SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #38

USAHA YANG BERKEMBANG

Usaha yang Berkembang

---o0o---

Dinding kaca di lantai dua kantor operasional Rimbai Logistik membiaskan deretan truk kontainer yang terparkir rapi di pelataran. Bau cat segar kantor baru masih tercium lunak, berpadu dengan aroma kopi hangat di atas meja kerja kayu jati milik Fardhan Ar Rimbai. Di luar, riuh deru mesin disel bersahut-sahutan dengan benturan besi penutup muatan, menandakan denyut bisnis pengangkutan yang kian kencang.

"Ini Laporan Manifes Pengiriman barang untuk tiga koridor utama minggu ini, Fardhan," ujar Rafiq Al-Hakim seraya meletakkan seikat map tebal berlogo emas di meja. Ia menarik kursi, lalu duduk dengan napas terengah-engah. "Tiga puluh unit armada truk tronton kita sudah resmi terikat kontrak eksklusif dengan pabrik tekstil dan konsorsium semen di wilayah utara."

Fardhan membetulkan posisi duduknya, menatap lembaran angka di hadapannya sebelum menjawab. "Apakah seluruh hak uang jalan dan asuransi jiwa para sopir sudah ditransfer tepat waktu, Rafiq?"

"Sudah semuanya, Fardhan," jawab Rafiq cepat seraya mengangguk mantap. "Kita tidak pernah terlambat satu jam pun membayar hak mereka. Tetapi, ekspansi sepuluh armada baru minggu lalu membuat arus kas cadangan kita menyusut tajam. Jika ada satu saja klien besar yang menunda pembayaran terminator, kas operasional harian kita akan terguncang."

Fardhan menarik napas dalam-dalam, merasakan tekanan kasus logistik skala besar yang mulai merayap di benaknya. "Kita tidak boleh memotong cadangan risiko, Rafiq. Makin besar kapal yang kita kemudikan, makin tinggi gelombang yang harus kita hadapi."

"Aku paham betul prinsip ketatmu itu," sahut Rafiq seraya bersedekap. "Tetapi jajaran direksi dari mitra investor mulai mempertanyakan mengapa kita menolak tawaran pengangkutan bahan mentah tambang dari jaringan milik kolega Dzulfikar. Padahal margin keuntungannya sangat fantastis."

"Jalur tambang itu belum memiliki izin lingkungan yang jelas," tegas Fardhan, matanya menatap tajam sahabatnya. "Keuntungan besar yang berdiri di atas pelanggaran hukum hanya akan membawa kehancuran di masa depan. Kita merintis usaha ini dari uang tiga puluh ribu rupiah milik Pak Parto, dan keberkahan itu tidak boleh kita tukar dengan keserakahan."

Di tengah pembicaraan yang serius tersebut, pintu ruangan ketukan berbunyi kencang. Hafiz Al-Manshur melangkah masuk dengan raut wajah cemas, memegang sebuah telepon genggam operasional yang masih menyala.

"Fardhan, ada masalah darurat di lintasan penyeberangan barat," potong Hafiz dengan suara agak gemetar. "Dua truk kontainer kita yang membawa komoditas bahan pangan segar tertahan di dermaga tiga. Pihak otoritas pelabuhan mendadak memperketat dokumen muatan."

"Surat izin jalan dan dokumen karantina kita sudah lengkap, bukan?" tanya Fardhan seraya bangkit berdiri dari kursinya.

"Dokumen kita sempurna, Hafiz," jawab Hafiz cepat. "Namun ada oknum pengawas lapangan baru yang sengaja mengulur waktu pemeriksaan. Jika es kargo pendingin mati dalam lima jam ke depan, seluruh muatan ikan segar bernilai ratusan juta itu akan membusuk di dalam kontainer."

Fardhan mengepalkan jemarinya di atas meja. Bayangan kerugian materi dan kehancuran reputasi langsung membayang di hadapannya, membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis yang pesat selalu berdampingan dengan risiko yang kian membesar.

