SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #52

UJIAN DALAM RUMAH TANGGA

Ujian dalam Rumah Tangga

---o0o---

Malam makin merambat dalam, membungkus kediaman bersahaja Fardhan Ar Rimbai dan Humaira Al-Faruqi dalam keheningan yang sunyi. Jam dinding tua berlapis kayu jati di ruang tengah berdetik teratur, menunjukkan pukul sebelas malam. Di atas meja makan yang diterangi pendar hangat lampu gantung, deretan hidangan makan malam yang dimasak Humaira sejak sore tadi telah mendingin tanpa tersentuh.

Humaira duduk membisu di kursi kayu, merapatkan selendang rajutnya untuk mengusir hawa dingin pegunungan yang menembus celah jendela. Pandangan matanya nanar menatap pintu depan yang masih terkunci rapat.

Suara langkah kaki yang tertahan di pelataran luar akhirnya terdengar, disusul derit halus engsel pintu yang dibuka pelan. Fardhan melangkah masuk dengan raut wajah yang amat letih. Kemeja putihnya tampak kusut, dan tas berkas tebal di tangannya terlihat begitu berat membawa beban ekspansi Rimbai Niaga Mandiri.

"Assalamu’alaikum, Humaira..." sapa Fardhan dengan suara serak menahan lelah.

Humaira berdiri perlahan, berusaha menyunggingkan senyum meski gumpalan rasa kecewa di dadanya tak sanggup tersembunyi. "Wa’alaikumussalam warahmatullah, Kak Fardhan."

Fardhan meletakkan tas berkasnya di atas meja kerja, lalu berjalan mendekati istrinya. Ia bermaksud mengusap lembut jemari Humaira, tetapi melihat lauk-pauk yang tertutup tudung saji di meja makan, Fardhan menghentikan tangannya dan menghela napas panjang.

"Humaira... kamu belum makan malam?" tanya Fardhan dengan nada bersalah yang amat tebal.

Humaira menundukkan pandangannya, meremas selendang rajutnya. "Humaira menunggu Kakak. Humaira kira Kakak akan pulang sebelum Isya seperti janji Kakak tadi siang."

"Maafkan Kakak, Humaira..." tutur Fardhan seraya memegang dahinya yang berdenyut. "Rapat jaringan logistik dengan para pedagang pasar induk mendadak memanjang. Ada selisih pembukuan di gudang cabang yang harus Kakak selesaikan malam ini juga."

"Apakah setiap malam harus selalu ada alasan penting yang menyita waktu Kakak?" bisik Humaira dengan nada pelan namun sarat akan kepedihan batin.

Fardhan tertegun, menatap istrinya dengan pandangan serba salah. "Humaira, Kakak bekerja keras di luar sana demi menjaga kelangsungan usaha kita dan melindungi mata pencaharian para petani desa. Ini bukan sekadar urusan pribadi Kakak."

"Humaira tahu, Kak. Humaira sangat paham betapa mulianya perjuangan Kakak," sahut Humaira dengan mata yang mulai berbinar oleh genangan air mata. "Namun, dalam tiga minggu terakhir ini, Kakak hampir tidak pernah hadir secara utuh di rumah ini. Kakak pulang saat Humaira hampir tertidur, dan Kakak sudah berangkat lagi sebelum matahari terbit."

"Kakak melakukan semua ini demi masa depan rumah tangga kita juga, Humaira," potong Fardhan dengan suara yang sedikit meninggi karena keletihan fisik dan emosi yang menumpuk.

"Masa depan rumah tangga kita tidak akan ada artinya jika di masa kini kita berdua justru terasa seperti dua orang asing yang hanya berbagi atap, Kak Fardhan!" tegas Humaira, meluahkan gejolak emosi yang selama ini dipendamnya sendirian.

°˖✧✿✧˖°

Keheningan yang dingin dan kaku seketika melingkupi ruang tengah rumah mereka. Perkataan Humaira menghantam dada Fardhan bagaikan tamparan keras di tengah malam yang hening. Fardhan memandangi wajah istrinya yang basah oleh air mata, lalu mengalihkan pandangannya ke arah meja makan dengan dada yang sesak.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Fardhan berjalan menuju sudut ruang kerja, menarik kursi kayu, dan duduk terpaku memandangi tumpukan berkas laporan keuangan yang kini terasa bagaikan benteng tebal yang memisahkan dirinya dari sang istri.

