Ketika Usaha Hampir Bangkrut
---o0o---
Aroma minyak oli dan debu jalanan menyeruak di dalam ruang kerja Fardhan Ar Rimbai saat sinar matahari pagi menembus kaca jendela yang buram. Di balik meja kayu jati bersahaja, Fardhan meremas lembaran surat teguran resmi dari Bank Konsorsium Utama. Raut wajahnya tegang, menahan beban berat yang membakar jiwanya. Di seberang meja, Rafiq Al-Hakim berdiri dengan jemari gemetar dan napas memburu.
"Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi, Rafiq?" tanya Fardhan dengan suara parau yang tertahan, matanya menatap tajam sahabatnya. "Seluruh dana operasional ekspansi tiga puluh unit armada truk kontainer kita dialihkan ke rekening bodong tanpa verifikasi ganda?"
Rafiq menunduk dalam-dalam, raut mukanya pucat pasi. "Ini murni kesalahanku, Fardhan. Aku terlalu percaya pada dokumen stempel basah yang dibawa oleh Pak Wijaya. Dia mitra senior yang direkomendasikan oleh asosiasi logistik nasional. Aku tidak menyangka... bahwa seluruh dokumen kerjasama dan surat jaminan bank yang dia serahkan itu palsu."
Fardhan memejamkan mata sejenak, mengelus dadanya yang terasa sangat sesak. "Berapa total kerugian bersih Rimbai Logistik dari transaksi fiktif ini?"
"Tiga belas miliar rupiah, Fardhan," bisik Rafiq parau, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin truk di luar. "Rekening operasional kita dikuras habis. Tidak hanya itu, Bank Konsorsium menyatakan seluruh aset kantor, garasi, hingga lima puluh armada truk kita berstatus gagal bayar dan akan disita dalam waktu empat puluh delapan jam."
"Tiga belas miliar..." ulang Fardhan lirih. "Itu bukan sekadar angka, Rafiq! Itu adalah uang simpanan gaji para pengemudi, dana perawatan armada, dan modal kerja yang kita kumpulkan dengan tumpuran keringat selama bertahun-tahun!"
Pintu ruang kerja mendadak terdorong keras dari luar. Hafiz Al-Manshur melangkah masuk dengan raut wajah panik luar biasa. Di tangannya, ia memegang beberapa lembar telegram pemutusan hubungan kerja dari para mitra dagang utama.
"Fardhan! Badai baru saja menghantam kita!" teriak Hafiz seraya meletakkan berkas itu di meja. "Gara-gara berita gagal bayar kita bocor ke media publik pagi ini, lima korporasi besar membatalkan kontrak sewa armada secara sepihak! Mereka menuntut pengembalian uang muka pengiriman barang minggu ini juga!"
Fardhan bangkit berdiri dari kursinya, berdiri mematung di balik jendela menatap deretan armada Rimbai Logistik di pelataran. "Satu kesalahan mitra... dan seluruh bangunan usaha yang kita dirikan dengan susah payah hancur dalam hitungan jam."
"Maafkan aku, Fardhan... Maafkan aku..." tangis Rafiq pecah, ia terduduk lesu di kursi kayu dengan penyesalan mendalam.
"Penyesalan tidak akan mengembalikan dana yang hilang, Rafiq," ujar Fardhan mencoba menguasai suaranya, meski badai kekhawatiran merobek jiwanya. "Sekarang, yang harus kita pikirkan adalah bagaimana bernapas dalam himpitan kehancuran ini."
°˖✧✿✧˖°
Suara ketukan sepatu boots melangkah pasti menyusuri lorong kantor yang mendadak sepi. Angin siang berhembus dingin, membawakan kusamnya kabar kebangkrutan yang telah menyebar ke seluruh penjuru area operasional. Di depan pintu utama kantor, puluhan pengemudi armada dan kuli panggul berkumpul dengan raut wajah cemas dan kebingungan.
