SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

MENGIRIM UANG

Mengirim Uang untuk Ibu

---o0o--

Angin sore berhembus lembut melintasi pekarangan rumah panggung tua di pinggiran desa. Di teras kayu yang mulai menghitam dimakan usia, Maryam duduk bersimpuh seraya menatap jalan setapak berdebu di depan rumahnya. Tangannya yang keriput dan kurus mengelus lembut tepi kain samping yang melilit pinggangnya, sementara matanya tak henti memandang ke arah persimpangan jalan desa.

Di dalam rumah, jendela kayu berderit pelan diterpa angin. Dinding papan yang bersusun sederhana itu tampak melapuk di beberapa bagian, memperlihatkan celah-celah kecil yang kerap membocorkan dinginnya udara malam. Sudah bertahun-tahun rumah panggung itu berdiri tanpa perbaikan berarti, menyimpan ribuan kenangan pahit manis kehidupan keluarga kecil Fardhan Ar Rimbai.

Suara deru sepeda motor tua yang berhenti di pinggir jalan mendadak memecah keheningan sore. Seorang petugas pos berpakaian seragam jingga melangkah mendekati teras rumah seraya membawa sebuah amplop tebal dan lembaran formulir resmi di tangannya.

"Assalamu’alaikum, Ibu Maryam?" sapa petugas pos itu bersahaja, menghentikan langkahnya tepat di bawah anak tangga kayu.

Maryam tersentak pelan dari lamunannya, membetulkan letak selendang yang menutupi kepalanya lalu berdiri dengan kehangatan khas seorang ibu desa. "Wa’alaikumussalam warahmatullah. Iya, Nak. Saya sendiri. Ada apa ya, Nak Pos?"

"Ada kiriman uang resi khusus dan surat tercatat dari kota, Bu. Dari Mas Fardhan Ar Rimbai," terang petugas pos tersebut seraya mengulurkan lembaran tanda terima dan sebuah pena. "Tolong ditandatangani atau dicap jempol di sebelah sini, Bu."

Jantung Maryam berdesir hebat mendengar nama putra sulungnya disebut. Tangannya sedikit gemetar saat menerima pena dan membubuhkan tanda tangan bersahaja di atas kertas lembaran penerimaan.

"Ini amplopnya, Bu. Isinya cukup tebal. Mas Fardhan juga titip pesan agar diterima langsung oleh Ibu," ujar petugas pos seraya menyerahkan amplop cokelat berstempel resmi bank kota.

"Terima kasih banyak ya, Nak. Semoga jalanmu selalu diberkahi," bisik Maryam lembut, menerima amplop itu dengan kedua telapak tangannya yang gemetaran.

Setelah petugas pos berpamitan dan berlalu meninggalkan pelataran, Maryam terduduk perlahan di bangku kayu teras. Jemari tangannya yang keriput meraba tiap sudut amplop tebal tersebut dengan rasa haru yang tak membendung. Ia membuka lipatan amplop dengan amat hati-hati, seolah takut merusak kertas berharga di dalamnya.

Di dalam amplop cokelat itu, terikat rapi beberapa lembaran uang kertas berwarna merah pecahan seratus ribu rupiah, lengkap dengan selembar surat bertulis tangan yang amat dihafali bentuk hurufnya oleh Maryam.

Airmata Maryam menetes tanpa bisa dibendung lagi. Titik-titik air mata bening itu jatuh membasahi kertas surat dan ikatan lembaran uang merah di pangkuannya. Isak tangis haru membuncah dari tenggorokannya, meluapkan seluruh rasa syukur atas pengorbanan anak kandungnya yang tak pernah melupakan sang ibu walau terpisah jarak yang jauh.

°˖✧✿✧˖°

Keheningan teras rumah panggung itu pecah ketika langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar naik melintasi anak tangga kayu. Salmah, adik kandung Fardhan yang baru saja pulang dari mengajar di madrasah desa, menghentikan langkahnya seketika saat melihat ibunya sedang menangis tersedu-sedu seraya memeluk erat amplop cokelat di pangkuan.

"Ibu! Ada apa, Bu? Kenapa Ibu menangis seperti ini?" tanya Salmah cemas seraya berlutut di samping ibunya, merengkuh kedua bahu Maryam yang terguncang pelan.

Maryam mengangkat wajahnya, menyapu air mata yang mengalir di pipinya dengan ujung selendang. Senyuman penuh keharuan terpancar murni dari wajah tua yang penuh guratan senja itu.

"Ini, Salmah... Lihatlah, Nak. Abangmu Fardhan baru saja mengirimkan uang dan surat dari kota," bisik Maryam dengan suara serak menahan getaran bahagia.

Salmah mengambil surat bertuliskan tangan Fardhan dan membacanya perlahan. Matanya pun perlahan berbinar basah, ikut merasakan kehangatan kasih sayang abangnya yang membentang dari kejauhan kota.

"Masya Allah... Abang mengirimkan uang sebanyak ini, Bu?" tanya Salmah tak percaya saat melihat bundelan uang kertas merah yang tertata rapi di dalam amplop. "Jumlahnya lima juta rupiah! Ini uang yang sangat besar untuk kita di desa, Bu."

"Iya, Salmah. Abangmu menulis di surat ini, dia ingin Ibu memakai uang ini untuk membeli makanan enak, membeli kain baru, dan memenuhi seluruh kebutuhan hidup Ibu sehari-hari," tutur Maryam seraya mengelus lembaran uang tersebut dengan ketulusan yang mendalam.

"Alhamdulillah ya Allah... Abang benar-benar anak yang berbakti," sahut Salmah seraya menggenggam jemari ibunya. "Sekarang Ibu tidak perlu cemas lagi memikirkan belanja harian atau utang warung kecil di depan. Ibu bisa membeli kain sarung baru dan gorden rumah yang sudah lama lapuk."

Namun, Maryam menyandarkan punggungnya ke dinding papan rumah, mengalihkan pandangannya menatap langit-langit teras yang tampak melengkung dan rapuh. Wajahnya yang semula diliputi keharuan berubah menjadi raut keteguhan seorang ibu yang penuh pertimbangan.

"Tidak, Salmah," ujar Maryam pelan namun terdengar teramat mantap. "Uang ini tidak akan Ibu pakai untuk membeli baju baru, perhiasan, atau makanan mewah."

Salmah tertegun, mengerutkan dahi bingung menatap ibunya. "Lho, kenapa, Bu? Bukankah Abang Fardhan secara khusus meminta Ibu untuk menggunakannya demi kenyamanan Ibu sendiri?"

"Abangmu bekerja membanting tulang siang dan malam di kota bukan agar Ibunya bisa hidup mewah sendirian di sini, Salmah," tegas Maryam dengan binar mata jernih. "Ada hal yang jauh lebih penting dan mendesak yang harus kita selesaikan demi keselamatan kita bersama di rumah ini."

°˖✧✿✧˖°

Salmah memperbaiki posisi duduknya di atas lantai bambu, menatap ibunya dengan tatapan penuh tanya. "Maksud Ibu... Apa yang lebih penting dari kebutuhan Ibu sehari-hari?"

Maryam mengisyaratkan matanya menunjuk ke arah tiang penyangga utama rumah panggung dan atap bagian dapur yang nampak miring. "Lihatlah rumah kita ini, Salmah. Sudah tiga musim hujan tiang penyangga di dapur itu lapuk dimakan rayap. Tiap kali angin barat berhembus kencang di malam hari, Ibu tidak pernah bisa tidur tenang karena takut atap rumah ini rubuh menimpa kita."

Lihat selengkapnya