°˖✧✿✧˖°

Suara rintik hujan gerimis menyiram kaca jendela kantor ketika Fardhan, Rafiq, dan Hafiz berkumpul di sekitar meja pemantauan digital. Lampu indikator merah berkedip-kedip pada peta navigasi, menunjukkan dua unit armada Rimbai Logistik yang masih tertahan kaku di area dermaga pelabuhan.

"Siapa nama oknum pengawas yang menahan armada kita di lapangan, Hafiz?" tanya Fardhan dengan nada suara rendah yang menahan gejolak emosi.

Hafiz meneliti layar ponselnya. "Namanya Bambang, Fardhan. Dia baru dipindahkan minggu lalu ke sektor pemeriksaan dokumen kargo. Sopir kita membisikkan bahwa Bambang meminta 'uang jalur cepat' sebesar dua puluh juta rupiah per kontainer agar dokumen segera distempel."

"Dua puluh juta rupiah?" pekik Rafiq seraya memukul tepi meja kayu. "Itu pemerasan terang-terangan! Jika kita memberi uang suap itu, margin keuntungan dari pengiriman minggu ini akan langsung tergerus habis!"

"Bukan sekadar masalah uang, Rafiq," sela Fardhan seraya memandang sahabatnya lurus-lurus. "Seksekali kita memberi uang suap untuk melicinkan jalan, kita akan menjadi tawanan mereka selamanya. Setiap armada kita yang lewat di dermaga itu akan terus diperas tanpa henti."

"Tapi jika kita menolak membayar, dua kontainer ikan segar itu akan membusuk dalam beberapa jam, Fardhan!" tegas Hafiz dengan raut cemas. "Kerugian kita bukan cuma nilai muatan yang hilang, tapi pemilik barang akan menuntut ganti rugi wanprestasi dan memutus kontrak tahunan dengan perusahaan kita!"

Fardhan berjalan mendekati jendela, memandang kerlap-kerlip lampu truk di pelataran parkir bawah. "Apakah ada jalur koordinasi resmi dengan Kepala Syahbandar Pelabuhan?"

"Kepala Syahbandar sedang bertugas di luar kota hingga lusa," jawab Hafiz lesu. "Bambang tahu betul celah ini. Dia memanfaatkan kekosongan pimpinan untuk memeras para pengusaha angkutan yang membawa kargo cepat busuk."

Sebelum Fardhan sempat menentukan keputusan, pintu kantor terbuka. Kiai Zulfikar Al-Faruqi dan Khalid Al-Basri melangkah masuk ke dalam ruangan. Kehadiran dua tokoh sepuh itu membawa ketenangan di tengah atmosfer ruangan yang tegang.

"Assalamu’alaikum, Fardhan, Rafiq, Hafiz," sapa Kiai Zulfikar dengan suara sejuknya.

"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Kiai, Pak Khalid," sahut Fardhan seraya membungkuk penuh hormat dan mempersilakan kedua tamunya duduk.

"Kami mendengar ada kendala di pelabuhan barat," ujar Khalid Al-Basri langsung pada intinya. "Bagaimana kondisi armada milikmu, Fardhan?"

Fardhan menghela napas panjang, menyampaikan situasi pemerasan yang sedang menimpa armadanya. "Kami berada di persimpangan yang amat sulit, Pak Khalid. Membayar pungli berarti merusak prinsip integritas usaha, namun menolak membayar mengancam kelangsungan bisnis yang baru saja membesar ini."

Kiai Zulfikar tersenyum tipis, menatap Fardhan dengan kehangatan sorot matanya. "Allah sedang menguji kelas kepemimpinanmu, Fardhan. Usaha yang kecil diuji dengan kekurangan modal, namun usaha yang membesar diuji dengan keberanian mempertahankan prinsip di tengah tekanan kerugian."

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya