SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

MULAI MENGENAL FARDHAN

Orang-Orang Mulai Mengenal Fardhan

---o0o---

Matahari pagi memancarkan sinar keemasan yang hangat di atas pelataran Pasar Induk, memantul pada papan nama kayu bercat hijau yang baru saja terpasang kokoh di atas pintu masuk gudang utama: Rimbai Niaga Mandiri. Kebisingan pasar terasa makin bersemangat pagi itu. Deretan truk pengangkut bahan pangan mengantre rapi di sepanjang jalan setapak, sementara puluhan pedagang eceran dan pemilik toko kelontong berkumpul di teras gudang seraya membawa buku catatan pesanan.

Di tengah kesibukan tersebut, Fardhan Ar Rimbai melangkah keluar dari kantor kecilnya. Ia mengenakan kemeja katun bersahaja yang bagian lengannya tergulung rapi hingga siku. Senyum ramahnya mengembang tulus saat menyapa para pedagang yang sudah menunggunya sejak subuh.

"Selamat pagi, Pak Warsito, Bu Minah. Terima kasih sudah sabar menunggu," sapa Fardhan hangat seraya menjabat tangan para pedagang satu per satu.

Pak Warsito, seorang pedagang eceran senior, menepuk bahu Fardhan dengan binar mata bangga. "Selamat pagi, Mas Fardhan! Sekarang nama Rimbai Niaga Mandiri sudah tersohor di seluruh sudut pasar ini, bahkan sampai ke pasar-pasar kecamatan tetangga!"

"Alhamdulillah, Pak Warsito. Semua ini berkat kerja sama dan kepercayaan dari bapak dan ibu sekalian," sahut Fardhan rendah hati.

"Bukan cuma soal beras yang bagus, Mas," puji Bu Minah seraya menyenggol lengan pedagang di sampingnya. "Orang-orang mengenal Mas Fardhan sebagai pengusaha muda yang jujur, tidak pernah mempermainkan timbangan, dan selalu memberikan harga yang sangat adil bagi pedagang kecil seperti kami."

Fardhan tersenyum lembut, lalu mengangguk pelan. "Kepercayaan adalah modal terbesar kami, Bu Minah. Kami berjanji akan selalu menjaga kualitas dan kejujuran ini."

Popularitas Fardhan sebagai pengusaha muda berintegritas tinggi menyebar amat cepat. Cerita tentang keberhasilannya membangun rantai distribusi beras yang adil dari petani desa langsung ke pasar kota menjadi bahan pembicaraan hangat di berbagai kalangan. Tokoh-tokoh pedagang, pengurus koperasi, hingga perwakilan dinas perdagangan setempat mulai melirik sosok pemuda bersahaja ini sebagai simbol kebangkitan ekonomi berbasis keadilan.

Namun, di balik gemerlap pengakuan dan pujian yang terus mengalir, Fardhan menyadari sebuah kenyataan baru. Makin tinggi pohon menjulang, makin kencang pula angin yang menghentamnya. Pengakuan publik bukan hanya membawa penghormatan, melainkan juga membuka pintu bagi datangnya berbagai bentuk godaan hidup yang lebih halus dan berbahaya.

Hafiz Al-Manshur mendekati Fardhan dari arah lorong gudang seraya membawa lembaran surat undangan dan proposal kemitraan yang menumpuk tinggi di atas papan jalan kayu.

"Fardhan, ada lima proposal kerja sama baru dari distributor luar kota yang masuk pagi ini," bisik Hafiz dengan raut wajah serba salah. "Beberapa di antaranya menawarkan nilai kontrak yang fantastis, tetapi..."

Fardhan menoleh, menatap sahabatnya dengan kening berkerut halus. "Tetapi ada syarat khusus di dalamnya, Hafiz?"

"Kamu harus membaca syarat-syarat mereka sendiri di dalam ruangan, Fardhan," jawab Hafiz pelan. "Tampaknya uji integritasmu yang sebenarnya baru saja dimulai hari ini."

°˖✧✿✧˖°

Fardhan melangkah masuk ke dalam kantor pribadinya yang sederhana, diikuti oleh Hafiz yang membawa tumpukan berkas proposal. Setelah menutup pintu kayu untuk meredam kebisingan pasar di luar, Fardhan duduk di balik meja kerjanya dan mengambil lembaran proposal teratas yang bersampul mewah.

Ia membaca baris demi baris klausul yang tertera pada dokumen tersebut. Proposal itu datang dari Konsorsium Niaga Megah, sebuah jaringan pengusaha perantara skala besar yang menguasai jalur distribusi pangan lintas provinsi.

"Mereka menawarkan investasi modal segar sebesar lima ratus juta rupiah untuk ekspansi gudang kita, Fardhan," terang Hafiz seraya duduk di hadapan meja kerja. "Nilai yang sangat fantastis untuk usaha yang baru berjalan beberapa bulan."

