SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #56

MEMBANGUN USAHA BERSAMA

Membangun Usaha Bersama

---o0o---

Sinar matahari pagi menerobos sela-sela tirai bambu, membiaskan pola garis-garis emas di atas meja kayu jati yang penuh dengan tumpukan nota pengiriman. Suasana di kantor baru Rimbai Logistik yang masih bersahaja terasa begitu sibuk. Bau kertas segar bersanding dengan aroma kopi hitam yang baru saja diseduh. Fardhan Ar Rimbai memijat pelipisnya yang berdenyut, menatap cemas lembaran laporan operasional bulanan yang berserakan.

"Mas masih bingung dengan alokasi pencatatan kas kecil ini?" tanya sebuah suara lembut mendayung dari balik pintu.

Fardhan mendongak dan mendapati Humaira melangkah masuk dengan anggun. Istrinya mengenakan gamis berwarna abu-abu bersahaja dengan jilbab lebar yang menjuntai rapi. Di tangannya, Humaira membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan sepiri kudapan singkong rebus.

"Iya, Dinda," jawab Fardhan seraya menghela napas panjang dan menyunggingkan senyum tipis. "Sistem pencatatan armada kita kian rumit setelah kita menambah lima rute baru ke daerah pesisir. Mas terbiasa mengurus hal teknis di lapangan, tapi soal pengarsipan dan ketelitian angka... Mas harus mengakui masih sering kewalahan."

Humaira meletakkan nampan di sudut meja yang agak lengang. Ia kemudian menarik kursi kayu di sebelah Fardhan, duduk dengan gerakan yang amat santun tanpa canggung. "Bolehkah saya bantu memeriksanya, Mas? Dulu sewaktu di yayasan dan perpustakaan, saya terbiasa menyusun pembukuan keuangan bulanan."

Fardhan menatap istrinya dengan pendar rasa terkejut sekaligus binar harapan. "Dinda sungguh mau membantuku di kantor ini? Pekerjaan ini sangat melelahkan dan penuh dengan angka-angka yang membosankan."

"Mengapa tidak, Mas?" balas Humaira seraya tersenyum teduh. Matanya memancarkan ketulusan murni. "Pernikahan kita bukan hanya tentang berbagi atap dan meja makan, tetapi juga tentang bahu-membahu dalam setiap jengkal perjuangan hidup."

"Tapi Mas khawatir ini akan membebani waktumu, Dinda," bisik Fardhan lembut.

"Membantu suami menjaga kebersihan dan ketertiban rezeki keluarga adalah ibadah, Mas Fardhan," tegas Humaira jernih. "Jilbab dan kesederhanaan saya tidak menghalangi saya untuk menjadi benteng pendukung di sisimu."

Fardhan tersenyum lega, hatinya lantas berdesir haru. Ia menyerahkan tumpukan berkas akuntansi di hadapannya kepada Humaira. Sejak detik itu, lembaran baru dalam perjalanan hidup mereka resmi dimulai—bukan lagi sekadar sebagai suami dan istri, melainkan sebagai pasangan sejati dan mitra karib dalam arena perjuangan.

°˖✧✿✧˖°

Humaira mengambil pulpen hitam dan mulai memeriksa lembar demi lembar nota transaksi dengan ketelitian yang luar biasa. Jemarinya yang lentik bergerak gesit memilah dokumen pembayaran solar, perawatan bengkel, hingga uang jalan para pengemudi. Fardhan memperhatikan gerakan istrinya dengan kekaguman yang terus membuncah di dalam dada.

"Lihat ini, Mas," ujar Humaira pelan seraya menunjuk sebuah angka di lembaran biaya perawatan berkala. "Mengapa ada selisih biaya suku cadang sebesar lima ratus ribu rupiah antara kuitansi bengkel pusat dan laporan pengeluaran sopir rute selatan?"

Fardhan mendekatkan duduknya, meneliti angka yang ditunjuk Humaira. "Ah, biasanya itu biaya tambahan untuk ongkos montir darurat di jalanan, Dinda."

"Tetapi di sini tidak ada tanda tangan verifikasi dari kepala montir kita, Mas," sela Humaira kritis namun tetap santun. "Sekecil apa pun selisihnya, jika tidak dicatat secara transparan, hal itu bisa menjadi celah kebocoran rezeki kita. Keberkahan usaha ini sangat tergantung pada kejujuran pembukuan."