Humaira berdiri membisu di ruang makan. Hatinya teriris melihat reaksi Fardhan yang memilih mengurung diri dalam diam daripada memeluk dan menenangkan gejolak perasaannya. Dengan langkah pelan dan berat, Humaira masuk ke dalam kamar tidur, menutup pintu dengan sangat rapat, lalu merebahkan tubuhnya di atas pembaringan seraya menangis sesenggukan dalam kegelapan.

Pagi harinya, suasana di rumah tangga muda itu terasa kian asing dan mencekam. Kabut tebal masih membungkus pekarangan rumah ketika Fardhan keluar dari kamar mandi. Di atas meja makan, sudah tersaji secangkir kopi hangat dan sepiri nasi goreng, namun Humaira tidak terlihat di ruangan tersebut.

Hafiz Al-Manshur melangkah masuk melalui pintu samping seraya membawa map dokumen transaksi harian. Hafiz menyadari aura dingin yang tidak biasa di dalam rumah sahabatnya.

"Assalamu’alaikum, Fardhan," sapa Hafiz pelan. "Bagaimana kondisi laporan pengiriman beras ke kota pagi ini?"

Fardhan duduk di kursi meja makan, memandangi cangkir kopinya tanpa berniat meminumnya. "Wa’alaikumussalam. Laporan sudah siap di atas meja kerja, Hafiz."

Hafiz memperhatikan mata Fardhan yang merah dan memar karena kurang tidur. "Fardhan, kamu tampak sangat letih. Apakah ada masalah di rumah?"

Fardhan menghela napas berat, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Hafiz... apakah aku telah menjadi suami yang buruk bagi Humaira?"

Hafiz menarik kursi dan duduk di hadapan Fardhan. "Mengapa kamu berkata demikian, Fardhan?"

"Semalam kami bertengkar," tutur Fardhan jujur dengan nada kebingungan yang mendalam. "Humaira merasa kesepian dan diabaikan karena kesibukanku di gudang dan pasar induk. Padahal, seluruh tenagaku terkuras habis untuk menyelesaikan krisis distribusi beras minggu ini. Aku merasa perjuanganku di luar sana tidak dipahami."

Hafiz tersenyum tipis, menatap sahabatnya dengan kearifan seorang saudara. "Fardhan, mendirikan usaha yang jujur memang membutuhkan kerja keras. Namun, menjaga hati seorang istri yang menunggumu di rumah membutuhkan kepekaan yang jauh lebih besar."

"Apakah aku salah jika berusaha menyelesaikan tanggung jawab pekerjaanku tepat waktu?" tanya Fardhan membela diri.

"Kamu tidak salah dalam bekerja, Fardhan," sahut Hafiz tegas namun penuh kelembutan. "Namun, kamu salah jika menganggap bahwa kehadiran fisikmu di rumah bisa digantikan hanya dengan membawa pulang rezeki. Humaira tidak menikah dengan Rimbai Niaga Mandiri, Fardhan. Ia menikah denganmu—pria yang berjanji menjadi penenteram jiwanya."

Fardhan terdiam seketika, kata-kata Hafiz menembus kesadarannya bagaikan anak panah yang tepat sasaran.

°˖✧✿✧˖°

Sementara itu, di kediaman Kiai Zulfikar Al-Faruqi, Humaira duduk bersila di teras keputrian bersama ibunya, Nyai Maryam. Seusai mengajar mengaji para santri cilik, Humaira menundukkan kepala seraya meremas jemarinya yang dingin. Keletihan batin tampak jelas menyelimuti paras cantiknya.

Nyai Maryam meletakkan cangkir teh hangat di hadapan putrinya, lalu mengusap lembut punggung Humaira dengan penuh kasih sayang seorang ibu.

"Humaira," panggil Nyai Maryam dengan suara lembut yang menentramkan jiwa. "Ada beban berat yang sedang mengganggu pikiranmu, Nak? Wajahmu tampak sangat layu pagi ini."

Humaira mendongak, menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. "Ibu... apakah Humaira adalah istri yang kurang bersyukur dan tidak berbudi?"

"Mengapa putri Ibu yang shalehah berprasangka buruk pada dirinya sendiri?" tanya Nyai Maryam lembut.

Lihat selengkapnya