Fardhan membalik halaman dokumen tersebut, lalu matanya terpaku pada poin penyesuaian harga dan sistem pencampuran mutu beras.

"Hafiz, apakah kamu sudah membaca klausul pasal empat ini?" tanya Fardhan dengan suara yang mendadak berubah serius.

Hafiz mengangguk pelan, menyapu tengkuknya dengan cemas. "Sudah, Fardhan. Mereka meminta kita menurunkan persentase beras murni kualitas super sebesar lima belas persen, lalu mencampurnya dengan beras kelas dua agar marjin keuntungan kita melonjak hingga empat puluh persen."

"Ini adalah tindakan penipuan konsumen, Hafiz!" pangkas Fardhan tegas, matanya memancarkan kekecewaan yang amat mendalam. "Mereka ingin kita membohongi pembeli demi mengejar angka keuntungan yang melimpah!"

"Tapi Fardhan, mereka berargumen bahwa praktek semacam ini sudah menjadi standar umum di dunia perdagangan besar," jelas Hafiz mencoba memaparkan sudut pandang investor tersebut. "Mereka bilang, pembeli eceran tidak akan menyadari perbedaan tipis lima belas persen itu, sementara kita bisa mengantongi keuntungan ratusan juta rupiah dalam sebulan."

Fardhan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kayu, menghembuskan napas panjang yang terasa berat. Ia memandangi dinding kantornya yang dihiasi kaligrafi ayat Al-Qur'an tentang larangan mengurangi timbangan dan berbuat curang dalam perdagangan.

"Keuntungan besar yang diperoleh dari jalan manipulasi adalah racun bagi keberkahan usaha kita, Hafiz," tutur Fardhan lembut namun bernada sangat tegas. "Orang-orang mulai mengenal Fardhan Ar Rimbai dan Rimbai Niaga Mandiri karena kejujuran kita. Jika kita menerima kompromi ini, kita sedang menjual iman dan kehormatan kita demi tumpukan uang kertas."

"Lalu, apa keputusanmu terhadap proposal ini?" tanya Hafiz menatap lurus mata sahabatnya.

"Tolak proposal ini dengan sopan," jawab Fardhan tanpa ragu sedikit pun. "Tegaskan kepada mereka bahwa Rimbai Niaga Mandiri tidak akan pernah menjual barang pencampuran atau memanipulasi mutu beras demi alasan apa pun."

Hafiz tersenyum lega, merasakan keteguhan jiwa sahabatnya. "Baik, Fardhan. Aku akan segera membuat surat penolakan resminya."

Namun, belum sempat Hafiz melangkah keluar dari ruangan, pintu kantor mendadak terbuka dari luar. Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kemeja sutra mahal dan cincin batu akik di jari jemarinya melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Di belakangnya, berdiri dua orang pengawal berbadan tegap yang mengenakan pakaian hitam rapi.

Pria itu adalah Haji Rahmat, seorang pengusaha tengkulak kawakan yang sangat disegani sekaligus ditakuti di kawasan perdagangan Jakarta.

"Selamat pagi, Pengusaha Muda Fardhan Ar Rimbai!" sapa Haji Rahmat dengan suara berat bergema seraya tersenyum lebar.

Fardhan berdiri dari duduknya, menyambut kedatangan tamu tersebut dengan sikap santun dan tenang. "Selamat pagi, Haji Rahmat. Suatu kehormatan bagi kami menerima kunjungan Anda. Silakan duduk."

°˖✧✿✧˖°

Haji Rahmat duduk di kursi kayu melingkar seraya menyilangkan kakinya yang gemuk. Matanya menyapu sekeliling ruangan kantor Fardhan yang sederhana dengan pandangan meremehkan, namun senyumnya tetap terulur penuh wibawa kekuasaan.

"Fardhan, saya datang kemari bukan untuk basa-basi," buka Haji Rahmat seraya mengetukkan jarinya di atas meja. "Nama Anda sedang sangat harum di pasar ini. Semua orang membicarakan Fardhan si pemuda jujur pelindung petani. Saya pribadi sangat mengagumi semangat anak muda seperti Anda."

"Terima kasih atas pujian Anda, Haji Rahmat," sahut Fardhan tenang seraya menyodorkan cangkir teh hangat. "Ada hal penting apa yang membawa Anda ke gudang kecil kami?"

Haji Rahmat terkekeh pelan, menyesap teh hangat itu sebentar sebelum meletakkannya kembali. "Usaha Anda memang masih kecil dari segi bangunan, Fardhan. Tapi potensi Anda sangat besar. Sayangnya, idealisme anak muda sering kali menjadi penghambat terbesar untuk menjadi kaya raya."

Fardhan menyimak dengan cermat tanpa memotong pembicaraan. "Maksud Anda bagaimana, Haji?"

Lihat selengkapnya