SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #45

MASA LALU, KEMBALI

Masa Lalu yang Kembali

---o0o---

Lampu kristal raksasa yang menggantung megah di kubah langit-langit Puri Kencana memancarkan pendar keemasan ke seluruh penjuru ballroom. Denting halus ratusan gelas berkilau beradu dengan lantunan anggun kuartet gesek, menyelimuti suasana perjamuan dengan aroma kemewahan aristokrat ibu kota yang memikat. Di tengah gemerlap lampu sorot dan decak kagum para konglomerat, Fardhan Dirgantara berdiri tegak laksana menara baja yang tak tergoyahkan. Setelan tuksedo hitam karya perancang terkemuka membalut bahunya yang tegap, memancarkan pesona seorang arsitek muda yang baru saja dinobatkan sebagai kepala perancang mahakarya Menara Horizon, sebuah megaproyek bernilai lima triliun rupiah yang digadang-gadang menjadi ikon baru peradaban negeri. Setiap pasang mata memandangnya penuh takzim dan kekaguman yang melimpah ruah.

“Kau terlihat begitu tenang malam ini, Mas. Padahal aku tahu persis, sejak subuh tadi jemarimu dingin dan napasmu tertahan menunggu keputusan dewan komisaris konsorsium,” bisik Amira seraya membetulkan letak dasi kupu-kupu Fardhan dengan sentuhan jemarinya yang hangat dan sangat lembut.

Amira mengangguk anggun, membalas senyuman itu dengan binar kebanggaan yang tak disembunyikan. Di sekeliling mereka, para pejabat kementerian, perwakilan kedutaan besar, dan kurator properti internasional bergantian melempar anggukan hormat. Bagi mereka, Fardhan adalah lambang kesempurnaan seorang visioner yang meniti tangga kesuksesan dari bawah tanpa cacat moral maupun noda profesional. Namun, jauh di balik dada bidang dan senyum tenangnya, Fardhan menyimpan beban rahasia yang tak pernah diketahui siapa pun di ruangan itu. Ia memegang serbet sutra dengan jemari yang sesekali bergetar halus menahan debar jantung yang tak menentu di balik senyum ramahnya.

“Ketenangan adalah satu-satunya perisai yang membuat mereka percaya bahwa kapal sebesar ini berada di tangan nakhoda yang tepat, Ra. Jika sang arsitek tampak gemetar, bagaimana mungkin para pemilik modal bersedia menaruh mimpi miliaran dolar mereka di atas pondasiku?” sahut Fardhan seraya tersenyum teduh, menatap sepasang mata tunangannya yang selalu menjadi tempatnya berlabuh dari segala badai kepenatan hidup.

Tepat saat Fardhan hendak mendentingkan gelas minumannya untuk menyambut ucapan selamat berikutnya, sudut pandangnya terhenti pada sebuah bayangan di samping tiang marmer sayap barat. Seorang pria berdiri bersandar santai, mengenakan jas abu-abu arang tanpa dasi, memutar gelas minumannya dengan ketukan ritmis yang ganjil. Pria itu menyunggingkan senyum miring yang dingin, sebuah tatapan tajam beracun yang seketika membuat darah di sekujur tubuh Fardhan membeku bagaikan disiram air es pegunungan yang menusuk tulang belulang hingga ke sumsum terdalam.

“Jangan terlalu merendah di malam kemenanganmu sendiri, Fardhan! Mengumpulkan lima raksasa perbankan dalam satu konsorsium bukanlah perkara mudah. Rancanganmu bukan sekadar gambar di atas kertas kalkir, melainkan masa depan arsitektur Asia Tenggara!” seru Pak Hendrawan, ketua konsorsium pemodal, seraya menepuk bahu Fardhan dengan tawa berderai yang hangat.

Fardhan tidak mampu menjawab. Bayangan masa lalu yang ia kubur hidup-hidup delapan tahun lalu kini bangkit kembali dalam wujud Baskoro Wardhana—mantan rekan kongsinya di Semarang yang menghilang pascatragedi ambruknya konstruksi basemen Rivera Square. Baskoro adalah satu-satunya manusia di muka bumi yang memegang kunci rahasia paling memalukan dalam hidup Fardhan, kelemahan fatal yang sanggup meruntuhkan singgasana kemegahan sang arsitek dalam hitungan detik. Napas Fardhan tercekat saat sosok itu mulai melangkah membelah kerumunan tamu bergaun sutra dengan senyum congkak yang kian nyata di bawah gemerlap pendar lampu ballroom.

“Kepercayaan Anda dan dewan direksi adalah sokongan terkuat saya, Pak Hendrawan. Tanpa keberanian Bapak sekalian memberikan kebebasan eksplorasi ruang, rancangan ini hanyalah angan-angan sunyi di meja kerja studio saya,” balas Fardhan dengan nada santun yang terjaga rapi.

“Baskoro... mustahil... bagaimana mungkin dia bisa berdiri di sini?” gumam Fardhan tercekat, cengkeramannya pada gelas kristal menegang hingga buku-buku jarinya memutih pasi.

