Ternyata Aku Tidak Bermimpi Sendirian
---o0o---
Derit roda koper yang beradu dengan jalanan makadam berkerikil memecah kesenyapan senja di Dusun Lembah Selo. Fardhan menghentikan langkahnya di bawah naungan pohon randu tua yang berdiri kokoh di mulut gang desa. Angin pegunungan berembus lembut, membawa aroma tanah basah sehabis hujan rintik dan wangi asap pembakaran kayu bakar yang begitu lekat di memorinya. Dari kejauhan, siluet atap rumah panggung kayu jati itu masih berdiri tegak seperti lima tahun silam saat ia melangkah pergi dengan ransel kusam dan tekad membaja.
Di dalam tas jinjingnya, sebuah map kulit tebal berisi berkas pengesahan proyek nasional dan plakat penghargaan inovasi teknologi agrikultur tersimpan rapi. Ada senyum tipis di bibirnya—senyum seorang pemuda desa yang merasa telah menaklukkan kerasnya ibu kota seorang diri.
"Akhirnya, aku membuktikan semuanya kepada dunia luas," gumam Fardhan seraya merapatkan jaket parka abu-abunya. Dadanya membusung oleh kepuasan batin yang membuncah. "Tiga tahun tidur di lantai kantor, dicibir para investor kaya raya, dan berkali-kali nyaris diusir dari rumah sewa sempit. Sekarang aku pulang membawa kemenangan mutlak dari keringat dan otakku sendiri tanpa bergantung pada belas kasihan siapa pun."
Ia menyusuri parit kecil berair jernih, mendekati gerbang bambu rumahnya yang terbuka separuh. Di pelataran tanah liat yang bersih tersapu, seorang wanita bertubuh mungil dengan kebaya motif bunga kamboja pudar sedang mengumpulkan serasah dedaunan mangga dengan sapu lidi.
"Ibu..." panggil Fardhan dengan suara bergetar tertahan penuh rindu.
Sapuan lidi berhenti seketika. Wanita paruh baya itu memegangi pinggangnya sebelum berbalik perlahan. Matanya melebar saat mengenali sosok jangkung yang berdiri mematung di bibir halaman rumah.
"Astaghfirullahal'adzim... Fardhan? Benarkah ini kamu, Le?" Suara Ibu bergetar haru. Sapu lidi di tangannya terlepas ke tanah. "Ya Gusti Pangeran, anak lanangku pulang!"
"Iya, Bu. Ini Fardhan. Anak lanang Ibu sudah kembali pulang ke pangkuan Ibu," sahut Fardhan melangkah cepat meletakkan kopernya di atas undakan batu kali.
Ibu bergegas menyongsongnya dengan langkah tertatih penuh kerinduan mendalam. "Kenapa kamu tidak memberi kabar dulu lewat telepon, Le? Kalau tahu kamu mau sampai sore ini, Ibu pasti menyuruh pamanmu menjemput di stasiun kota dengan mobil bak terbuka."
"Sengaja, Bu. Fardhan ingin memberi kejutan istimewa untuk Ibu dan Bapak," jawab Fardhan seraya meraih kedua tangan ibunya yang kasar dan menciumnya takzim. "Fardhan rindu sekali pada rumah kayu ini, pada masakan Ibu, dan pada ketenangan dusun kita."
"Kamu kurus sekali, Le. Wajahmu kelihatan sangat letih dan kurang tidur," tutur Ibu seraya menangkup kedua pipi Fardhan dengan tatapan cemas. "Apakah kamu selalu makan teratur di kota? Apakah kamu sering jatuh sakit di sana tanpa ada yang merawatmu?"
"Fardhan sehat dan baik-baik saja, Bu," tolak Fardhan tersenyum bangga. "Justru Fardhan pulang membawa kemenangan besar. Proyek irigasi digital yang Fardhan rancang sendiri menang penghargaan tingkat menteri, Bu! Pemerintah menyetujui anggaran miliaran rupiah dan menunjuk Fardhan sebagai direktur pelaksana utama. Sekarang martabat keluarga kita terangkat tinggi berkat kerja keras Fardhan sendiri."
Ibu terdiam beberapa saat menatap binar mata putranya, lalu tersenyum teduh penuh ketenangan batin yang menghanyutkan rasa cemas.
"Alhamdulillah... puji syukur kepada Gusti Allah kalau usahamu diberi jalan lapang, Le," tutur Ibu pelan seraya mengusap bahu putranya. "Tapi kamu pasti belum makan siang, kan? Perjalanan kereta api jarak jauh itu sangat menguras tenaga raga. Ayo segera masuk ke rumah dulu."
"Ibu tidak penasaran ingin melihat piagam penghargaan kementerian ini?" desak Fardhan heran. "Ada cap stempel emas menteri negara di sini, Bu."
"Kertas bertinta emas itu bisa kita lihat nanti malam, Le," jawab Ibu lembut menggenggam lengan putranya erat. "Bagi seorang ibu, melihat anaknya pulang dalam keadaan utuh, bernapas sehat, dan ingat jalan pulang ke rumah jauh lebih berharga daripada tumpukan emas berkilau di dunia ini. Masuklah, Ibu sudah merebus ubi manis dan membuatkan teh sereh hangat di dapur."
"Baiklah, Bu. Fardhan menurut pada nasihat Ibu," senyum Fardhan seraya melangkah masuk melintasi ambang pintu rumah kayu masa kecilnya yang berderit menyambut kedatangannya. "Aroma dapur Ibu selalu menjadi wangi penenang terbaik di dunia ini."
