Perempuan yang Tidak Terpesona Harta
---o0o---
Pagi yang bening membungkus kompleks surau dan pesantren kecil di pinggiran desa. Angin pegunungan berhembus lembut, membelai pucuk-pucuk daun kelapa dan membawakan aroma tanah segar yang tersiram embun. Dari kejauhan, deretan kendaraan operasional Rimbai Logistik terparkir rapi di bawah naungan pohon trembesi tua. Di pelataran kantor pengelola yayasan, Fardhan Ar Rimbai berdiri menatap lembaran laporan keuangan ekspansi bisnisnya yang kian menanjak tajam.
"Perkembangan tiga bulan terakhir ini sungguh di luar perkiraan kita, Fardhan," ujar Rafiq Al-Hakim seraya meletakkan secangkir kopi hangat di atas meja kayu. Ia menarik kursi kayu di sebelah sahabatnya, lalu bersedekap dengan wajah penuh kebanggaan. "Sembilan puluh armada truk kontainer kita kini resmi beroperasi penuh di seluruh koridor pulau. Nilai aset Rimbai Logistik sudah menembus puluhan miliar rupiah. Nama Fardhan Ar Rimbai kini diperhitungkan sebagai salah satu pengusaha logistik termuda paling sukses tahun ini."
Fardhan membetulkan peci hitamnya, menatap lembaran angka di hadapannya tanpa ada guratan kesombongan sedikit pun di raut wajahnya. "Angka-angka ini hanya titipan yang sangat berat, Rafiq. Makin banyak armada yang kita jalankan, makin besar pula pertanggungjawaban kita di hadapan Allah dan manusia."
"Aku paham betul ketenangan sikapmu itu," sahut Rafiq seraya tertawa kecil. "Tapi di luar sana, orang-orang membicarakan kekayaanmu. Para pedagang besar, kolega bisnis, hingga pimpinan bank berlomba-lomba mencari perhatianmu. Semua orang terpesona oleh gemerlap kesuksesan finansialmu sekarang."
Fardhan menarik napas dalam-dalam, mengalihkan pandangannya ke arah deretan ruang kelas bersahaja di seberang pelataran. "Gemarak kilau harta sering kali menipu mata manusia, Rafiq. Sungguh beruntung orang yang hatinya tetap berada di bumi tatkala dunianya ditinggikan."
Di saat perbincangan itu berlangsung, langkah kaki bersahaja terdengar mendekati pelataran. Humaira melangkah anggun mengenakan gamis berwarna abu-abu gelap dengan jilbab lebar yang menjuntai rapi. Di tangannya, ia membawa seikat map berisi berkas pendaftaran calon anak asuh yayasan.
"Assalamu’alaikum, Mas Fardhan, Mas Rafiq," sapa Humaira dengan suara lembut namun teramat tenang dan berjarak santun.
"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Mbak Humaira," balas Fardhan dan Rafiq seraya membungkukkan badan penuh hormat.
"Ini berkas inventaris bantuan beasiswa untuk anak-anak pekerja logistik yang Mas Fardhan ajukan kemarin," tutur Humaira seraya menyerahkan map tersebut dengan sopan. "Saya sudah memeriksa seluruh data keluarga penerima. Semua sudah tervalidasi sesuai kriteria kelayakan."
Fardhan menerima map itu, lalu menatap raut wajah Humaira yang sama sekali tak menunjukkan perubahan sikap. "Terima kasih banyak atas bantuan dan ketelitian Mbak Humaira. Saya mendengar berita kesuksesan rute baru Rimbai Logistik sudah tersebar di media cetak desa sejak kemarin... Saya pikir Mbak Humaira akan menanyakan hal itu."
Humaira tersenyum amat tipis, memandang Fardhan dengan binar mata jernih tanpa ada getaran silau sedikit pun. "Mengapa saya harus menanyakannya, Mas Fardhan? Bagi saya, tambahan puluhan armada atau tumpukan rupiah di rekening perusahaan tidak pernah mengubah siapa Mas Fardhan yang sebenarnya di mata kami."
