SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #50

AKAD YANG SEDERHANA

Akad yang Sederhana

Pernikahan berlangsung sederhana. Tidak ada pesta berlebihan.Yang terpenting adalah akad, keluarga, doa, dan keberkahan.

---o0o---

Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung malas di pucuk dahan mangga ketika Rayhan mengancingkan baju kurung putih polosnya di depan cermin retak ujung bilik. Tidak ada perias pengantin tersohor yang mondar-mandir membawa koper kosmetik besar berlampu gemerlap. Tidak ada dentum pelantang suara yang memekakkan telinga dengan lagu sewaan dari pagi buta. Hanya ada aroma seduhan kopi tubruk pekat, wangi irisan daun pandan yang dirajang bibinya di ambang dapur, dan helaan napasnya sendiri yang terdengar begitu berat dan berhati-hati.

"Apakah kain songket ini tampak miring di pinggangku, Bu?" tanya Rayhan seraya menoleh pelan ke arah ambang pintu bilik. Kedua tangannya meraba sabuk pinggang, merapikan lilitan kain tenun sederhana peninggalan almarhum kakeknya yang telah disetrika licin semalam.

Ibu Salamah melangkah mendekat dengan langkah perlahan bertumpu pada tongkat kayu jati tua miliknya. Kerut-kerut halus di sekitar sudut matanya melengkung hangat saat kedua tangannya menyentuh pundak putra sulungnya dengan kelembutan tiada tara. "Sudah rapi sekali, Le. Sangat bersahaja dan tampak tampan bercahaya. Persis seperti almarhum ayahmu tiga puluh tahun silam ketika ia menjemput Ibu dengan sepeda kumbang tua tanpa kemewahan harta apa pun."

Rayhan tersenyum tipis, kendati ada riak kecemasan yang berputar di matanya. "Kemarin petang Bu RT sempat singgah ke teras samping rumah kita, menanyakan kenapa tidak ada terpal tenda biru yang dipasang melintang di depan lorong gang. Beliau heran kita tidak menyewa organ tunggal, pelaminan berukir emas, atau sekadar menancapkan sepasang janur kuning di muka pagar bambu."

"Lalu apa yang kamu katakan kepada tetangga kita itu, Nak?" tanya Ibu dengan nada suara lembut seraya mengusap kerah baju kurung Rayhan.

"Aku hanya menjawab pelan bahwa Alana dan aku menginginkan akad yang khusyuk dan hening di hadapan Allah," tutur Rayhan seraya menatap jemari ibunya. "Kami hanya memerlukan kehadiran keluarga inti, saksi yang jujur, doa orang saleh, dan keberkahan yang cukup bagi kami berdua untuk memulai lembaran baru. Tidak ada utang sewa gedung, tidak ada pesta berlebihan yang menyisakan beban cicilan berbulan-bulan."

Ibu mengangguk perlahan, lalu meletakkan telapak tangannya di atas dada kiri Rayhan yang berdegup kencang. "Dunia ini selalu gemar menakar martabat seseorang dari ramainya piring prasmanan yang berdenting dan mewahnya panggung pelaminan, Rayhan. Tetapi ketahuilah olehmu, rumah tangga dibangun di atas sujud sajadah, bukan di atas panggung sandiwara. Jangan pernah berkecil hati sedikit pun jika ada bisik-bisik mencemooh di balik dinding tetangga."

"Aku sama sekali tidak malu pada diriku sendiri, Bu," sahut Rayhan dengan sorot mata teguh. "Hanya saja, terkadang ada rasa bersalah yang menyelinap. Aku khawatir Alana merasa ada impian masa kecilnya yang terenggut karena bersedia hidup bersamaku dalam segala kesahajaan ini."

"Alana adalah gadis yang berhati permata mulia, Rayhan," timpal Ibu sambil tersenyum menatapnya penuh keyakinan batin. "Perempuan salehah sepertinya tidak menuntut istana megah. Dia hanya mendambakan seorang imam yang bertanggung jawab dan tidak akan pernah meremukkan hatinya di kemudian hari."

"Semoga aku mampu memikul amanah besar ini, Bu," bisik Rayhan dengan dada bergemuruh.

"Pasti mampu, selama engkau selalu meletakkan Allah di atas segalanya," sambung Ibu menenangkan hatinya.

"Aku berjanji akan menjaga Alana seumur hidupku dengan tulus dan penuh kasih sayang," balas Rayhan seraya mencium punggung tangan ibunya dengan penuh rasa takzim dan keikhlasan jiwa yang mendalam.

Paman Aris menjulurkan kepalanya dari balik tirai bergaris hijau lumut dengan senyum lega. "Rayhan, rombongan kecil keluarga Alana sudah tiba di ruang depan. Saksi dan penghulu baru saja memarkir sepeda motor di bawah naungan pohon ketapang rindang. Segeralah bersiap, jangan biarkan hatimu diliputi keraguan lagi."

"Terima kasih banyak, Paman Aris. Kami segera keluar ke ruang depan," balas Rayhan seraya menghela napas panjang.

Ibu Salamah menggenggam erat pergelangan tangan Rayhan. "Ingat pesan almarhum ayahmu, Nak. Menikah itu ikrar suci perjanjian agung di hadapan langit. Berniatlah lillahi ta'ala. Langkahkan kakimu keluar dari bilik ini dengan bismillah dan keteguhan iman."