Fardhan melangkah keluar menemui para pekerjanya, didampingi oleh Rafiq dan Hafiz.
"Pak Fardhan!" teriak Pak Parto, perwakilan paguyuban pengemudi, dengan suara cemas. "Apakah benar berita di koran siang ini? Apakah Rimbai Logistik benar-benar bangkrut dan armada kita akan disita oleh bank?"
Fardhan berdiri tegak di atas undakan semen, memandang wajah-wajah polos para pekerjanya yang bergantung hidup pada perusahaan. Ia menarik napas dalam-dalam, memilih kejujuran di atas segalanya.
"Rekan-rekan sekalian," tutur Fardhan dengan suara jernih namun sarat akan keharuan. "Saya tidak akan menyembunyikan apa pun dari kalian. Hari ini, Rimbai Logistik mengalami musibah besar. Kami ditipu oleh mitra bisnis fiktif, dan seluruh dana operasional kita habis tak tersisa."
Suasana pelataran seketika bising oleh gumaman dan kehebohan para pekerja.
"Lalu bagaimana dengan nasib gaji kami akhir bulan ini, Pak?" tanya seorang pengemudi muda dengan mata berkaca-kaca. "Anak saya butuh biaya masuk sekolah minggu depan!"
"Saya berjanji atas nama Allah swt," tegas Fardhan dengan binar mata mantap. "Meskipun saya harus menjual seluruh perhiasan, tanah, bahkan rumah tinggal saya sendiri, gaji dan hak Rekan-rekan sekalian akan saya lunasi sampai rupiah terakhir! Tidak akan ada satu pun keringat kalian yang terutang!"
Rafiq memandang Fardhan dengan rasa bersalah yang makin menghujam dadanya. "Fardhan, jika engkau menjual rumah tinggalmu, lalu di mana engkau dan Mbak Humaira akan berteduh?"
"Rumah dan harta hanyalah titipan sementara, Rafiq," sahut Fardhan perlahan saat mereka berjalan kembali ke ruang dalam. "Yang paling penting adalah menjaga nama baik, kehormatan, dan kehalalan janji kita kepada orang-orang kecil."
Sore harinya, petugas Pengadilan Niaga bersama beberapa kuasa hukum Bank Konsorsium tiba di lokasi. Mereka mulai memasang stempel penyitaan berstempel merah di pintu garasi utama dan menyegel kantor operasional Rimbai Logistik. Fardhan menyaksikan proses penyitaan itu dengan kepasrahan yang luar biasa. Ia mengemas barang-barang pribadinya ke dalam satu tas kain bersahaja.
Saat melangkah keluar dari gerbang kantor yang telah disegel pita kuning, Fardhan membalikkan badannya, menatap papan nama Rimbai Logistik yang kini tampak kusam. Usaha yang dirintis dari modal puluhan ribu rupiah dan keringat bertahun-tahun itu kini resmi berada di ambang kebangkrutan total.
°˖✧✿✧˖°
Langkah kaki Fardhan terasa begitu berat tatkala ia menyusuri jalan setapak menuju rumah mungilnya di pinggiran desa. Senja membungkus langit dengan pendar warna jingga keunguan yang temaram. Di serambi depan rumah, Humaira berdiri menantikan kedatangan suaminya. Senyum lembut dan binar mata jernih istrinya menyambut Fardhan seperti telaga sejuk di tengah padang pasir yang membakar.
"Assalamu’alaikum, Mas Fardhan," sapa Humaira dengan suara amat lembut seraya membungkuk mencium punggung tangan suaminya.
"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Dinda," jawab Fardhan parau. Ia menatap wajah Humaira, lalu menundukkan kepalanya, tak sanggup menahan beban kepedihan di dadanya.
Humaira membimbing tangan Fardhan untuk duduk di kursi kayu serambi, lalu menyodorkan segelas air putih hangat. "Minumlah dulu, Mas. Wajahmu tampak sangat lelah."