Percakapan Setelah Magrib
---o0o---
Lampu-lampu dinding di serambi samping rumah kediaman Khalid Al-Basri membiaskan cahaya keemasan yang tenang. Aroma tanah basah tersiram gerimis melati menyeruak lembut dari arah pekarangan, menyatu dengan wangi teh melati yang menyebarkan uap hangat dari atas meja kayu jati. Suara jangkrik bersahut-sahutan pelan di balik rimbunnya dedaunan, menemani keheningan malam yang baru saja merayap turun setelah gema azan Magrib membubung tinggi di atas langit desa.
Fardhan Ar Rimbai duduk bersimpuh di atas kursi kayu berukir, membetulkan letak sarung tenun dan peci hitamnya. Di seberang meja, Humaira duduk bersahaja dengan mukena putih bersulam benang perak yang masih melilit tubuhnya. Wajahnya memancarkan ketenangan yang jernih, bagaikan telaga yang tak tersentuh pusaran angin.
"Tehnya masih sangat panas, Mas Fardhan. Silakan diminum dulu untuk menghangatkan badan," sapa Humaira lembut, memecah keheningan yang tercipta usai ibadah salat Magrib berjemaah di ruang tengah tadi.
Fardhan mendongak perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa hormat. "Terima kasih banyak, Mbak Humaira. Kesegaran udara malam di desa ini memang selalu membuat secangkir teh terasa jauh lebih nikmat."
"Malam ini Mas Fardhan tampak jauh lebih tenang dibandingkan minggu lalu saat mengurus dokumen ekspansi armada di kota," tutur Humaira seraya membetulkan lipatan kain mukenanya di bahu. "Apakah seluruh urusan perizinan rute logistik bagian barat sudah selesai ditandatangani?"
Fardhan menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan seraya menatap cangkir porselen di hadapannya. "Alhamdulillah, seluruh verifikasi dari dinas perhubungan dan persetujuan konsorsium sudah rampung kemarin sore, Mbak. Tapi jujur saja, tiap kali satu tahap pekerjaan selesai, tanggung jawab baru yang lebih besar langsung berdiri menanti di depan mata."
Humaira menatap Fardhan dengan binar mata yang penuh keterbukaan. "Setiap kali melihat Mas Fardhan memikul beban usaha yang kian membesar, saya sering bertanya-tangan di dalam hati. Apa yang sebenarnya menjadi pegangan utama Mas Fardhan hingga tak pernah goyah saat dihantam badai persaingan yang begitu keras?"
"Pertanyaan yang sangat mendalam, Mbak Humaira," sahut Fardhan, jemarinya meraba tepi meja kayu. "Dulu, saat awal merintis kembali usaha yang hancur, saya berpikir bahwa kunci utamanya adalah kerja keras dan kecermatan kalkulasi. Tapi makin ke sini, saya makin sadar bahwa seluruh daya itu tidak ada artinya tanpa ridha dari Allah dan doa dari seorang ibu."
"Ibu Maryam adalah sosok yang luar biasa," puji Humaira tulus. "Cara Beliau mendidik Mas Fardhan dan Salmah di kampung telah menjadi cermin keteguhan iman yang nyata bagi kami semua."
"Ibu tidak pernah menuntut saya menjadi orang kaya atau pengusaha raksasa, Mbak," bisik Fardhan dengan nada berdesir haru. "Pesan Ibu hanya satu: ke mana pun langkah kaki membawa saya pergi, kejujuran tidak boleh ditawar dan hak orang lain tidak boleh dimakan sepeser pun."
"Pesan yang amat bersahaja, namun justru menjadi fondasi paling kokoh dalam hidup," balas Humaira mengangguk anggun.
°˖✧✿✧˖°
Keheningan malam makin merambat tebal ketika derit angin menggerakkan daun jendela serambi. Fardhan memperbaiki posisi duduknya, memandang sosok wanita di hadapannya yang senantiasa menjaga tutur kata dan pandangannya dengan begitu rapi.
"Bagaimana dengan cita-cita Mbak Humaira sendiri untuk masa depan yayasan pendidikan anak-anak pekerja logistik kita?" tanya Fardhan, mengalihkan pembicaraan dengan nada penuh minat yang jujur.
Humaira tersenyum teduh, matanya berbinar keemasan diterpa pendar lampu dinding. "Saya tidak pernah membayangkan yayasan itu akan menjadi lembaga yang megah secara fisik, Mas Fardhan. Impian saya sangat sederhana. Saya ingin anak-anak dari para pengemudi truk dan kuli panggul pasar memiliki benteng akhlak yang kuat serta pendidikan yang setara, agar mereka tidak merasa rendah diri di hadapan zaman yang kian keras ini."
"Pengabdian Mbak Humaira sungguh membuat saya merasa teramat kecil," aku Fardhan jujur. "Di saat saya sibuk memikirkan angka-angka efisiensi bahan bakar dan alokasi armada, Mbak Humaira justru memikirkan jiwa-jiwa muda yang kelak meneruskan peradaban ini."
"Kita hanya membagi tugas dalam satu medan perjuangan yang sama, Mas Fardhan," sahut Humaira dengan nada menyejukkan. "Mas Fardhan menyiapkan sarana rezeki yang halal di jalur logistik, sedangkan saya bersama teman-teman menjaga benteng nilai-nilainya. Keduanya saling membutuhkan dan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri."
Fardhan terpaku mendengar ungkapan tersebut. Kata-kata Humaira memancarkan ketajaman berpikir dan kedalaman rasa yang belum pernah ia temui pada wanita mana pun sebelumnya. Di dalam benak Fardhan, sebuah kesadaran baru mulai merekah bagaikan kelopak bunga yang mekar di batas fajar.
"Pikiran Mbak Humaira selalu sanggup memperluas cara pandang saya yang sempit," bisik Fardhan lirih.
Humaira menundukkan pandangannya santun, merona tipis di balik mukena putihnya. "Saya hanya menyampaikan apa yang terlintas di dalam hati, Mas. Ayah dan Kiai Zulfikar selalu mengajarkan bahwa hidup ini akan terasa amat hampa jika seluruh ikhtiar kita hanya berhenti pada pengumpulan harta duniawi tanpa ada bekas kebaikan untuk keluarga dan sesama."
"Bicaramu tentang keluarga..." sela Fardhan pelan, matanya menatap Humaira dengan binar ketulusan yang makin mendalam. "Bagaimana Mbak Humaira memandang arti sebuah rumah tangga di tengah perjalanan hidup kita yang penuh dinamika ini?"
Humaira tertegun sejenak, mengangkat wajahnya perlahan untuk menatap mata Fardhan yang memancarkan kejujuran murni.
"Bagi saya," jawab Humaira dengan suara yang amat lembut namun tegas, "rumah tangga bukan sekadar tempat dua insan saling menyukai atau bertukar kenyamanan. Rumah tangga adalah sebuah bahtera dakwah dan tempat pulang bagi dua jiwa yang bersepakat untuk saling menuntun menuju surga-Nya. Tempat di mana kelemahan suami dilengkapi oleh keteguhan istri, dan kepenatan istri disembuhkan oleh naungan kasih suami."