SEAKAN Cuma MIMPI

Amrullah Ibrahim
Chapter #60

SEAKAN CUMA MIMPI

Seakan Cuma Mimpi

---o0o---

Matahari sore merayap perlahan turun di ufuk barat Lembah Rimbai, menuangkan pendar cahaya keemasan yang hangat melintasi bukit-bukit hijau. Angin senja berhembus lembut, membelai dedaunan pohon mangga tua yang berdiri kokoh di pekarangan rumah kayu sederhana itu. Di bawah naungan dahan-dahan rimbun yang telah menyaksikan bergantinya zaman, Fardhan Ar Rimbai duduk bersila di atas amben kayu jati.

Rambutnya kini telah memutih sepenuhnya, mengisahkan panjangnya rentang waktu yang telah ia tempuh. Namun, binar di mata tua Fardhan tetap jernih dan memancarkan kedamaian jiwa yang amat dalam. Di tangannya, tergenggam sebuah Mushaf Al-Qur'an bersampul kulit cokelat tua yang sudah agak pudar di bagian sudutnya—mushaf yang sama yang mendampingi setiap hela napas perjuangannya selama puluhan tahun.

Jemarinya yang keriput namun kokoh perlahan membuka lembaran demi lembaran kertas tipis itu hingga terhenti pada Surah Al-Kahfi.

Humaira Al-Faruqi melangkah pelan dari arah teras rumah, membawa dua cangkir teh herbal hangat di atas nampan kayu. Kerutan di sudut mata dan pipinya sama sekali tidak memudarkan keanggunan serta ketenangan yang senantiasa memancar dari jiwanya. Ia meletakkan nampan tersebut di sudut amben, lalu duduk bersanding di samping Fardhan.

"Sedang membaca Surah Al-Kahfi lagi, Kak?" tanyanya lembut, menatap suaminya dengan penuh kasih sayang yang tak pernah pudar oleh usia.

Fardhan berpaling, menatap Humaira lalu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat hangat.

"Iya, Humaira," sahut Fardhan dengan suara berat dan menentramkan. "Setiap kali membaca ayat-ayat di surah ini, hati Kakak selalu ditarik kembali ke tempat duduk ini... di bawah pohon mangga tempat almarhum Ayah dahulu memberikan nasihat-nasihat pertamanya."

Humaira merapatkan selendang rajut abu-abunya, menyandarkan badannya pelan. "Ayah pasti sangat bangga melihat bagaimana Kakak menjaga amanah dan tanah lahir ini selama puluhan tahun."

Fardhan memandangi bayangan dahan pohon mangga di atas rumput basah. Ingatannya melayang menembus lorong waktu yang amat jauh, memanggil kembali sosok dirinya sewaktu masih menjadi seorang anak desa yang lugu.

"Dulu, sewaktu Kakak masih menjadi bocah kecil," tutur Fardhan seraya terkehut halus, "Kakak sering duduk di sini dengan kaki penuh lumpur bekas menggembala sapi. Kakak cuma punya mimpi-mimpi yang amat sederhana: ingin membelikan Ayah sarung baru dan memastikan toko kelontong kecil kita tidak gulung tikar."

"Namun Allah melipatgandakan mimpi-mimpi sederhana itu menjadi sesuatu yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya, bukan?" bisik Humaira dengan senyuman anggun.

"Benar, Humaira," jawab Fardhan meluruskan pandangannya ke arah hamparan kebun di seberang jalan. "Padahal waktu itu Kakak hanya anak desa tanpa modal, penuh keterbatasan, dan tidak sedikit orang yang meragukan apakah anak petani miskin seperti Kakak bisa bertahan di tengah kerasnya persaingan dunia."

°˖✧✿✧˖°

Keheningan senja menyelimuti sejenak pekarangan rumah tersebut, menyisakan gesekan dedaunan mangga yang gemerisik ditiup angin. Fardhan mengelus sampul Al-Qur'an di pangkuannya, meresapi setiap kenangan masa muda yang berkelebat bagaikan jalinan adegan film di dalam benaknya.

"Teringatkah Kakak saat pertama kali kita berjuang membangun Rimbai Niaga Mandiri?" tanya Humaira, membuka memori masa lalu yang penuh warna.

"Mana mungkin Kakak lupa, Humaira," jawab Fardhan seraya tersenyum mengenang. "Waktu itu kita dihantam fitnah keji dari pesaing bisnis di kota. Gudang beras kita disegel, nama baik keluarga tercemar, dan modal usaha kita hancur hingga kita harus memulai segalanya dari titik nol kembali."

"Saat itu Humaira menangis sepanjang malam di kamar ini," aku Humaira dengan tatapan mata yang berkaca-kaca mengingat masa sulit tersebut. "Humaira berpikir karier dan perjuangan Kakak sudah selesai untuk selamanya."

Fardhan memegang jemari istrinya yang hangat, menggenggamnya dengan penuh rasa terima kasih.

"Tapi engkau tetap berdiri tegar di samping Kakak, Humaira," ucap Fardhan tulus. "Engkau yang mengingatkan Kakak bahwa kegagalan saat itu bukan tanda Allah murka, melainkan cara Allah membuang sifat sombong dari dalam dada kita. Kegagalan itu mengajari kita bagaimana cara membangun manajemen yang jauh lebih jujur dan tahan banting."

Humaira menatap mata suaminya. "Lalu bagaimana dengan kepergian calon buah hati pertama kita puluhan tahun lalu, Kak? Waktu itu adalah ujian tertajam yang hampir merobohkan jiwa kita berdua."

Fardhan mengangguk perlahan, dadanya terenyuh namun kini tidak ada lagi rasa sakit yang menyisa, melainkan kepasrahan yang telah matang.

"Kehilangan itu..." tutur Fardhan dengan intonasi mendalam, "adalah cambuk yang mendewasakan pemahaman kita tentang takdir. Lewat ujian kehilangan itulah Allah mendidik hati kita agar tidak terlalu menggenggam erat apa pun yang ada di dunia ini. Karena pada hakikatnya, seluruh yang kita miliki hanya titipan sementara."

"Dan setiap pertemuan dengan orang-orang hebat maupun orang-orang zalim dalam perjalanan hidup Kakak," sela Humaira, "ternyata semuanya disusun dengan sangat sempurna oleh Allah, ya Kak?"

"Sangat sempurna, Humaira," sahut Fardhan penuh wibawa. "Orang-orang baik seperti Kiai Zulfikar, Hafiz, dan Haji Ahmad dihadirkan Allah untuk menguatkan langkah kita. Sedangkan orang-orang seperti Pak Setyo atau para pesaing yang membenci kita dihadirkan untuk menempa kesabaran dan keikhlasan kita. Tidak ada satu pun peristiwa yang kebetulan atau sia-sia."

°˖✧✿✧˖°

Langkah kaki tegap terdengar mendekati amben kayu. Hafiz Al-Manshur yang kini juga telah berambut perak dan berpenampilan anggun melangkah masuk ke pekarangan. Di belakangnya, tampak Hasan—anak desa yang dahulu belajar bermimpi di madrasah, kini telah tumbuh menjadi pria dewasa yang sukses memimpin jaringan Koperasi Tani Modern Lembah Rimbai.

"Assalamu’alaikum, Fardhan! Humaira!" sapa Hafiz dengan suara yang tetap renyah dan penuh kehangatan persaudaraan.

"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Hafiz, Hasan," sahut Fardhan seraya menyambut mereka dengan senyuman lapang. "Mari duduk di sini bersama kami."

Hasan menunduk hormat, mencium tangan Fardhan dan Humaira dengan penuh takzim sebelum duduk di pinggir amben.

Lihat selengkapnya