Antara Cinta dan Orang Tua
---o0o---
Lembayung senja membakar langit pedesaan dengan warna merah keemasan yang syahdu. Hawa dingin pegunungan perlahan turun membungkus teras samping rumah keluarga Ar Rimbai. Di atas balai-balai kayu tua, Abdul Karim duduk membisu seraya memangku cangkir teh yang telah dingin. Garis-garis keriput di wajah tua itu tampak lebih dalam dari biasanya, menyimporkan beban pikiran yang amat berat.
Fardhan Ar Rimbai melangkah mendekat, membawa nampan berisi potongan singkong rebus yang baru saja diangkat dari dapur. Ia memperhatikan raut wajah ayahnya yang lelah, lalu duduk bersila di samping beliau.
"Ayah," panggil Fardhan dengan suara lembut dan santun. "Minumlah tehnya selagi hangat. Ada hal penting yang mengganggu pikiran Ayah sejak kita pulang dari majelis musyawarah?"
Abdul Karim tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, memandangi helai daun teh yang mengendap di dasar cangkir sebelum menoleh menatap putra sulungnya.
"Fardhan," buka Abdul Karim dengan nada suara yang perlahan dan serat akan kehati-hatian. "Ayah sangat bangga melihat bagaimana kamu memperjuangkan cinta dan kehormatan keluargamu di hadapan paman-paman Humaira."
"Semua itu berkat doa dan bimbingan Ayah," sahut Fardhan tulus seraya tersenyum tipis.
Namun, senyuman Abdul Karim tidak mengembang. Pandangan matanya justru meredup oleh gumpalan rasa cemas yang dalam.
"Tetapi Fardhan," lanjut Abdul Karim dengan bisikan pelan yang bergetar. "Tuduhan dari utusan lembaga pengawasan tadi sore... laporan tuduhan pencucian uang dan aliran dana gelap itu bukanlah perkara sepele. Ayah merasa ada pihak-pihak besar di luar sana yang sengaja memanfaatkan pernikahan ini untuk menjatuhkanmu."
Fardhan menyimak dengan cermat, memegang jemari ayahnya yang gemetaran. "Saya memahami kekhawatiran Ayah. Namun, saya yakin Rimbai Niaga Mandiri selalu berjalan di atas ketelitian dan kejujuran."
"Bukan hanya soal bisnis, Fardhan!" potong Abdul Karim dengan suara yang tiba-tiba meninggi karena emosi yang tertahan. "Ayah mendengar bisik-bisik dari kerabat tua kita di desa sebelah. Persyaratan adat dan tekanan dari keluarga besar Al-Faruqi ternyata menuntut agar seluruh jaminan aset usahamu dialihkan atas nama lembaga surau sebelum pernikahan digelar!"
Fardhan tertegun, keningnya berkerut halus. "Siapa yang menyampaikan syarat jaminan itu kepada Ayah?"
"Paman-pamanmu sendiri yang menyampaikannya secara tersirat kemarin malam!" tegas Abdul Karim dengan mata berkaca-kaca. "Mereka ingin memastikan bahwa jika kamu tersandung masalah hukum, keluarga Humaira tidak ikut terseret. Ayah merasa... keluarga kita diremehkan dan ditekan terlalu jauh, Fardhan!"
Fardhan terdiam seketika, merasakan hantaman emosi yang besar di dalam dadanya. Di satu sisi, ia sangat mencintai Humaira dan telah berjuang keras mendapatkan restu keluarga besar Al-Faruqi. Di sisi lain, ia melihat ayahnya tersakiti oleh prasangka dan tuntutan adat yang dirasakan terlalu menekan martabat orang tuanya.
"Ayah tidak rela melihatmu merendahkan diri dan menyerahkan seluruh hasil keringat keluargamu hanya demi mengejar restu sebuah pernikahan," tutur Abdul Karim seraya menatap lurus mata putranya. "Jika pernikahan ini harus membuat Ayah kehilangan kehormatan dan merasa terhina, lebih baik kamu pertimbangkan kembali niatmu, Fardhan."
°˖✧✿✧˖°
Perkataan sang ayah bagaikan petir yang menyambar di tengah malam yang hening. Fardhan merasa bumi di bawah pijakannya bergetar hebat. Ia duduk terpaku di balai-balai kayu, memandangi punggung Abdul Karim yang melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah lunglai dan penuh kekecewaan.
