SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #59

ANAK ANAK BELAJAR BERMIMPI

Anak-Anak yang Belajar Bermimpi

---o0o---

Matahari pagi merayap pelan di atas hamparan Lembah Rimbai, membakar kabut tipis yang menggantung di sela-sela pucuk pohon kelapa. Udara pegunungan terasa dingin menyegarkan, membawa aroma embun pagi yang menetes dari dedaunan sawah. Di pelataran rumput Madrasah Tani Rimbai, puluhan anak-anak desa berbaris dengan rapi. Suasana yang tadinya riuh oleh celoteh riang seketika beranjak hening saat Fardhan Ar Rimbai melangkah menuju tengah lingkaran tempat mereka berkumpul.

Anak-anak itu mengenakan seragam kebanggaan mereka—kemeja putih bersih berlengan pendek dan celana kain sederhana. Di antara mereka, tampak Hasan, putra Pak Sukardi, berdiri tegak di barisan paling depan dengan mata berbinar-binar. Di jemari mungil Hasan, tergenggam sebuah buku tulis bergaris yang sampulnya sudah agak lusuh oleh tumpahan air hujan kemarin sore.

Humaira Al-Faruqi berdiri tak jauh di selasar bangunan bambu bersama Nyai Maryam dan beberapa pengajar muda. Ia merapatkan selendang rajut berwarna hijau muda, memandangi suaminya dengan raut wajah yang memancarkan ketenangan dan kebanggaan yang mendalam.

Fardhan berlutut di atas rumput basah, menyelaraskan tinggi tubuhnya dengan anak-anak desa di hadapannya. Ia memandangi satu per satu wajah polos yang dipenuhi keharapan murni itu.

"Anak-anakku sekalian," sapa Fardhan dengan suara yang amat lembut, jernih, dan menentramkan.

"Selamat pagi, Kak Fardhan!" sahut anak-anak desa secara serempak, menggelegar penuh semangat hingga memantul di dinding-dinding bambu madrasah.

Fardhan tersenyum lapang, memandangi Hasan yang mengacungkan tangannya tinggi-tinggi.

"Kak Fardhan!" panggil Hasan dengan nada penasaran. "Hari ini kita mau belajar apa lagi? Apakah kita mau belajar memisahkan benih padi unggul di kebun belakang seperti minggu lalu?"

Fardhan menggelengkan kepala pelan, menatap Hasan dengan kehangatan sorot mata seorang kakak. "Hari ini kita tidak akan masuk ke kebun dulu, Hasan. Hari ini kita akan belajar tentang sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar menanam padi."

Anak-anak saling pandang satu sama lain, memiringkan kepala dengan rasa ingin tahu yang membuncah.

"Belajar apa, Kak?" tanya Siti, seorang anak perempuan cilik berkerudung merah tua, dari barisan tengah. "Apakah belajar merangkai huruf dan berhitung cepat?"

"Hari ini," tutur Fardhan seraya merangkul pundak Hasan dan Siti, "kita akan belajar tentang bagaimana cara seorang hamba memelihara mimpi-mimpinya di hadapan Sang Maha Pencipta."

Humaira melangkah mendekat, membawa nampan berisi gelas-gelas bambu berisi teh herbal hangat untuk para pengajar. Ia mendengarkan perkataan suaminya dengan senyuman tipis yang sangat anggun.

"Kak Fardhan," celoteh Hasan lagi seraya menatap lurus ke mata Fardhan. "Bapak di rumah sering bilang kalau anak petani seperti Hasan tidak usah bermimpi terlalu tinggi. Kata Bapak, yang penting Hasan bisa cangkul sawah dan membaca pembukuan toko. Tapi Hasan ingin sekali bisa membuat mesin pemotong padi sendiri seperti gambar di buku perpustakaan! Apakah Hasan boleh punya mimpi tinggi seperti itu, Kak?"

°˖✧✿✧˖°

Pertanyaan jujur yang keluar dari mulut Hasan menghantam kedalaman sanubari Fardhan. Ia teringat masa kecilnya dulu, di mana keterbatasan ekonomi dan pandangan miring orang-orang sekitar sering kali mematikan benih cita-cita anak-anak desa sebelum sempat berkembang.

Fardhan memegang kedua bahu Hasan, menatap budak kecil itu dengan raut wajah penuh kesungguhan.

"Hasan," ucap Fardhan bulat. "Mimpi yang jujur di dalam dada seorang anak saleh tidak pernah terlalu tinggi di hadapan Allah."

Anak-anak desa di sekitar mereka mulai merapat, mengelilingi Fardhan dengan ketertarikan yang luar biasa.

"Tapi Kak..." potong Budi, anak petani lain yang badannya agak gempal. "Kata Paman Handoko di kedai kopi, orang-orang kecil seperti kita ini kalau bermimpi terlalu tinggi nanti jatuhnya sakit sekali. Katanya sukses itu cuma buat orang-orang kaya di kota yang punya modal besar."

Fardhan berdiri perlahan, memandangi Budi dan seluruh anak desa di pelataran tersebut. Hatinya tergerak untuk meluruskan pemahaman rapuh yang diwariskan oleh orang-orang dewasa yang patah semangat di sekitar mereka.

"Budi, Hasan, dan anak-anakku semuanya," tegas Fardhan, intonasinya berwibawa namun tetap hangat. "Kalian harus mendengarkan ini baik-baik. Kakak tidak akan pernah berdiri di sini dan membohongi kalian dengan ucapan manis seperti yang sering kalian dengar di TV atau cerita-cerita dongeng."

Anak-anak mendongakkan kepala, menyimak setiap kata yang diucapkan Fardhan.

"Kakak tidak akan mengatakan kepada kalian: 'Kalian pasti sukses jika rajin belajar.' Kakak juga tidak akan pernah menjanjikan: 'Pasti semua cita-cita kalian akan terwujud sempurna.'"

Humaira tertegun di tepi selasar, begitu pula Hafiz Al-Manshur yang baru saja melangkah masuk membawa buku presensi madrasah. Hafiz menghentikan langkahnya, tertarik mendengarkan kalimat yang dilontarkan Fardhan.

"Lho... kenapa begitu, Kak Fardhan?" tanya Siti heran, keningnya berkerut tipis. "Bukankah guru-guru di sekolah selalu bilang kalau kita kerja keras kita pasti sukses?"

"Karena dunia tidak berjalan di atas kesombongan manusia, Siti," jawab Fardhan lembut seraya berlutut kembali di hadapan Siti. "Jika Kakak mengatakan kalian pasti sukses hanya karena kerja keras kalian, Kakak sedang mengajari kalian menjadi manusia yang sombong—manusia yang mengira bahwa nasibnya berada sepenuhnya di dalam kekuasaan tangannya sendiri."

Hafiz tersenyum tipis di belakang, mengangguk-angguk paham ke mana arah pengajaran sahabatnya itu.

"Lalu, apa yang harus kami lakukan, Kak?" tanya Hasan dengan mata berbinar penasaran.

Fardhan tersenyum lapang, mengangkat tiga jemari tangannya di hadapan anak-anak desa tersebut. "Yang harus kalian lakukan dalam hidup ini hanya tiga hal sederajat: Bermimpilah. Berusahalah. Berdoalah. Tetapi setelah kalian melakukan ketiga hal itu dengan segenap jiwa kalian, jangan pernah lupa satu hakikat yang paling utama: hasil akhirnya adalah milik Allah semata."

°˖✧✿✧˖°

Suasana pelataran madrasah terasa kian sakral. Kalimat Fardhan menembus jiwa anak-anak desa yang masih bersih itu, menanamkan pengertian baru tentang takdir dan usaha.

Humaira berjalan pelan mendekati Fardhan, lalu berdiri bersanding di sisinya. Ia memandangi anak-anak desa dengan tatapan penuh kasih sayang seorang ibu pembimbing.

"Anak-anakku," panggil Humaira dengan suaranya yang merdu. "Apakah kalian paham apa maksud perkataan Kak Fardhan tadi?"

Hasan menundukkan kepalanya, memandangi buku tulis di tangannya sebelum kembali mendongak menatap Humaira. "Maksudnya... kalau Hasan sudah belajar membuat mesin, lalu mesinnya tetap gagal atau rusak, Hasan tidak boleh putus asa dan marah pada keadaan ya, Mbak Humaira?"

"Masya Allah, pinter sekali Hasan," puji Humaira seraya mengusap kepala Hasan yang tertutup peci hitam. "Benar sekali. Jika mimpi kita belum terwujud sesuai keinginan kita, itu bukan berarti usaha kita sia-sia. Itu artinya Allah sedang memilihkan takdir yang jauh lebih baik untuk kita, yang belum sanggup kita pahami hari ini."

"Tapi Kak Fardhan!" sela Budi lagi. "Bagaimana kalau kita sudah berdoa siang malam, tapi kita tetap miskin dan gagal?"

Fardhan memegang tangan Budi, membimbing budak itu duduk di atas bangku kayu bawah pohon beringin rindang di tepi lapangan.

"Budi," tutur Fardhan dengan nada yang sangat dalam. "Tidak ada doa yang gagal di hadapan Allah. Tidak ada usaha yang sia-sia di mata Sang Maha Pencipta. Yang disebut gagal yang hakiki adalah ketika kamu berhenti bermimpi dan berhenti bersujud kepada-Nya hanya karena dunia tidak memberi apa yang kamu minta."

"Tapi Kakak sendiri dulu bagaimana?" tanya seorang santri cilik lainnya bernama Fahri. "Apakah Kak Fardhan dulu pernah bermimpi tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang Kak Fardhan minta?"

Lihat selengkapnya