SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #49

DO'A DUA HATI

Doa Dua Hati

---o0o---

Ketenangan malam menyelimuti pelataran Surau Desa seusai runtutan kepanikan akibat guncangan lereng gunung tadi sore. Gemuruh air bendungan yang sempat memicu kepanikan warga rupanya bukan banjir bandang yang menghancurkan permukiman, melainkan pelepasan debit air otomatis akibat runtuhnya tebing pembatas saluran irigasi tua. Fardhan Ar Rimbai bergerak cepat memimpin para pemuda dan tim evakuasi Rimbai Niaga Mandiri, memastikan saluran air berbelok aman menuju sungai bawah sehingga sawah dan pemukiman warga terhindar dari kerusakan parah.

Kini, ketika rembulan naik tinggi menembus sela-sela dahan pohon jati, keheningan yang anggun kembali merayapi sudut-sudut pesantren. Suara jangkrik bersahut-sahutan renyah di antara hembusan angin malam yang sejuk.

Di serambi samping surau yang terlindung ukiran jati kuno, Fardhan duduk membisu di atas tikar pandan. Tubuhnya terasa lelah seusai mengarahkan pengerjaan tanggul darurat, namun jiwanya dipenuhi oleh pusaran perenungan yang amat dalam. Penghujung perjalanan menuju hari akad nikah yang sempat tertunda kini berada di ambang mata.

Di seberang batas area keputrian, Humaira duduk bersila di dekat jendela kayu yang terbuka separuh. Di sampingnya, sebuah lampu minyak memancarkan cahaya keemasan yang hangat, memantul lembut pada paras cantiknya yang tenang tanpa riasan berlebihan.

Antara teras surau dan jendela keputrian hanya terpisah oleh halaman rumput hijau tempat bunga-bunga melati malam mekar menyebarkan aroma harum semerbak.

Fardhan memandangi bayangan lampu minyak di balik tirai tipis keputrian, lalu berbisik lirih kepada dirinya sendiri.

"Hafiz," panggil Fardhan pelan kepada sahabatnya yang sedang duduk merapikan catatan logistik tanggul di sudut teras.

Hafiz menoleh, meletakkan penanya. "Iya, Fardhan? Kenapa belum istirahat? Besok pagi prosesi akad nikah resmi akan diulang dan disahkan secara sempurna."

"Aku sedang merenungi seluruh gelombang ujian yang menghantam kita beberapa bulan terakhir," tutur Fardhan seraya menatap langit malam yang ditaburi bintang. "Mulai dari boikot tengkulak, tawaran modal investasi kotor, ancaman hukum palsu, hingga guncangan alam tadi sore."

Hafiz tersenyum lembut. "Semua ujian itu membuktikan bahwa kamu dan Humaira adalah pasangan yang dipilih Allah untuk melangkah bersama, Fardhan."

"Justru di situlah letak kekhawatiranku, Hafiz," pangkas Fardhan dengan ketulusan jiwa yang amat jernih. "Sering kali, dalam mengejar sesuatu yang sangat kita cintai, kita terjebak dalam egoisnya perasaan. Kita mengira bahwa memiliki seseorang adalah puncak dari kebahagiaan, sampai kita lupa bertanya apakah takdir itu benar-benar membawa keberkahan bagi agama dan akhirat kita."

Di balik jendela keputrian, Humaira mendengarkan desir angin malam seraya merapatkan mukena putihnya.

Aisyah Rahmah yang duduk di samping Humaira menyentuh jemari sahabatnya dengan lembut. "Humaira, apa yang sedang kamu pikirkan di malam tenang seperti ini?"

Humaira menghembuskan napas pelan, matanya menatap pendar cahaya lilin. "Aku sedang menata hatiku, Aisyah. Beberapa jam lagi statusku akan berubah. Aku tidak ingin memasuki ikatan suci ini dengan hati yang dikuasai oleh rasa memiliki yang berlebihan."

"Bukankah wajar jika kamu sangat berharap Fardhan menjadi suamimu setelah semua perjuangan ini?" tanya Aisyah cermat.

"Sangat wajar jika diturutkan hawa nafsu manusia, Aisyah," sahut Humaira dengan suara yang amat syahdu. "Namun, aku takut jika kepemilikan itu lahir dari paksaan kehendakku sendiri, bukan dari ridha Ilahi."

°˖✧✿✧˖°

Keheningan malam makin larut, membawa atmosfer spiritual yang amat kental di sekitar komplek pesantren. Baik Fardhan maupun Humaira tidak lagi membicarakan masalah teknis pernikahan atau urusan logistik pasar. Di tempatnya masing-masing, dua insan yang dibimbing oleh ketakwaan itu mulai mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah shalat malam.

