebagai agen properti dan makelar gaya hidup kota, melangkah masuk ke bengkel sembari mengibaskan tangan di depan hidung.
"Aroma sangrai kopi kalian ini pekat sekali, Dhan! Bisa bikin sesak napas," sapa Dimas dengan tawa lepas yang terdengar congkak.
Fardhan tetap duduk tenang di kursi kayunya tanpa beranjak menyambut tamunya itu.
"Ada angin apa kamu tiba-tiba mampir ke bengkel kami sore ini, Dim?" tanya Fardhan tenang.
Dimas melemparkan dua lembar brosur mengilap ke atas meja kerja Fardhan. Brosur warna-warni itu menampilkan deretan motor sport model terbaru serta arloji mewah buatan Swiss tiruan kelas premium.
"Aku dengar kabar dari orang gudang Horison, termin ratusan boks kopi kalian cair bersih sore ini," ujar Dimas seraya membetulkan kerah kemeja bermereknya. "Selamat ya! Makanya aku langsung ke sini. Kamu harus segera mengubah penampilanmu, Dhan. Dunia bisnis kota ini kejam. Siapa yang berpakaian lusuh bakal diinjak-injak di lobi hotel."
Radit melirik Fardhan dengan pandangan bimbang, seolah sebagian hatinya menyetujui perkataan Dimas. Suasana di dalam ruangan mendadak menjadi sarat akan ketegangan sunyi yang merayap perlahan menusuk batin.
"Jadi menurut pandanganmu, aku harus membelanjakan keuntungan pertama ini untuk membeli barang-barang di brosur itu?" tanya Fardhan menyelidik.
"Tentu saja! Ambillah motor sport dua silinder itu. Cukup bayar uang muka lima belas juta, sisanya kamu cicil tiap bulan. Ditambah jam tangan chronograph tiga juta saja. Kamu akan kelihatan seperti pemilik bisnis sukses di kafe nanti malam!" sahut Dimas antusias.
Fardhan tersenyum dingin, lalu mendorong kembali kedua brosur itu ke arah Dimas tanpa menyentuh lembar dalamnya.
"Terima kasih sarannya, Dim. Tapi aku tidak tertarik sama sekali."
"Kamu sudah gila, Dhan? Mau terus-terusan kelihatan melarat begini di hadapan orang lain?" cecar Dimas terbelalak heran.
"Martabat usaha ini tidak dinilai dari apa yang melingkar di pergelangan tanganku atau deru motor di jalanan, Dim," jawab Fardhan tegas, menatap lurus mata lawannya. "Martabat usahaku dinilai dari apakah mesin di belakangku terus menyala, upah pekerja dibayar tepat waktu, dan utang modal tidak menumpuk. Silakan bawa brosurmu keluar sekarang juga."
Dimas mendengus jengkel seraya menyambar brosurnya dari atas meja kayu berdebu itu.
"Dasar kepala batu! Jangan menyesal kalau rekanan bisnismu kabur melihatmu seperti kuli pasar!" umpat Dimas kasar sebelum melangkah pergi meninggalkan bengkel.
Pintu geser berderit keras saat Dimas membantingnya dari luar pelataran parkir berbatu.
°˖✧✿✧˖°
Belum genap lima menit Dimas memacu motornya meninggalkan pelataran dengan decit roda angkuh, suara letupan tumpul terdengar keras dari bilik perakitan di sudut belakang. Suara mendesing tajam disusul percikan api listrik menyala memecah ketenangan senja. Bau sangit plastik terbakar langsung merebak tebal di seluruh ruangan bengkel.
"Dhan! Ya ampun, Dhan! Mesin sealer kita mendadak meledak terbakar!" jerit Radit panik seraya melompat menyambar tabung pemadam api kecil di dinding.