Memilih Jalan yang Halal
---o0o---
Suara gemericik air wudu mengalir jernih dari pancuran batu di samping serambi rumah kediaman Khalid Al-Basri. Malam merayap tenang menaungi desa, dibalut hawa dingin pegunungan yang membawa aroma tanah basah dan wangi kembang melati. Fardhan Ar Rimbai mengusap sisa air di wajahnya, membetulkan letak peci hitam dan jas koko bersahaja yang melingkupi tubuhnya. Di sampingnya, Rafiq Al-Hakim menepuk bahu sahabatnya itu untuk memberikan ketenangan.
"Tenangkan hatimu, Fardhan," puji Rafiq seraya tersenyum tulus. "Langkahmu malam ini adalah bukti keberanian seorang pejuang yang menempuh jalan yang diridai Allah swt."
Fardhan mengangguk perlahan, merapikan sarung tenunnya sebelum melangkah naik ke tangga kayu serambi. "Terima kasih, Rafiq. Sungguh, getaran di dadaku saat ini jauh lebih hebat daripada saat aku menghadapi risiko kehilangan puluhan armada truk di pelabuhan."
Di dalam ruang tamu yang diterangi lampu gantung berdesain klasik, telah hadir Kiai Zulfikar Al-Faruqi, Khalid Al-Basri, serta Ibunda Maryam dan Salmah yang sengaja dijemput dari kampung halaman. Kehadiran tokoh-tokoh terhormat dan keluarga inti tersebut membungkus ruangan dengan pendar kehangatan serta kekhusyukan yang amat kental.
"Assalamu’alaikum warahmatullah," sapa Fardhan santun seraya membungkukkan badan dan mencium tangan Kiai Zulfikar serta Pak Khalid.
"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Fardhan," sahut Khalid Al-Basri dengan senyum lebar penuh keteduhan. "Duduklah, Nak. Kami semua memang sudah menantikan kehadiranmu malam ini."
Fardhan mengambil tempat duduk di samping ibunya. Maryam menatap putra sulungnya dengan air mata keharuan yang tergenang di sudut mata. Jemari renta ibunya meraih tangan Fardhan, menggenggamnya erat untuk mengalirkan kekuatan batin.
"Fardhan," panggil Kiai Zulfikar dengan suara sejuknya yang berwibawa. "Malam ini adalah malam yang amat mulia. Engkau datang membawa niat suci yang telah engkau rawat di dalam doa-doa panjangmu. Sampaikanlah apa yang menjadi maksud dari isi hatimu kepada Pak Khalid dan keluarga."
Fardhan menarik napas dalam-dalam, menundukkan pandangannya sejenak guna menata getaran di dadanya. Saat ia mendongak, matanya memancarkan kesungguhan murni tanpa ada sedikit pun keraguan.
"Bismillahirrahmānirrahīm," tutur Fardhan dengan suara jernih yang mantap. "Pak Khalid, Kiai, dan Ibunda yang hamba cintai... Kedatangan saya malam ini adalah untuk menyampaikan niat suci melamar putri Bapak, Mbak Humaira, untuk menjadi pendamping hidup saya."
Khalid Al-Basri mendengarkan dengan keheningan yang khidmat, menganggukkan kepalanya perlahan.
"Saya menyadari sepenuhnya," lanjut Fardhan, "siapa diri saya. Saya hanyalah seorang pemuda desa yang pernah merasakan kejatuhan, merintis kembali usaha dari bawah, dan hingga hari ini masih terus belajar menjaga kebersihan rezeki. Saya tidak datang membawa jaminan kemewahan yang megah, tetapi saya membawa janji setia untuk memimpin rumah tangga di atas jalan yang halal dan diridai Allah swt."
°˖✧✿✧˖°
Suasana di dalam ruang tamu mendadak hening untuk beberapa saat. Desir angin malam dari arah pekarangan menggerakkan tirai jendela kayu, menyebarkan harum bunga sedap malam yang menenteramkan. Khalid Al-Basri memandang Fardhan lurus-lurus, lalu beralih menatap Ibunda Maryam yang duduk bersahaja.
"Masya Allah... Sebuah ungkapan niat yang teramat indah dan bernilai tinggi, Fardhan," puji Khalid Al-Basri dengan suara berat penuh keharuan. "Di zaman sekarang, amat sedikit pemuda yang datang melamar dengan mengedepankan komitmen jalan yang halal di atas segala pernak-pernik kekayaan duniawi."
"Pak Khalid," sela Ibunda Maryam dengan nada suara lembut yang bergetar. "Fardhan adalah putra kami yang kami didik dalam kesederhanaan dan kejujuran. Sejak kecil, kami tidak pernah memberinya makan dari rezeki yang diragukan kehalalannya. Kami menyerahkan sepenuhnya keputusan ini kepada Pak Khalid dan Mbak Humaira."
Khalid Al-Basri tersenyum tulus, mengusap wajahnya penuh rasa syukur. "Ibu Maryam, merupakan sebuah kehormatan yang teramat besar bagi keluarga kami jika bisa menyatukan ikatan persaudaraan dengan keluarga mulia seperti keluarga Ibu."
Tak lama kemudian, dari arah pintu dalam, Humaira melangkah keluar didampingi oleh Aisyah Rahmah. Humaira mengenakan busana muslimah berwarna krem bersahaja dengan jilbab yang menjuntai anggun. Wajahnya menunduk santun, memancarkan pendar kedamaian jiwa yang jernih. Ia mengambil tempat duduk di samping ayahnya.
"Humaira, Putriku," panggil Khalid Al-Basri dengan kehangatan sorot mata seorang ayah. "Fardhan Ar Rimbai telah menyampaikan niat sucinya secara resmi di hadapan kita semua, di hadapan Kiai Zulfikar dan ibundanya. Bagaimanakah jawaban dari hatimu, Nak?"
Humaira menghela napas perlahan, membetulkan jemarinya yang teratur rapi di atas pangkuan. Ia mendongak sejenak, menatap ayahnya sebelum menyampaikan jawaban yang telah ia perhitungkan dalam istikharah panjangnya.
"Bismillah..." bisik Humaira dengan suara jernih yang berbobot. "Ayah... Sepanjang perjalanan hidup saya, Ayah dan Kiai selalu mengajarkan bahwa ukuran utama seorang lelaki pimpinan rumah tangga bukanlah dari seberapa banyak harta yang ia kumpulkan, melainkan dari seberapa teguh ia menjaga prinsip kehalalan rezeki dan ketakwaannya kepada Sang Creator."
Fardhan menyimak setiap patah kata yang terucap dari bibir Humaira dengan ketelitian batin yang amat dalam.