Fardhan tertegun sejenak. Kata-kata yang keluar jujur dari bibir Humaira seakan menghantam relung jiwanya yang paling dalam, menghadirkan rasa kagum dan hormat yang kian membuncah.
°˖✧✿✧˖°
Humaira melangkah dua tapak mendekati tepi serambi, memandang anak-anak desa yang sedang berlarian riang di halaman surau. Angin pagi mengibarkan ujung jilbabnya perlahan.
"Dunia bisa melihat Mas Fardhan sebagai pengusaha kaya raya yang sukses menaklukkan persaingan," lanjut Humaira dengan nada bicara yang amat sejuk. "Tetapi di tempat ini, keberhasilan Mas Fardhan hanya diukur dari seberapa banyak keberkahan yang bisa dirasakan oleh orang-orang kecil. Harta yang berlimpah hanya perhiasan dunia yang rapuh jika tidak dilandasi oleh ketakwaan."
Fardhan menarik napas panjang, mengagumi kedalaman sudut pandang wanita di hadapannya. "Mbak Humaira benar-benar tidak terpengaruh oleh cerita-cerita kesuksesan materi saya di kota?"
Humaira memalingkan wajahnya, menatap Fardhan dengan ketulusan yang murni. "Harta bisa datang dan pergi dalam hitungan detik jika Allah berkehendak, Mas Fardhan. Saya tidak pernah kagum pada banyaknya armada truk atau tingginya gedung kantor yang Mas miliki. Yang membuat kami di sini menghargai Mas Fardhan adalah keberanian Mas mempertahankankan kejujuran di saat orang lain menjual prinsip demi uang."
"Masya Allah..." bisik Fardhan lirih, dadanya berdesir haru. "Sikap Mbak Humaira yang sama sekali tidak silau oleh harta ini sungguh menjadi tamparan sekaligus penyejuk bagi hati saya."
"Banyak orang mendatangi Mas Fardhan karena menginginkan bagian dari keuntungan atau nama besar Mas," tutur Humaira bersahaja. "Tetapi saya hanya berdoa agar Mas Fardhan senantiasa dijaga dari sifat sombong dan lupa diri. Kerapian moral dan kebersihan rezeki jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan di dunia ini."
Rafiq yang berdiri di dekat pintu mengamati interaksi tersebut dengan senyum kagum. Ia berbisik pelan dalam hati, menyadari bahwa Humaira adalah sosok perempuan langka yang tidak bisa dibeli atau dipikat dengan kemewahan duniawi.
"Apakah seluruh dana alokasi beasiswa ini sudah bisa dicairkan minggu ini, Mas Fardhan?" tanya Humaira kembali fokus pada tugasnya.
Fardhan mengangguk mantap. "Seluruh dana sudah siap di rekening yayasan, Mbak Humaira. Tidak boleh ada satu pun anak pengemudi kita yang putus sekolah karena kendala biaya."
"Alhamdulillah," sahut Humaira tulus. "Semoga Allah membalas setiap kebaikan ini dengan kelapangan jiwa untuk Mas Fardhan."
Sikap Humaira yang tetap bersahaja, tegas, dan tidak berubah sedikit pun meskipun Fardhan telah menjadi orang terpandang, justru membuat tingkat penghormatan Fardhan kepadanya melonjak naik ke derajat yang paling tinggi.
°˖✧✿✧˖°
Siang harinya, Fardhan duduk bersama Kiai Zulfikar Al-Faruqi di kediaman beliau yang sederhana di samping masjid. Aroma kayu jati tua dan harum minyak wangi kasuari memenuhi ruangan yang sejuk itu. Di atas meja rendah, terhidang secangkir teh hijau hangat dan buah-buahan segar.
"Bagaimana kabarmu dan perkembangan usahamu di kota, Fardhan?" sapa Kiai Zulfikar dengan senyum ayah yang menenangkan.
"Alhamdulillah, Kiai," jawab Fardhan seraya membungkuk santun. "Usaha berjalan lancar dan kian membesar. Namun, jujur saja, makin besar usaha ini, makin sering saya merasa khawatir akan kebersihan hati saya sendiri."