Rezeki Setelah Kesabaran
---o0o---
Matahari pagi merayap perlahan melintasi pegunungan, membakar sisa-sisa embun yang menggantung di dedaunan kelapa Desa Lembah Rimbai. Suasana di teras rumah bersahaja milik Fardhan Ar Rimbai dan Humaira terasa amat tenang dan damai. Keheningan yang menentramkan jiwa menyelimuti mereka berdua seusai menunaikan ibadah shalat Dhuha.
Fardhan duduk bersila di atas bangku kayu jati, menikmati secangkir teh herbal hangat yang asapnya masih mengepul tipis. Di sampingnya, Humaira Al-Faruqi duduk seraya merapikan selendang rajut berwarna hijau muda yang membalut bahunya. Paras cantiknya kini kembali memancarkan rona kehangatan dan ketenangan jiwa yang murni seusai melewati masa-masa duka yang panjang.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah gerbang pekarangan. Hafiz Al-Manshur melangkah masuk dengan raut wajah berbinar-binar, menggenggam sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang tampak sangat tebal.
"Assalamu’alaikum, Fardhan! Humaira!" sapa Hafiz dengan nada suara penuh gairah yang sulit disembunyikan.
"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Hafiz," sahut Fardhan seraya menyunggingkan senyuman hangat. "Duduklah terlebih dahulu. Mengapa kamu tampak begitu terburu-buru pagi ini?"
Humaira berdiri perlahan, memiringkan kepalanya dengan lembut. "Biar Humaira ambilkan cangkir teh hangat untuk Mas Hafiz di dapur."
"Terima kasih banyak, Humaira," ucap Hafiz seraya menarik kursi di hadapan Fardhan. Ia meletakkan map kulit tebal itu tepat di atas meja kayu.
Fardhan memandangi map tersebut dengan dahi berkerut tipis. "Dokumen apa yang kamu bawa ini, Hafiz?"
Hafiz menepuk map tersebut dengan telapak tangannya. "Ini adalah peluang emas terbesar sepanjang sejarah Rimbai Niaga Mandiri, Fardhan! Konsorsium Perdagangan Antar-Pulau dari ibu kota baru saja mengirimkan draf kerja sama investasi eksklusif untuk kita."
Fardhan memiringkan badannya, menatap sahabatnya dengan cermat. "Konsorsium Antar-Pulau? Atas rekomendasi siapa mereka mendatangi usaha kecil kita di desa ini?"
"Mereka terkesan dengan integritas dan keteguhanmu saat sidang arbitrase provinsi kemarin, Fardhan!" terang Hafiz penuh semangat. "Mereka menawarkan dana investasi sebesar tiga miliar rupiah untuk memperluas gudang beras kita, membeli sepuluh armada truk baru, serta memberikan kontrak pasokan tetap untuk seluruh pasar swalayan utama di tiga provinsi!"
Fardhan terdiam sejenak. Ia tidak melompat gembira, tidak pula memancarkan binar kesenangan yang berlebihan. Tatapan matanya tetap jernih dan sangat tenang.
"Tiga miliar rupiah dan kontrak eksklusif..." bisik Fardhan pelan seraya memandangi lembaran draf di hadapannya.
"Ini adalah rezeki yang teramat besar seusai masa-masa kesabaran dan ujian berat yang kalian lewati, Fardhan!" seru Hafiz meyakinkan. "Dengan dana ini, seluruh petani di lembah kita akan memiliki jaminan pembelian hasil panen hingga lima tahun ke depan!"
Humaira kembali dari dapur membawa nampan berisi cangkir teh hangat. Ia meletakkannya di depan Hafiz, lalu duduk kembali di samping suaminya. Humaira memperhatikan raut wajah Fardhan yang tampak sangat penuh pertimbangan.
"Kak Fardhan," panggil Humaira lembut. "Apakah ada ganjalan di hati Kakak saat melihat penawaran ini?"
Fardhan memandang istrinya, lalu beralih menatap Hafiz. "Peluang besar selalu membawa tanggung jawab dan konsekuensi yang tak kalah besar, Humaira. Hafiz, apakah kamu sudah membaca seluruh klausa kecil di dalam draf perjanjian ini?"
°˖✧✿✧˖°
Hafiz tertegun, tersenyum tipis seraya mengibaskan tangannya pelan. "Aku sudah membaca garis besarnya, Fardhan. Nilai investasinya sangat menguntungkan dan bagi hasilnya amat menggiurkan untuk kita."
"Garis besar tidak pernah cukup untuk menilai sebuah akad, Hafiz," pangkas Fardhan tegas namun dengan nada suara yang tetap santun dan menentramkan.
Fardhan menarik draf perjanjian tebal tersebut dari atas meja, menyibak lembar demi lembar berkas kertas tebal itu dengan ketelitian yang amat tinggi. Jemarinya berhenti pada poin pasal-pasal krusial di bagian tengah dokumen.