Mendapatkan Humaira adalah impian terbesar dalam hidupnya, sebuah muara dari segala kesabaran dan doa yang dipanjatkannya selama bertahun-tahun. Namun, mendapatkan Humaira dengan cara melukai perasaan dan mengorbankan kehormatan ayahnya adalah harga yang sama sekali tidak sanggup ia bayar.
Fardhan melangkah keluar menuju lorong jalan desa yang sepi. Angin malam berembus kencang, menampar wajahnya yang pucat. Di ujung lorong, Hafiz Al-Manshur berjalan terburu-buru menghampirinya seraya membawa lembaran berkas audit sementara dari gudang.
"Fardhan!" panggil Hafiz dengan suara panik. "Aku sudah mengecek mutasi rekening gudang tiga bulan terakhir!"
Fardhan menghentikan langkahnya, menatap sahabatnya dengan pandangan mata yang berat. "Bagaimana hasilnya, Hafiz?"
"Ada transaksi masuk misterius sebesar lima ratus juta rupiah dari rekening cangkang luar negeri dua minggu lalu!" terang Hafiz seraya menyerahkan lembaran kertas bukti transfer. "Seseorang sengaja memasukkan uang itu tanpa sepengetahuan sistem pembukuan kita!"
"Siapa nama pemilik rekening pengirim itu, Hafiz?" tanya Fardhan dengan suara bulat dan dingin.
"Atas nama PT Nusantara Jaya Megah... anak perusahaan milik Konsorsium Haji Rahmat!" jawab Hafiz tegas. "Ini murni jebakan licik untuk menjebloskanmu ke penjara dan menggagalkan pernikahanmu dengan Humaira!"
Fardhan memejamkan matanya rapat-raapat, menghembuskan napas panjang yang terasa sangat sesak. Musuh-musuh bisnisnya menyerang dari luar, sementara benturan emosi melanda dari dalam rumahnya sendiri.
"Hafiz," tutur Fardhan lembut. "Masalah audit ini bisa kita selesaikan dengan fakta hukum. Namun, ada krisis yang jauh lebih berat dari sekadar ancaman penjara ini."
Hafiz menatap Fardhan heran. "Masalah apa yang lebih berat dari ancaman penyitaan aset dan penjara, Fardhan?"
"Ayah merasa terhina oleh tuntutan syarat jaminan dari keluarga Humaira," sahut Fardhan dengan keteguhan jiwa yang mengharu biru. "Ayah memintaku mempertimbangkan kembali rencana pernikahan ini jika itu harus merendahkan martabat keluarga kami."
Hafiz membelalakkan matanya terkejut. "Masya Allah... Lalu apa yang akan kamu lakukan, Fardhan? Akad nikahmu tinggal terhitung hari!"
"Aku tidak akan pernah melangkah ke pelaminan di atas tetesan air mata kekecewaan Ayahku," tegas Fardhan tanpa ragu sedikit pun. "Jika aku harus memilih antara memaksakan cinta atau membahagiakan orang tua, maka kehormatan dan ridha Ayahku berada di atas segala-galanya!"
°˖✧✿✧˖°
Keesokan harinya, desas-desus mengenai penundaan akad nikah dan benturan antara keluarga Ar Rimbai dengan keluarga Al-Faruqi mulai merebak halus di kalangan warga desa. Keadaan menjadi kian rumit ketika kabar tentang tim investigasi keuangan yang berkantor di gudang Rimbai Niaga Mandiri terdengar oleh para tetua desa.
Di teras keputrian surau, Humaira duduk terpaku di kursi kayu. Di hadapannya, Aisyah Rahmah menceritakan situasi yang terjadi di kediaman Fardhan dengan raut wajah penuh keprihatinan.
"Humaira," bisik Aisyah pelan. "Pak Karim merasa tersinggung atas syarat jaminan aset yang diusulkan oleh Paman Bahri kemarin. Fardhan sekarang berada dalam posisi yang sangat sulit."
Humaira meremas jemarinya yang dingin, matanya berbinar oleh duka yang mendalam. "Apakah Fardhan mengatakan sesuatu tentang pernikahan kami, Aisyah?"
"Fardhan menyatakan bahwa ia tidak ingin melanjutkan pernikahan jika itu harus menyakiti perasaan ayahnya," sahut Aisyah jujur.
Humaira menundukkan kepalanya, air mata bening menetes perlahan membasahi pangkuannya. Namun, tidak ada rasa marah atau dendam di dalam dada wanita berakhlak mulia itu. Humaira justru merasakan rasa kagum dan hormat yang makin membumbung tinggi kepada sosok Fardhan.