Ayah yang Menangis Bahagia
---o0o---
Matahari sore menggantung rendah di ufuk barat, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah-celah daun pohon mangga rimbun di halaman belakang rumah keluarga Ar Rimbai. Angin dingin khas pedesaan berhembus perlahan, membawa aroma tanah basah dan wangi kembang kamboja yang tumbuh liar di dekat pagar kayu. Di bawah naungan pohon tua yang telah berdiri puluhan tahun itu, Abdul Karim Ar Rimbai duduk bersandar pada sebuah bangku kayu rakitan sendiri. Matanya yang mulai meredup dimakan usia menatap lurus ke arah teras samping, tempat di mana Fardhan sedang sibuk mencatat lembaran dokumen distribusi beras warga desa.
Pria tua itu memperhatikan setiap gerak-gerik putra sulungnya. Fardhan tidak lagi tampak seperti pemuda cemas yang dulu sering meragukan langkah hidupnya sendiri. Bahunya tegak, tatapannya fokus, dan jemarinya menari cekatan di atas lembaran kertas kalkulasi. Ada ketenangan yang begitu dalam memancar dari paras wajah Fardhan—sebuah kematangan jiwa yang hanya bisa dibentuk oleh tempaan badai perjuangan di perantauan.
"Fardhan," panggil Abdul Karim dengan suara serak, memecah keheningan sore yang syahdu.
Fardhan menghentikan goresan penanya, lalu menoleh seraya tersenyum hangat. "Iya, Ayah? Ada yang Ayah perlukan?"
"Kemarilah sebentar, Nak. Duduklah di samping Ayah," panggil Abdul Karim seraya menepuk bagian kosong di bangku kayu tempatnya berteduh.
Fardhan meletakkan papan jalannya di atas meja teras, lalu melangkah menghampiri sang ayah. Ia mengambil tempat duduk persis di sebelah Abdul Karim, merasakan hembusan angin sore yang sama dengan yang biasa mereka nikmati bertahun-tahun lalu.
"Ada apa, Ayah? Wajah Ayah terlihat sangat serius sore ini," tanya Fardhan lembut seraya memandangi garis-garis keriput di wajah ayahnya yang kian tegas.
Abdul Karim menatap wajah anaknya dari dekat. Ia menyentuh pundak Fardhan yang kini terasa begitu kokoh. "Ayah hanya sedang memperhatikanmu dari tadi, Fardhan. Melihat caramu bekerja, caramu berbicara dengan para petani tadi siang, dan caramu mengambil keputusan. Kamu sudah benar-benar berubah, Nak."
"Berubah bagaimana, Ayah?" pancing Fardhan seraya terkehut tipis. "Apakah Fardhan terlihat makin tua karena mengurus bisnis beras?"
Abdul Karim terkekeh pelan, namun matanya yang berair tidak bisa menyembunyikan getaran haru di dadanya. "Bukan tua, Fardhan. Kamu tumbuh menjadi lelaki dewasa yang memiliki keteguhan jiwa. Dulu, ketika kamu masih kecil dan duduk di bawah pohon mangga ini, kamu selalu bertanya dengan cemas apakah kamu bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain."
Fardhan terpaku, dadanya berdesir pelan mendengar ucapan sang ayah. Memorinya melayang mundur menerobos lorong waktu, memanggil kembali ingatan-ingatan masa kecil yang terlupakan.
"Ayah masih ingat masa-masa itu?" bisik Fardhan lirih.
"Seorang ayah tidak akan pernah lupa pada setiap butir air mata dan pertanyaan anak kandungnya, Fardhan," sahut Abdul Karim dengan pandangan berkaca-kaca. "Matahari di atas kita boleh berganti beribu kali, tetapi ingatan tentang Fardhan kecil di bawah pohon mangga ini akan selalu hidup di dalam dada Ayah."
°˖✧✿✧˖°
Ingatan masa lalu itu merekah begitu nyata di dalam benak Abdul Karim. Tiga puluh tahun silam, di bawah naungan pohon mangga yang saat itu masih berupa batangan kayu muda, Fardhan kecil duduk terdiam seraya memeluk lututnya yang berdebu. Baju kaus sederhananya kotor terkena tanah, dan matanya basah oleh air mata setelah diejek oleh teman-teman sebayanya karena sandal jepitnya yang putus disambung tali rafia.