"Bismillah, Ibu. Ridhai langkahku dan sertailah aku dalam setiap hembusan doa malam Ibu," ucap Rayhan penuh ketulusan sebelum melangkah tegak menyongsong beranda ruang depan tempat takdir hidupnya telah menanti setia dengan ketabahan jiwa raga yang teguh.

°˖✧✿✧˖°

Ruang tamu beralaskan karpet merah pudar dan anyaman tikar pandan itu tampak begitu tenang dan bersahaja. Tidak ada kursi pelaminan bertabur ukiran emas imitasi. Hanya ada sebuah meja kayu jati rendah berpelitur cokelat tua yang diletakkan tepat di tengah ruangan, beralaskan sehelai kain putih bersih dengan sevas mawar putih kebun petikan kemarin petang. Di sanalah duduk Pak Wahid, penghulu dari Kantor Urusan Agama berpakaian batik rapi, bersama Pak Darman, ayah kandung Alana yang duduk dengan tatapan haru yang teramat dalam.

"Silakan duduk di sisi kiri meja ini, Mas Rayhan," sapa Pak Wahid dengan nada suara bariton yang ramah dan menenangkan.

Rayhan mengambil tempat duduk bersila di hadapan meja kayu tersebut seraya mengangguk takzim. "Terima kasih banyak, Pak Penghulu. Selamat pagi."

"Pagi yang penuh berkah untuk kita semua," sahut Pak Darman sembari tersenyum menyambut calon menantunya.

Pak Wahid membuka map berkas berwarna hijau pupus, mencocokkan dokumen tanda pengenal, akta kelahiran, dan lembar persetujuan nikah yang telah ditandatangani kedua belah pihak beberapa pekan lalu. "Sebelum kita memulai pembacaan khotbah nikah, saya perlu menanyakan satu hal mendasar kepada calon mempelai pria dan wali nikah. Pernikahan ini digelar sangat tenang dan bersahaja tanpa keramaian hajatan. Apakah tidak ada paksaan atau beban keterpaksaan dari pihak mana pun?"

Pak Darman mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah penghulu dengan senyuman tulus yang menyejukkan batin siapa pun yang memandangnya. "Sama sekali tidak ada keterpaksaan, Pak Penghulu. Sejak awal, putri saya, Alana, dan ananda Rayhan telah bermusyawarah dengan kami para orang tua. Mereka berdua bersepakat bahwa uang tabungan yang ada lebih bermanfaat untuk bekal merintis usaha dan menyewa hunian sederhana pasca-pernikahan, bukan dihamburkan dalam satu hari pesta mewah demi gengsi semata."

"Alhamdulillah," ucap Pak Wahid sambil mengangguk puas seraya membubuhkan paraf pada lembar verifikasi berkas. "Keputusan yang sangat bijak dan jarang sekali kita temui di zaman serba pamer seperti sekarang ini. Banyak pasangan muda terjebak utang demi resepsi megah, lalu bertengkar hebat pada bulan pertama karena cicilan menumpuk."

Rayhan menundukkan pandangan seraya tersenyum penuh rasa hormat. "Kami hanya ingin memastikan bahwa fondasi awal kami dimulai dengan ketulusan dan ketenangan batin, Pak Wahid. Yang terpenting bagi kami adalah keabsahan ijab, ridha orang tua, dan doa tulus keluarga."

"Tepat sekali, anak muda," sambung penghulu seraya merapikan mapnya. "Sekarang, panggillah calon pengantin wanita untuk menyaksikan akad dari balik sekat tirai ini."

"Panggil Alana kemari segera, Dik," ujar Pak Darman menoleh ke arah istrinya yang bersiap di depan pintu bilik dengan senyuman hangat.

°˖✧✿✧˖°

Tepat ketika tirai pembatas dibuka dan Alana melangkah keluar dengan kebaya putih berbalut selendang brokat sederhana karya tangannya sendiri, pintu depan berderit agak keras. Seorang kerabat jauh dari luar kota, Bu Lik Murtini, melangkah masuk seraya menatap sekeliling ruangan dengan pandangan mencibir sinis. Tas jinjing bermerek tiruan miliknya diletakkan begitu saja di atas bangku rotan samping pintu.

"Ya ampun, Darman! Jadi benar-benar cuma seperti ini acaramu menikahkan anak gadis semata wayangmu?" seru Bu Lik Murtini dengan nada suara yang sengaja tidak ditahan, membuat suasana hening seketika membeku kaku bagai es.

Pak Darman menghela napas panjang, berusaha menahan riak gelisah yang sempat berdenyut di dadanya. "Duduklah dulu dengan tenang, Murtini. Acara sakral ini baru saja hendak kita mulai dengan pembacaan doa bersama."

"Bukannya aku mau ikut campur urusan dapur orang, Darman," tukas wanita itu sembari melipat kedua tangannya di dada dengan bibir mencibir sinis. "Tetapi Alana ini anak perempuanmu satu-satunya, sarjana pula. Masa dinikahkan layaknya orang sedang menyembunyikan aib di rumah sempit tanpa ada tenda, tanpa katering prasmanan, dan tanpa pelaminan megah? Apa kata keluarga besar kita nanti kalau kabar ini menyebar luas ke kampung sebelah?"

Lihat selengkapnya