Fardhan melangkah ke bagian dalam surau yang redup. Suara gemericik air wudhu yang membasahi wajah dan tangannya terasa menyegarkan seluruh sel dalam tubuhnya. Di atas sajadah hijau yang terbentang di mihrab, Fardhan berdiri tegak, bertakbir mengangkat kedua tangannya seraya menyerahkan seluruh pasrah jiwanya kepada Sang Khalik.

Di saat yang bersamaan, di dalam kamar keputrian yang sunyi, Humaira membentangkan sajadah tenunnya. Ia berdiri dengan kekhusyukan yang murni, membacakan ayat-ayat suci dalam keheningan sepertiga malam terakhir.

Seusai menguapkan salam ke kanan dan ke kiri, Fardhan menangkupkan kedua telapak tangannya di dada. Matanya terpejam rapat, bibirnya bergetar membisikkan untaian doa yang mengalir langsung dari dasar lubuk hatinya yang paling dalam.

Doanya malam itu tidak diawali oleh permintaan egois seorang pemuda yang sedang jatuh cinta. Fardhan tidak mengucapkan kalimat: “Ya Allah, jadikanlah Humaira milikku, satukanlah kami tanpa ada halangan lagi.”

Fardhan menarik napas panjang yang terasa bergetar, lalu membisikkan kalimat ketundukan jiwa:

"Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa yang tersimpan di dalam dada hamba. Engkau tahu betapa hamba mengagumi dan mencintai Humaira karena ketakwaan dan kebaikan akhlaknya..."

Fardhan menghentikan doanya sejenak, menahan rasa haru yang membuncah di dalam dadanya.

"Namun Ya Allah, hamba tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Hamba tidak tahu apakah penyatuan kami akan membawa kami makin dekat kepada-Mu atau justru melengahkan kami dari jalan-Mu. Maka hamba memohon kepada-Mu dengan Asma-Mu Yang Maha Agung: Jika Humaira itu baik untuk agama hamba, baik untuk kehidupan hamba, dan baik untuk kesudahan urusan dunia serta akhirat hamba, maka takdirkanlah kami untuk bersatu... Mampukanlah hamba menjadi imam yang amanah baginya..."

Di balik dinding keputrian, Humaira menundukkan kepalanya sangat dalam di atas sajadah. Air mata bening menetes perlahan dari sudut matanya, membasahi kain mukena putih yang dikenakannya. Humaira memanjatkan untaian doa yang sama persis, tanpa ada perundingan atau janji terlebih dahulu dengan Fardhan.

Humaira tidak berdoa: “Ya Allah, takdirkan Fardhan menjadi suamiku, jangan biarkan kami terpisah.”

Tetapi lisan Humaira membisikkan kepasrahan yang teramat mulia:

"Ya Rabb... Jika Fardhan Ar Rimbai adalah pria yang baik untuk agamaku, baik untuk menjaga kehormatan keluargaku, dan baik untuk membimbing langkahku menuju surga-Mu, maka dekatkanlah hatinya dengan hatiku... Berkahilah ikatan kami di atas jalan ridha-Mu..."

"Tetapi jika menurut ilmu-Mu yang Maha Luas, penyatuan ini justru menjauhkan kami dari keberkahan-Mu, maka berikanlah kelapangan di dalam dada kami untuk menerima takdir-Mu dengan penuh keikhlasan..."

°˖✧✿✧˖°

Dua doa dari dua hati yang bersih bergetar hebat menembus langit malam, menjadi saksi kepasrahan paling murni sebelum sebuah ikatan suci diresmikan di bumi.

Keesokan harinya, fajar Subuh menyingsing dengan warna merah muda dan keemasan yang sangat indah di atas puncak pegunungan. Hawa dingin terangkat perlahan digantikan oleh kehangatan sinar matahari pagi yang segar. Burung-burung berkicau riang di dahan pohon jati, seolah ikut menyambut hari yang penuh dengan keberkahan.

Di halaman Surau Desa, suasana telah ditata kembali dengan amat rapi seusai penanganan tanggul kemarin sore. Karpet-karpet merah terbentang dari gerbang hingga ke dalam pendopo utama. Janur kuning dan rangkaian bunga melati putih segar menghiasi tiang-tiang kayu jati, menyebarkan wangi alami yang menentramkan setiap jiwa yang hadir.

Ratusan warga desa, petani mitra dari lima kawasan, para pedagang eceran Pasar Induk, hingga tokoh-tokoh masyarakat telah berkumpul memenuhi area surau. Wajah-wajah mereka dipenuhi oleh raut gembira dan rasa syukur yang mendalam.

Lihat selengkapnya