Abdul Karim tua mengenang kembali momen ketika ia melangkah menghampiri Fardhan kecil pada sore hari yang dingin itu.
"Mengapa anak Jagoan Ayah menangis di bawah pohon mangga ini?" tanya Abdul Karim masa lalu seraya berlutut di hadapan Fardhan kecil.
Fardhan kecil mengusap air matanya dengan punggung tangan yang kotor. "Ayah... apakah kalau kita miskin, kita tidak bisa menjadi orang hebat? Kenapa kawan-kawan bilang Fardhan tidak akan pernah bisa sekolah tinggi seperti anak-anak kota?"
Abdul Karim masa lalu tersenyum sangat lembut, lalu merengkuh tubuh mungil Fardhan kecil ke dalam pelukannya yang hangat dan beraroma keringat kerja keras.
"Dengarkan Ayah baik-baik, Fardhan," ucap Abdul Karim masa lalu seraya menunjuk dada kiri anak kecilnya. "Kemuliaan seseorang tidak diukur dari tebalnya dompet atau bahagianya baju yang ia pakai. Kemuliaan itu diukur dari seberapa bersih hatinya dan seberapa besar manfaat dirinya untuk orang-orang di sekitarnya. Jangan pernah takut jadi orang kecil, asal jiwamu besar dan jujur!"
"Apakah Fardhan bisa jadi orang berguna nanti, Ayah?" bisik Fardhan kecil polos.
"Pasti bisa, Nak," janji Abdul Karim masa lalu dengan mata berbinar penuh keyakinan. "Suatu hari nanti, di bawah pohon mangga ini, kamu akan berdiri sebagai lelaki sejati yang menaungi banyak orang."
Kini, kenangan indah itu bertabrakan secara ajaib dengan kenyataan di depan mata. Abdul Karim menatap Fardhan dewasa yang duduk tepat di sisinya. Pemuda kecil yang dahulu menangis karena sandal jepit putus itu kini telah berdiri tegak sebagai pimpinan usaha Rimbai Niaga Mandiri, sosok yang dipercaya oleh ratusan petani dan warga desa.
"Ayah..." panggil Fardhan dewasa, memecah lamunan panjang Abdul Karim. "Kenapa Ayah melamun seraya menatap pohon mangga ini?"
Abdul Karim menyapu sudut matanya yang mulai basah oleh air mata kebahagiaan. "Ayah sedang melihat Fardhan kecil yang dulu menangis di sini, Fardhan. Dan sekarang, di tempat yang sama, Ayah melihat seorang pimpinan muda yang jujur dan mengayomi."
"Semua pembentukan jiwa ini terjadi karena didikan dan doa Ayah serta Ibu," sahut Fardhan tulus seraya menggenggam erat jemari ayahnya yang kasar.
"Allah yang membimbing jalanmu, Nak," balasa Abdul Karim bergetar. "Masa lalu yang penuh keterbatasan itu ternyata adalah kawah candradimuka yang sengaja Allah siapkan agar kamu tidak kaget saat dihantam gelombang keras di kota."
°˖✧✿✧˖°
Keheningan sore di bawah pohon mangga terasa makin sakral. Pertemuan antara kenangan masa lalu dan kenyataan masa kini memunculkan gelombang refleksi yang mendalam di dalam hati Abdul Karim. Sebagai seorang ayah yang mengabdi sepanjang hidupnya sebagai petani kecil, melihat keberhasilan anak kandungnya bertumbuh dalam koridor kejujuran adalah puncak dari segala impian hidupnya.
Tiba-tiba, dari arah jalan setapak depan rumah, melangkah Kiai Zulfikar Al-Faruqi bersama Humaira. Kiai Zulfikar mengenakan jubah putih bersahaja, sementara Humaira tampil anggun dengan busana muslimah berwarna krem lembut.
"Assalamu’alaikum warahmatullah, Pak Karim, Fardhan," sapa Kiai Zulfikar dengan suara baritonnya yang tenang dan mengayomi.