SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #54

FARDHAN KEMBALI BERSUJUD

Fardhan Kembali Bersujud

---o0o---

Langit malam di atas perkampungan lereng gunung membisu tebal tanpa gumpalan bintang. Udara dingin pegunungan menusuk hingga ke sumsum tulang, membawa keheningan yang begitu mencekam di lorong-lorong rumah sakit daerah. Di ruang perawatan berlampu redup, Fardhan Ar Rimbai duduk mematung di samping pembaringan. Jemari tangannya menggenggam erat telapak tangan Humaira yang terasa amat dingin dan lunglai.

Wajah Humaira pucat pasi bagaikan porselen tua. Di atas pembaringan putih itu, napas wanita salehah tersebut teratur halus, namun garis-garis duka dan kelelahan fisik terpancar sangat jelas dari paras cantiknya.

Hanya beberapa jam yang lalu, mimpi indah yang baru saja mekar di dalam rumah tangga mereka mendadak gugur di tengah jalan. Kehamilan pertama Humaira—yang sempat membawa setitik harapan besar dan gairah baru dalam kehidupan mereka—mengalami komplikasi serius hingga janin di dalam kandungannya tak sanggup diselamatkan.

Fardhan memandangi wajah istrinya dengan dada yang hancur berkeping-keping. Air mata yang sejak tadi ditahannya perlahan menetes, jatuh membasahi sprei putih di tepi pembaringan.

"Humaira..." bisik Fardhan dengan suara parau yang bergetar hebat. "Maafkan Kakak... Maafkan Kakak yang tak sanggup menjagamu dan calon buah hati kita..."

Humaira membuka matanya secara perlahan, menatap wajah suaminya dengan tatapan yang sangat redup dan memilu. Jemari Humaira yang lemas bergerak halus, berusaha mengusap pendar air mata di pipi Fardhan.

"Kak Fardhan..." tutur Humaira dengan suara yang amat lirih dan patah-patah. "Jangan menyalahkan diri Kakak... Ini semua sudah menjadi kehendak-Nya..."

"Bagaimana Kakak tidak merasa bersalah, Humaira?" potong Fardhan seraya menundukkan kepalanya sangat dalam. "Di saat kamu membutuhkan ketenangan dan pendampingan penuh, pikiran Kakak masih saja terbagi oleh urusan sengketa pasar dan ancaman ekspansi modal kotor di luar sana. Kakak terlalu lalai..."

"Tidak, Kak..." sahut Humaira, air mata bening turut menetes dari sudut matanya. "Kakak adalah suami yang sangat bertanggung jawab. Allah hanya sedang menguji sejauh mana kita sanggup mencintai ketetapan-Nya, bahkan saat ketetapan itu mengambil sesuatu yang amat kita harapkan."

Fardhan tak sanggup menjawab. Tenggorokannya terasa tersumbat oleh gumpalan kepedihan yang teramat sangat. Di satu sisi, ia baru saja mengira bahwa seluruh perjuangan dan bakti hidupnya telah meloloskannya dari berbagai gelombang ujian duniawi. Namun di sisi lain, kenyataan pahit ini menghantam tepat di pusat kelemahan jiwanya.

Pintu kamar perawatan berderit pelan. Abdul Karim melangkah masuk bersama Kiai Zulfikar. Kedua orang tua itu menatap Fardhan dan Humaira dengan raut wajah yang diliputi rasa duka mendalam serta keharuan yang tak terhingga.

Abdul Karim berjalan mendekati putra sulungnya, lalu meletakkan telapak tangannya yang kasar di atas bahu Fardhan.

"Fardhan," panggil Abdul Karim lembut. "Pulanglah sebentar ke surau bersama Kiai. Biar Ayah dan Ibu yang menjaga Humaira di sini."

Fardhan menggelengkan kepala tanpa mendongak. "Fardhan ingin di sini, Ayah. Fardhan tidak ingin meninggalkan Humaira sendirian."

"Fardhan, jiwamu sedang guncang," pangkas Kiai Zulfikar dengan suara bariton yang amat menentramkan. "Pergilah mengambil wudhu di surau, Nak. Tenangkan batinmu di hadapan Allah. Humaira membutuhkan suami yang kokoh jiwanya, bukan suami yang tenggelam dalam penyesalan tanpa arah."

°˖✧✿✧˖°

Fardhan akhirnya bangkit dari kursinya dengan langkah yang terasa sangat berat dan limbung. Ia memandangi Humaira sekali lagi, memberikan kecupan lembut di kening istrinya yang dingin, lalu berjalan melangkah keluar dari ruangan rumah sakit menembus kegelapan malam.

Angin malam menusuk wajahnya saat Fardhan memacu kendaraan menuju area Surau Desa. Suasana surau tua itu begitu sepi dan lengang. Hanya pendar lampu gantung di mihrab utama yang memancarkan pendar kuning keemasan, menembus kerapatan tiang-tiang kayu jati tua.

Fardhan melangkah menuju pancuran air wudhu di samping surau. Gemericik air dingin yang membasahi wajah, tangan, dan kepalanya terasa membakar kesadarannya yang sedang terluka.

Seusai berwudhu, Fardhan melangkah masuk ke dalam bangunan surau. Suasana hening yang sakral merengkuh tubuhnya yang lelah. Fardhan berjalan menuju mihrab depan, membentangkan sajadah, lalu berdiri tegak membelakangi dunia.

Ia mengangkat kedua tangannya, melafalkan takbiratul ihram dengan suara bergetar: "Allahu Akbar..."