"Hafiz, coba perhatikan Pasal 14 ayat 3 ini," tutur Fardhan seraya menunjuk paragraf berwarna hitam tebal. "Di sini tertulis bahwa pihak Konsorsium berhak menentukan standar harga beli padi di tingkat petani secara sepihak jika terjadi fluktuasi harga pasar nasional."
Hafiz mencondongkan badannya, membaca baris demi baris kalimat tersebut. Dahi Hafiz mulai berkerut rapat. "Tapi... bukankah itu hal yang lumrah dalam bisnis skala besar untuk menekan risiko kerugian investor?"
"Bagi bisnis kapitalis kota, itu mungkin lumrah, Hafiz," sahut Fardhan dengan keteguhan jiwa yang matang. "Namun bagi Rimbai Niaga Mandiri, pasal ini adalah celah yang bisa menindas para petani desa. Jika harga pasar turun, Konsorsium bisa memaksa kita menekan harga beli padi petani di bawah batas kelayakan."
Humaira menyimak percakapan tersebut dengan rasa haru yang mendalam. Ia mengagumi kedewasaan dan ketelitian suaminya yang tidak silau oleh gelimang angka miliar rupiah.
"Lalu bagaimana dengan Pasal 22 mengenai jaminan aset ini, Kak?" tanya Humaira seraya menunjuk lembaran berikutnya.
Fardhan mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke arah Hafiz. "Di Pasal 22 ini, seluruh lahan gudang dan aset tanah wakaf yang kita kelola akan dijadikan agunan tambahan kepada pihak bank mitra Konsorsium. Jika dalam dua tahun target distribusi tidak tercapai, seluruh aset kita bisa disita secara hukum."
Hafiz menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menarik napas panjang seraya mengusap wajahnya yang mendadak pucat. "Masya Allah... Aku terlalu silau oleh angka tiga miliar di halaman depan, Fardhan. Aku hampir saja melewatkan jebakan halus ini."
"Inilah mengapa kita tidak boleh tergesa-gesa mengambil setiap penawaran yang datang," tutur Fardhan penuh kearifan. "Pengalaman masa lalu dan ujian yang baru saja kita lewati telah mengajariku satu hal penting: tidak semua peluang yang berkilau adalah rezeki yang harus kita terima. Sebagian diantaranya hanyalah ujian keserakahan yang dibungkus dengan bungkus kebaikan."
"Jadi, apa langkah kita sekarang, Fardhan?" tanya Hafiz dengan nada suara yang kini jauh lebih rendah hati. "Apakah kita langsung menolak tawaran kerja sama besar ini?"
Fardhan menutup draf dokumen tersebut dengan rapat, menyandarkan punggungnya seraya tersenyum tenang. "Kita tidak akan langsung menolak, namun kita juga tidak akan menerima syarat-syarat yang merugikan agama dan rakyat kecil. Kita akan menguji ketulusan niat Konsorsium ini."
°˖✧✿✧˖°
Sore harinya, Fardhan mengajak Hafiz dan Abdul Karim untuk berkunjung ke kediaman Kiai Zulfikar Al-Faruqi. Di serambi keputrian yang sejuk, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan harum bunga melati, mereka duduk bersila di atas tikar pandan.
Kiai Zulfikar membungkuk pelan, membaca salinan draf perjanjian yang telah diberi catatan tinta merah oleh Fardhan pada poin-poin yang bermasalah.
Abdul Karim menepuk bahu putranya seraya menatap Kiai Zulfikar. "Bagaimana pandangan Kiai mengenai langkah Fardhan yang menunda keputusan ini?"
Kiai Zulfikar meletakkan dokumen tersebut di atas meja rendah, lalu menatap Fardhan dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga dan keharuan yang mendalam.
"Alhamdulillah... Sungguh, Allah telah menanamkan Hikmah dan Furqan—kemampuan membedakan antara yang haq dan yang bathil—di dalam dada menantuku ini," puji Kiai Zulfikar dengan suara baritonnya yang menentramkan.
"Kiai," tutur Fardhan rendah hati seraya menundukkan kepala. "Hamba hanya khawatir jika keputusanku menunda penandatanganan ini dianggap sebagai bentuk menutup pintu rezeki bagi para petani dan pengurus gudang."
"Fardhan, dengarkan nasihat Ayah ini baik-baik," sela Abdul Karim dengan nada suara yang mantap. "Rezeki yang telah ditetapkan Allah untukmu dan untuk para petani desa tidak akan pernah tertukar atau diambil oleh orang lain. Namun jika kamu mengambil rezeki dengan cara melanggar prinsip keadilan dan mengorbankan hak-hak orang lemah, maka keberkahan dari rezeki itu akan dicabut oleh Allah."
Kiai Zulfikar mengangguk setuju atas perkataan Abdul Karim. "Ayahmu benar, Fardhan. Rezeki yang datang setelah kesabaran bukan sekadar diukur dari seberapa banyak harta yang masuk ke kantongmu, melainkan dari seberapa bersih dan tenangnya jiwamu saat mengelolanya."