Surau yang Kembali Ramai
---o0o---
Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung pelan di atas bubungan atap seng surau tua di pinggiran desa. Cahaya matahari pagi membiaskan pendar keemasan melalui celah-celah dinding papan kayu yang kusam. Fardhan Ar Rimbai berdiri melipat sarungnya di atas serambi batu bersahaja, memandang ke sekeliling halaman yang sepi. Angin gunung berhembus dingin, menggerakkan pucuk-pucuk daun kelapa dan membawa aroma tanah basah yang akrab di ingatannya.
Di sampingnya, Rafiq Al-Hakim meletakkan dua cangkir teh hangat di atas papan kayu serambi. Rafiq mengamati bangunan surau yang sebagian kayunya mulai dimakan usia dan cat hijau di dindingnya yang mengelupas.
"Sudah berapa lama tempat ini tidak tersentuh perbaikan besar, Fardhan?" tanya Rafiq seraya menarik kursi kayu rendah.
Fardhan memegang tiang kayu penyangga serambi, mengelus serat kayunya yang kasar. "Mungkin lebih dari lima belas tahun, Rafiq. Surau ini adalah tempat aku pertama kali belajar mengeja huruf hijaiyah dari Kiai Zulfikar. Dulu, setiap petang, pelataran ini penuh oleh riuh suara santri."
Humaira melangkah mendekat dari arah kediaman Kiai Zulfikar, membawa nampan berisi beberapa potong singkong rebus. Jilbab abunya melambai perlahan disapu angin pagi.
"Assalamu’alaikum, Mas Fardhan, Mas Rafiq," sapa Humaira dengan senyum yang amat teduh.
"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Dinda," jawab Fardhan lembut seraya menyambut nampan dari tangan istrinya.
Humaira berdiri di samping Fardhan, memandang surau tua yang tampak sunyi. "Kiai Zulfikar cerita tadi pagi, Mas. Sejak beberapa tahun terakhir, anak-anak desa lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai di rumah atau nongkrong di pinggir jalan. Surau ini makin sepi, hanya terisi saat salat Maghrib oleh beberapa warga sepuh."
Fardhan menunduk, matanya memancarkan rasa prihatin yang mendalam. "Tempat ini adalah fondasi jiwaku, Dinda. Di sini aku belajar tentang kejujuran, keberanian, dan cara berdiri tegak tatkala diterpa badai kehidupan. Sangat menyedihkan melihatnya sunyi seperti ini."
"Lalu, apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang, Sahabatku?" tanya Rafiq seraya menatap Fardhan lurus-lurus.
Fardhan mendongak, matanya berbinar dengan keyakinan yang mantap. "Aku ingin merenovasi dan mengembangkan surau ini, Rafiq. Bukan sekadar mengecat atau memperbaiki atapnya, tapi menjadikannya kembali sebagai pusat peradaban dan taman belajar yang hangat untuk anak-anak desa."
"Masya Allah... Niat yang sangat mulia, Mas Fardhan," bisik Humaira penuh rasa haru. "Saya akan bantu menyiapkan program perpustakaan dan ruang belajar Al-Qur'an untuk mereka."
°˖✧✿✧˖°
Pagi berikutnya, langkah Fardhan mengarah ke kediaman Kiai Zulfikar yang terletak tepat di belakang bangunan surau. Suara derit pintu kayu tua terdengar tatkala Kiai Zulfikar menyambut kedatangan Fardhan, Humaira, dan Rafiq. Ruang tamu bersahaja yang beraroma minyak wangi kasuari itu terasa begitu hangat.
"Assalamu’alaikum, Kiai," sapa Fardhan seraya membungkuk santun dan mencium tangan guru sepuhnya.
"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Fardhan, Humaira," balas Kiai Zulfikar dengan senyum ayah yang menenangkan. "Duduklah, Anak-anakku. Sungguh kebahagiaan bagi Kiai melihat kalian berdua kembali ke desa ini."
Fardhan membetulkan letak duduknya di atas tikar pandan. "Kiai, kedatangan saya pagi ini adalah untuk memohon izin dan doa restu. Saya berniat mengalokasikan sebagian rezeki dari Rimbai Logistik untuk merenovasi total dan mengembangkan surau tempat saya tumbuh ini."
Kiai Zulfikar tertegun sejenak. Matanya yang mulai kabur menatap wajah muridnya itu dengan binar keharuan yang tak tertahankan. "Fardhan... Surau ini memang sudah lama rapuh, dan Kiai kerap merasa sedih melihat anak-anak desa makin jauh dari surau. Tapi, apakah ini tidak akan mengganggu modal operasional usahamu?"
"Insya Allah tidak, Kiai," sela Humaira dengan suara jernih dan penuh kesantunan. "Kami sudah memperhitungkan alokasi dana dan pembukuan Rimbai Logistik. Ini adalah wujud rasa syukur kami atas keberkahan rezeki yang Allah limpahkan."
"Lagipula, Kiai," lanjut Fardhan dengan ketulusan yang murni, "apa yang saya miliki hari ini adalah buah dari ilmu dan doa yang Kiai tanamkan di surau ini belasan tahun lalu. Sudah kewajiban saya untuk mengembalikan kebaikan yang pernah saya terima kepada tempat ini."
Kiai Zulfikar meneteskan air mata keharuan, mengelus jemari Fardhan dengan lembut. "Alhamdulillah ya Rabb... Seorang murid yang tidak pernah lupa pada tempat ia menimba ilmu adalah anugerah terbesar bagi seorang guru. Kiai merestui dan mendoakan setiap langkahmu, Nak."
"Terima kasih banyak, Kiai," sahut Fardhan parau menahan haru.
Pengerjaan pembenahan surau pun dimulai dua hari kemudian. Puluhan warga desa, pemuda, dan pekerja dari Rimbai Logistik bahu-membahu membongkar atap yang lapuk, mengganti papan kayu yang rusak, serta memperluas area pelataran. Fardhan tidak hanya memantau dari jauh; ia ikut mengangkat kayu, mengaduk semen, dan mengecat dinding bersama para tetangga desa.
Humaira dan para ibu warga desa sibuk menyiapkan makanan dan minuman hangat di dapur swadaya. Suasana gotong royong yang telah lama hilang dari desa itu mendadak hidup kembali, membakar semangat kebersamaan di antara warga.
Dalam waktu tiga minggu, bangunan surau tua itu bertransformasi menjadi sangat anggun. Dinding kayu yang kini bercat hijau zaitun dipadu dengan lantai keramik sejuk, karpet sajadah yang empuk, serta pencahayaan lampu yang terang dan hangat. Di samping serambi utama, dibangun pula sebuah ruang perpustakaan mini yang dilengkapi puluhan meja mengaji kayu dan ratusan buku Al-Qur'an serta kitab bergambar yang menarik.
°˖✧✿✧˖°
Hari peresmian wajah baru surau disambut dengan cuaca sore yang amat cerah. Langit membiru bersih tanpa awan, dan angin sepoi-sepoi membawa keharuman wangi kayu cendana yang disemprotkan di dalam ruangan. Papan nama kayu berukir halus kini terpampang tegas di depan pelataran: Surau Ar-Rimbai.