SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #57

MIMPI UNTUK KAMPUNG HALAMAN

Mimpi untuk Kampung Halaman

---o0o---

Matahari sore menggantung rendah di ufuk barat, memancarkan pendar jingga keemasan yang menyapu hamparan atap rumah penduduk serta pematang sawah di Desa Lembah Rimbai. Dari balik jendela kaca ruang tengah rumahnya, Fardhan Ar Rimbai berdiri menatap ke luar. Jemari tangannya menggenggam seangkring kopi hangat yang asapnya masih mengepul tipis.

Di pelataran jalan tanah depan rumah, terlihat sekumpulan anak desa berlarian kecil. Sebagian dari mereka membawa pukat rakitan, sementara yang lain berjalan tanpa alas kaki seraya memeluk beberapa karung beras kosong. Tak ada tas sekolah di pundak mereka, pun tak ada buku bacaan di jemari mungil yang sudah terbiasa berlepotan lumpur sawah itu.

Humaira Al-Faruqi melangkah pelan mendekati suaminya. Ia merapatkan selendang rajut cokelat muda di bahunya, lalu ikut memandangi anak-anak desa yang tengah bersorak mengejar layang-layang putus.

"Apa yang sedang Kakak pikirkan sampai menghela napas serembuk itu?" tanya Humaira halus, memecah keheningan yang menyelimuti mereka.

Fardhan berpaling, menatap istrinya dengan pendar mata yang menyimpan segudang ganjalan. Ia menunjuk ke arah anak-anak di luar menggunakan dagunya.

"Lihat anak-anak itu, Humaira. Hasan, putra Pak Sukardi, baru berusia sepuluh tahun, tapi tiap sore sudah harus memikul beban gabah ke penggilingan. Begitu juga anak-anak petani lainnya di lembah ini."

Humaira mengangguk pelan, ikut merasa iba. "Pendidikan di desa kita memang masih sangat terbatas, Kak. Sekolah dasar terbina cukup jauh di kecamatan, dan tempat mengaji santri cilik pun masih menumpang di serambi surau tua Kiai Zulfikar yang kapasitasnya amat sempit."

"Bukan cuma masalah tempat mengaji, Humaira," potong Fardhan seraya meletakkan cangkir kopinya di atas meja kayu. "Anak-anak ini butuh dua fondasi sekaligus: pemahaman agama yang kokoh agar akidah mereka mantap, dan keterampilan praktis agar kelak mereka tidak mudah diperdaya oleh para spekulan tanah atau tuan tanah kotor di kota."

Humaira tersenyum, menangkap gairah membara dari tatapan mata suaminya. "Kakak sedang merencanakan sesuatu yang besar untuk kampung halaman kita?"

"Kakak punya mimpi baru, Humaira," ucap Fardhan mantap. "Kakak ingin membangun pusat pendidikan terpadu di desa ini—sebuah fasilitas yang menyediakan madrasah, perpustakaan, hingga bengkel keterampilan pertanian dan teknologi sederhana bagi anak-anak desa, gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun."

"Subhanallah, Kak Fardhan..." bisik Humaira dengan mata berbinar haru. "Itu niat yang sangat mulia. Tapi, bukankah membangun fasilitas sebesar itu membutuhkan lahan luas, dana yang tak sedikit, serta izin dari para tokoh desa?"

"Iya, Humaira. Ini bukan sekadar membangun tembok bata," sahut Fardhan seraya menggenggam jemari istrinya. "Ini adalah perjuangan menanam benih peradaban di tanah kelahiran kita sendiri."

°˖✧✿✧˖°

Keinginan kuat Fardhan untuk mewujudkan mimpi tersebut tak lagi bisa ditunda. Keseokokan harinya, seusai menunaikan shalat Subuh berjamaah di surau tua, Fardhan mengajak ayahnya, Abdul Karim, dan sahabat karibnya, Hafiz Al-Manshur, untuk duduk berdiskusi di pelataran keputrian.

Di atas tikar pandan yang terbentang, Fardhan membentangkan selembar kertas denah sederhana yang ia lukis sendiri semalam suntuk.

"Jadi, kamu berniat mewakafkan sebagian keuntungan dari Rimbai Niaga Mandiri untuk proyek fasilitas pendidikan ini, Fardhan?" tanya Hafiz seraya meneliti gambaran denah tersebut.

"Bukan hanya sebagian keuntungan bisnis, Hafiz," tegas Fardhan penuh keyakinan. "Aku juga berniat mewakafkan tanah pekarangan seluas satu hektar di dekat hilir sungai, tanah warisan almarhum kakek yang selama ini menganggur."

Abdul Karim menyimak percakapan itu seraya mengelus janggutnya yang memutih. Wajah sang ayah tampak guram dan penuh pertimbangan mendalam.

"Fardhan, mimpi ini sangat luhur," ujar Abdul Karim dengan suara baritonnya yang tenang. "Namun, apakah kamu sudah memperhitungkan respons dari warga desa, terutama para tetua adat yang masih sangat sensitif terhadap perubahan?"

"Maksud Ayah seperti Mbah Djojo dan kelompoknya?" tanya Fardhan meluruskan.

"Benar," sahut Abdul Karim mengangguk. "Mbah Djojo dan beberapa tokoh lama di desa kita menganggap bahwa anak-anak desa tidak perlu sekolah terlalu tinggi. Bagi mereka, selama anak-anak bisa bertani dan membaca sedikit huruf, itu sudah lebih dari cukup. Mereka khawatir pendidikan modern justru akan membuat anak-anak meninggalkan tanah kelahiran dan lupa pada tradisi."

"Tapi kita tidak akan menjauhkan mereka dari tanah kelahiran, Uncle Karim," potong Hafiz mencoba membela rencana Fardhan. "Justru dengan kurikulum keterampilan pertanian modern dan sains dasar, anak-anak bisa memajukan hasil panen desa ini sendiri!"

"Hafiz benar, Ayah," tambah Fardhan pantang menyerah. "Kita akan memadukan pendidikan Al-Qur'an dengan keterampilan hidup. Anak-anak akan belajar sains pertanian, ilmu pembukuan dasar, dan bahasa, seraya tetap menimba ilmu tauhid serta akhlak dari para ustadz."

Kiai Zulfikar yang baru keluar dari bilik imam melangkah mendekati mereka. Beliau menyimak sisa percakapan tersebut dengan senyuman arif.

"Suatu niat baik untuk mendidik generasi muda adalah amanah peradaban, Fardhan," tutur Kiai Zulfikar lembut. "Namun, niat baik tidak boleh dipaksakan dengan keangkuhan. Kamu harus merangkul seluruh elemen desa, mendengarkan kekhawatiran mereka, dan membuktikan bahwa fasilitas pendidikan ini adalah milik bersama, bukan panggung kemegahan pribadimu."

"Nasihat Kiai akan selalu Fardhan pegang teguh," sahut Fardhan seraya menundukkan kepala penuh ketundukan.

"Langkah awalmu," lanjut Kiai Zulfikar, "adalah mengadakan musyawarah terbuka di balai desa. Biarkan warga menyampaikan isi hati mereka secara jujur."

°˖✧✿✧˖°

Berita mengenai rencana Fardhan membangun fasilitas pendidikan gratis seketika menyebar cepat ke seantero Desa Lembah Rimbai. Gelombang tanggapan pun bermunculan, mulai dari riak dukungan dari para petani muda hingga penolakan tajam dari kelompok sesepuh desa.

Malam musyawarah di Balai Desa berlangsung riuh dan tegang. Lampu petromaks menggantung di langit-langit balai, memancarkan cahaya kekuningan yang menerangi puluhan warga yang duduk bersila di atas tikar.

Mbah Djojo, seorang tetua adat terpandang berbadan tegap dengan ikat kepala hitam, berdiri seraya menghentakkan tongkat kayunya ke lantai kayu balai desa.

"Fardhan!" seru Mbah Djojo dengan suara serak menekan. "Kamu ini anak muda yang baru sukses berdagang beras di kota, jangan berlagak ingin merubah tatanan hidup di desa ini!"

Fardhan yang duduk di samping Kepala Desa tetap tenang, menyangkutkan kedua tangannya di atas paha. "Mbah Djojo, saya sama sekali tidak berniat merusak tatanan desa. Niat saya hanya ingin melihat anak-anak kita memiliki masa depan yang lebih cerah."

"Masa depan apa?" sanggah Mbah Djojo keras. "Anak-anak desa kita ini ditakdirkan untuk memegang cangkul dan mengolah sawah! Kalau kamu jejaki kepala mereka dengan buku-buku kota dan pelajaran tinggi, mereka akan merasa gengsi berlumpur-lumpur di sawah! Akhirnya tanah warisan nenek moyang akan terbengkalai, dijual kepada orang luar, dan desa kita tinggal sejarah!"

Beberapa warga senior mengangguk-angguk setuju dengan pernyataan Mbah Djojo, menciptakan gumaman riuh di dalam ruangan.

Pak Sukardi, wakil dari kelompok petani penggarap, berdiri untuk memberikan perimbangan. "Mbah Djojo, mohon dengarkan dulu penjelasan Mas Fardhan! Anak saya, Hasan, ingin sekali bisa membaca buku pertanian dan belajar berhitung agar tidak lagi ditipu oleh para tengkulak nakal di kota! Apakah itu salah?"

Lihat selengkapnya