Di dalam rakaat-rakaat shalat malamnya, Fardhan merasakan badai emosi yang dahsyat menggejolak di dalam dadanya. Pikiran dan ingatan masa lalunya berputar dengan sangat cepat. Ia mengingat bagaimana ia dulu selalu bersujud dan berdoa penuh gairah ketika menghadapi ancaman kepailitan usaha, ketika difitnah oleh Haji Rahmat, atau ketika memohon agar diringankan langkahnya menuju pernikahan dengan Humaira.

Dulu, ia bersujud karena ia membutuhkan pertolongan-Nya untuk mendapatkan sesuatu. Dulu, tawakalnya adalah tawakal seorang hamba yang meminta agar keinginannya dikabulkan dan cita-citanya diwujudkan.

Namun malam ini, di hadapan sajadah yang basah oleh air mata, Fardhan tersadar akan suatu hakikat yang jauh lebih dalam dan teramat jujur.

Saat tubuhnya membungkuk dalam ruku' dan meluncur turun merapatkan dahi di atas lantai kayu surau, tangis Fardhan pecah tanpa bisa ditahan lagi. Baunya kayu jati tua dan harum minyak atar menyengat hidungnya saat ia tersungkur dalam sujud yang panjang.

"Ya Rabb..." batin Fardhan menjerit dalam keheningan jiwanya. "Selama ini hamba mengira bahwa hamba telah memahami arti tawakal... Hamba bersujud saat hamba butuh Engkau menyelamatkan usaha hamba... Hamba berdoa saat hamba butuh Engkau menyatukan cinta hamba... Namun malam ini hamba sadar, hamba belum benar-benar bertawakal jika hamba hanya siap menerima karunia-Mu tetapi murka saat Engkau mengambil kembali milik-Mu..."

Fardhan merapatkan dahinya makin dalam ke lantai, merasakan kehampaan dirinya yang mutlak di hadapan Keagungan Sang Maha Pencipta.

"Hamba kembalikan seluruh rasa kepemilikan ini kepada-Mu, Ya Allah... Anak itu milik-Mu, Humaira milik-Mu, dan jiwa hamba adalah milik-Mu... Ampunilah hamba yang sempat merasa memiliki apa yang sebenarnya hanya titipan-Mu..."

Sujud malam itu bukan lagi sujud seorang pemuda yang sedang meminta kemudahan atau menuntut keadilan duniawi. Sujud itu adalah penyerahan total seorang hamba yang memasrahkan rasa kehilangan, kepedihan, dan air matanya ke dalam genggaman Takdir Ilahi.

°˖✧✿✧˖°

Keheningan sepertiga malam terakhir merayap pelan, membungkus ketenangan jiwa Fardhan yang baru saja melewati titik balik spiritualnya. Saat Fardhan menyapu salam ke kanan dan ke kiri, rasa sesak yang tadinya menghimpit dadanya mendadak berganti menjadi kelapangan yang amat menentramkan.

Suara langkah kaki yang bersahaja mendekati mihrab. Kiai Zulfikar melangkah masuk, duduk bersila tepat di samping Fardhan. Beliau memandangi menantunya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kehangatan kearifan seorang Ulama dan kasih sayang seorang ayah.

"Fardhan," panggil Kiai Zulfikar dengan nada suara yang amat lembut.

"Iya, Kiai..." sahut Fardhan seraya merapatkan duduknya dan menundukkan kepala penuh rasa hormat.

"Bagaimana keadaan hatimu setelah bersujud di hadapan-Nya malam ini, Nak?" tanya Kiai Zulfikar cermat.

Fardhan menghela napas panjang, mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. "Alhamdulillah... Hamba merasa baru saja dibangunkan dari kelalaian jiwa yang sangat besar, Kiai."

Kiai Zulfikar tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya pelan. "Coba ceritakan kepada Ayah, apa yang disadarkan Allah kepadamu di atas sajadah tadi?"

"Selama ini," tutur Fardhan dengan suara bulat dan jujur, "hamba memahami tawakal hanya sebagai sarana ketika hamba membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan atau mempertahankan sesuatu. Hamba bersujud agar usaha hamba selamat, hamba berdoa agar cinta hamba berhasil... Namun malam ini hamba menyadari kesalahan hamba, Kiai."

"Apa kesalahan itu, Fardhan?" kejarnya lembut.

"Tawakal yang sejati bukan hanya ada ketika kita memohon keberhasilan atau pertolongan," tegas Fardhan, matanya menatap lurus ke arah mihrab dengan binar keteguhan yang jernih. "Tawakal yang sesungguhnya justru diuji saat kita kehilangan sesuatu yang amat kita cintai. Jika kita hanya bersujud saat menerima, tetapi mengutuk saat kehilangan, maka kita belum bertawakal kepada Allah—kita hanya bertawakal kepada keinginan diri kita sendiri."

Kiai Zulfikar merangkul bahu Fardhan dengan erat, memeluk menantunya dengan rasa bangga yang luar biasa. Air mata keharuan menetes di pipi Ulama tua tersebut.

"Masya Allah, laa quwwata illa billah..." puji Kiai Zulfikar dengan suara bergetar bahagia. "Engkau telah lulus dari ujian iman yang paling tinggi, Fardhan. Kehilangan ini memang pahit bagi jasmanimu, namun ia telah melahirkan ketakwaan yang amat murni di dalam rohmu."

Lihat selengkapnya