Fardhan mengangguk-angguk kagum, menyadari betapa tajamnya analisis sang istri. "Dinda benar-benar teliti. Mas tidak menyangka Dinda punya bakat besar dalam mengelola administrasi logistik."

Humaira mendongak, menatap mata suaminya dengan pandangan yang teduh. "Ayah selalu mengajarkan bahwa ketelitian adalah bagian dari amanah. Jika kita dipercaya mengelola harta orang lain atau modal usaha, satu rupiah pun harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah."

"Terima kasih, Dinda," tutur Fardhan tulus, jemarinya menyentuh lembut jemari Humaira di atas meja. "Kehadiranmu di kantor ini tidak hanya merapikan berkas-berkasku, tetapi juga memelihara jiwa kepemimpinanku agar tetap berada di jalur yang lurus."

"Kita adalah mitra, Mas Fardhan," balas Humaira lembut seraya membalas genggaman tangan suaminya. "Mas adalah nahkoda di kapalnya, dan saya adalah pengawal navigator yang memastikan arah kompas kita tidak menyimpang dari syariat."

Tak lama kemudian, Rafiq Al-Hakim melangkah masuk membawa map laporan ekspansi pasar. Ia terhenti di ambang pintu, tersenyum lebar melihat Fardhan dan Humaira yang sedang sibuk berdiskusi di depan tumpukan berkas.

"Assalamu’alaikum! Masya Allah, pemandangan yang sangat menyejukkan hati," sapa Rafiq gembira seraya mendekati meja kerja.

"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Rafiq," jawab Fardhan seraya tersenyum. "Masuklah. Ada perkembangan baru?"

"Mbak Humaira sudah resmi bergabung menjadi Manajer Keuangan Rimbai Logistik rupanya?" goda Rafiq seraya meletakkan mapnya di meja.

"Saya hanya membantu Mas Fardhan merapikan administrasi kecil-kecilan, Mas Rafiq," sahut Humaira bersahaja, membetulkan letak posisi duduknya agar tetap berada dalam koridor adab.

"Jangan rendah hati begitu, Mbak," puji Rafiq tulus. "Sejak Mbak Humaira memegang pembukuan minggu lalu, laporan arus kas kita menjadi jauh lebih rapi. Para investor syariah dari kota bahkan memuji transparansi sistem baru yang Mbak terapkan."

Fardhan menepuk bahu Rafiq penuh rasa bangga. "Istriku ini bukan cuma perhiasan rumah tangga, Rafiq, tapi juga benteng terkuat yang menjaga kelangsungan bisnis kita."

Humaira menundukkan pandangannya, merona tipis diterpa pujian penuh kehangatan dari suami dan sahabatnya itu. Di dalam ruangan bersahaja itu, sinergi antara kerja keras, ilmu, dan nilai-nilai keagamaan berpadu menjadi kekuatan baru bagi Rimbai Logistik.

°˖✧✿✧˖°

Siang harinya, matahari memancar terik di atas pelataran garasi operasional. Suara deru mesin truk kontainer dan dentang besi saling bersahutan. Fardhan dan Humaira berjalan berdampingan menyusuri lorong pelataran, memantau persiapan keberangkatan sepuluh armada truk pengangkut komoditas pangan.

Di dekat area pengisian bahan bakar, beberapa pengemudi senior tampak berkumpul mengelilingi sebuah meja kayu tua. Pak Parto, perwakilan dari paguyuban pedagang pasar, berdiri di tengah mereka dengan raut wajah tegang.

"Ada masalah apa di pelataran, Pak Parto?" tanya Fardhan melangkah mendekati kerumunan, diikuti oleh Humaira.

"Eh, Pak Fardhan, Mbak Humaira," balas Pak Parto seraya membungkuk santun. "Ini Pak, ada sedikit kendala soal pemotongan biaya retribusi jalan di koridor utara. Pihak pengelola pelabuhan baru saja menaikkan tarif masuk secara sepihak tanpa surat edaran resmi."

"Apakah naik tarifnya sangat besar, Pak Parto?" sela Humaira langsung memotong dengan pertanyaan taktis.

Lihat selengkapnya