"Bapakmu ada di surau kecil belakang, Le," sambung Ibu tersenyum menyusul langkah putranya ke serambi.
°˖✧✿✧˖°
Derit pintu belakang beradu dengan lantai semen, disusul suara deham berat yang amat Fardhan kenal. Dari arah surau keluarga, seorang pria berambut kelabu bersarung tenun lusuh melangkah masuk menenteng cerek seng loreng hijau tua.
"Kudengar ada suara koper berderit di jalan setapak, kukira tamu kelurahan," kata Bapak bersuara serak khas petani desa yang akrab dengan kabut sejuk.
"Bukan tamu orang lain, Pak. Anak lanangmu, Fardhan, sudah sampai di rumah," sahut Ibu seraya meletakkan cangkir enamel blirik hijau di atas meja jati.
Bapak mematung di undakan pintu. Sorot matanya menatap tajam ke arah Fardhan. "Kamu pulang, Le?" tanya Bapak singkat dan berwibawa. "Kenapa tidak berkirim kabar lewat pesan singkat terlebih dahulu?"
"Iya, Pak. Fardhan sengaja ingin memberi kejutan langsung kepada Bapak," jawab Fardhan bangkit berdiri dari kursi rotan, melangkah menyambut ayahnya lalu mencium punggung tangan yang sarat tonjolan urat kebiruan. Telapak tangan Bapak terasa sekering kulit kayu akasia dan penuh kapalan tebal akibat puluhan tahun mengayun cangkul di sawah.
"Baguslah kalau kamu masih ingat arah jalan pulang ke kampung halaman," ucap Bapak menepuk bahu Fardhan dua kali dengan mantap. "Duduklah. Minum teh sereh hangat buatan ibumu selagi masih berasap mengepul."
Fardhan duduk kembali, namun matanya terus memperhatikan gerak-gerik ayahnya. Rasa cemas merayapi dadanya melihat punggung Bapak yang kian membungkuk nyata. Saat Bapak menuangkan air panas, jemari tangannya gemetar tanpa daya.
"Bapak masih sering naik ke ladang bukit terjal itu?" tanya Fardhan cemas. "Bukankah Fardhan sudah rutin mengirim uang tiap bulan agar Bapak menyewa buruh tani saja dan beristirahat tenang di rumah?"
Bapak tersenyum tipis, meletakkan cangkirnya perlahan. "Tanah itu bukan sekadar tempat mengais rupiah, Fardhan. Tanah ladang adalah tempat Bapak bersujud dan mengingat dari mana asal mula jasad manusia diciptakan."
"Tapi raga Bapak sudah tua dan rapuh. Jangan memaksakan diri bekerja berat seperti dulu," sanggah Fardhan menegaskan baktinya. "Fardhan sekarang punya kekayaan yang cukup untuk membiayai semua keperluan Bapak dan Ibu sampai hari tua tanpa kekurangan apa pun."
"Yang menua hanya kulit dan tulang, Le," tukas Bapak menatap lurus ke dalam pupil mata Fardhan. "Kewajiban seorang ayah untuk mendoakan dan menjaga keluarganya tidak pernah mengenal kata pensiun. Dan ada hal-hal penting di atas sajadah serta tanah ladang yang takkan pernah bisa kamu beli dengan lembaran uang dari kota."
"Maksud Bapak hal penting seperti apa?" tanya Fardhan heran.
"Nanti malam kamu akan mengerti sendiri rahasia itu, Le," jawab Bapak tenang seraya menyesap tehnya perlahan. "Nikmatilah teh buatan ibumu ini."
°˖✧✿✧˖°
Fardhan terdiam mendengar ucapan Bapak, namun rasa percaya diri yang bergejolak di hatinya menolak diremehkan begitu saja. Suasana hening merayap di antara deru angin malam yang menyapu pepohonan rimbun di luar serambi. Ia membuka map kulit tebal berlambang garuda emas dan membentangkannya di atas meja jati, tepat di samping cangkir teh sereh yang mengepulkan uap harum.
"Bapak dan Ibu harus membaca berkas ini," kata Fardhan penuh semangat menggebu-gebu. "Ini salinan kontrak resmi kementerian dan piagam inovasi nasional. Proyek irigasi digital rancangan Fardhan memenangkan penghargaan utama. Pemerintah menyetujui anggaran miliaran rupiah dan menunjuk Fardhan sebagai direktur pelaksana proyek nasional ini."
Ibu menatap lembaran kertas itu dengan tatapan haru bercampur takjub. Sorot matanya menelusuri ukiran segel tinta emas yang berkilau di bawah lampu teras. "Masya Allah... indah sekali tulisannya, Le. Kamu pasti sangat lelah berjuang di sana."
"Sangat lelah, Bu. Tapi inilah bukti bahwa Fardhan mampu menaklukkan ibu kota sendirian," tegas Fardhan dengan nada menyombongkan diri. "Tiga tahun di Jakarta, tak ada satu pun orang yang sudi membantu. Para investor kaya menertawakan ide Fardhan. Proposal Fardhan dilempar ke tempat sampah. Fardhan pernah tidur di emperan ruko karena uang saku habis total. Tapi Fardhan pantang menyerah! Fardhan lawan semua penghinaan itu dengan otak dan keringat Fardhan sendiri. Sekarang Fardhan membuktikan anak desa ini bisa berdiri di puncak kejayaan karena kekuatan pribadinya!"