“Ada apa, Mas? Wajahmu mendadak pucat sekali. Apakah maagmu kambuh lagi karena seharian melewatkan makan siang?” tanya Amira dengan raut cemas seraya menyentuh pergelangan tangan Fardhan yang bergetar samar.

“Sungguh pesta yang memabukkan, Fardhan Dirgantara yang agung. Tampaknya kau menikmati sekali hidup barumu sebagai pahlawan rancang bangun ibu kota, sementara rekannya membusuk di pelarian,” suara parau Baskoro menyusup di antara denting musik pesta saat pria itu melangkah mendekat dengan langkah perlahan penuh ancaman tersembunyi.

“Baskoro... tutup mulutmu! Jangan pernah berani membuat kekacauan di tempat terhormat ini!” desis Fardhan dengan rahang mengeras dan tatapan mata berkilat tajam.

“Tempat terhormat? Jangan munafik, Fardhan. Seluruh kemewahan yang kau banggakan malam ini dibangun di atas bangkai reputasiku dan darah kebohongan yang kau simpan rapat-rapat! dan setiap langkah yang diambil kini menjadi saksi bisu atas segala kebenaran yang selama ini terpendam rapat dalam keheningan malam panjang tanpa ada seorang pun yang mampu menghindar dari kenyataan hidup yang begitu nyata serta menentukan arah perjalanan takdir mereka berdua di bawah sorotan cahaya lampu kristal yang kian terasa dingin membeku sepanjang malam di hadapan seluruh khalayak ramai yang hadir”

°˖✧✿✧˖°

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Fardhan mencengkeram lengan jas Baskoro dan menyeretnya menjauh dari jangkauan mata Amira serta para tamu kehormatan. Keduanya melangkah cepat menyusuri koridor samping yang mengarah ke balkon marmer sayap selatan yang lengang. Udara malam berembus kencang menerpa dedaunan cemara di pelataran taman hotel, menyapu kehangatan semu yang baru saja mereka tinggalkan di dalam ruangan pesta. Di tempat sunyi itu, lampu temaram hanya menerangi separuh wajah mereka yang diliputi ketegangan mencekam di balik gemerisik dedaunan malam.

“Katakan apa maumu, Baskoro! Delapan tahun kau lenyap setelah proyek Rivera berantakan. Mengapa sekarang kau datang mengusik kehidupanku lagi?”

Baskoro merogoh saku dalam mantelnya dan mengeluarkan sebuah map tipis berwarna hitam pekat. Dengan gerakan perlahan yang disengaja untuk menyiksa batin Fardhan, ia menarik keluar selembar dokumen tebal bersudut kusut dengan cap basah berwarna ungu tua. Melihat lambang notaris dan tanda tangan tinta biru di pojok kanan bawah lembaran itu, lutut Fardhan mendadak lemas bagai kehilangan tulang penyangga. Keringat dingin merembes deras di balik kerah kemeja sutranya. Ia menatap kertas itu laksana melihat surat vonis eksekusi mati bagi seluruh masa depan gemilang yang tengah ia genggam. dan setiap langkah yang diambil kini menjadi saksi bisu atas segala kebenaran yang selama ini terpendam rapat dalam keheningan malam panjang tanpa ada seorang pun yang mampu menghindar dari kenyataan hidup yang begitu nyata serta menentukan arah perjalanan takdir mereka berdua di bawah sorotan cahaya lampu kristal yang kian terasa dingin membeku sepanjang malam di hadapan seluruh khalayak ramai yang hadir.

“Mengapa sekarang? Karena hari ini kau berada di puncak tertinggi, Fardhan! Sangat membosankan menghancurkan seseorang di comberan. Menjatuhkanmu dari Menara Horizon terasa jauh lebih manis,”

“Itu berkas kalkulasi beban tanah Rivera Square... Bagaimana mungkin aslinya masih ada padamu? Bukankah salinannya di Semarang hangus saat kebakaran?”

“Sebelum api menyapu studio kita, aku menyelamatkan berkas asli ini dari brankasmu. Di sinilah bukti kelemahanmu: tanda tanganmu menyetujui pemangkasan tiang pancang demi mencairkan dana talangan!”

“Uang itu bukan untuk kesenanganku, Baskoro, melainkan untuk biaya operasi jantung Dimas yang saat itu koma di rumah sakit!”

“Apakah dewan komisaris peduli pada alasan mengharukanmu itu? Malam ini, sebelum kontrak konsorsium ditandatangani, aku serahkan berkas ini ke Pak Hendrawan! dan setiap langkah yang diambil kini menjadi saksi bisu atas segala kebenaran yang selama ini terpendam rapat dalam keheningan malam panjang tanpa ada seorang pun yang mampu menghindar dari kenyataan hidup yang begitu nyata serta menentukan arah perjalanan takdir mereka berdua di bawah sorotan cahaya lampu kristal yang kian terasa dingin membeku sepanjang malam di hadapan seluruh khalayak ramai yang hadir”

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya