Searching for destiny

Rina Indie
Chapter #5

You speak of destiny as if it was fixed Philip Pulmann. The golden compass


Sore hari. Nenek dan Jane sedang duduk di teras rumah. Danau Windermere tampak berkilauan dari kejauhan. Daddy dan mummy sedang pergi ke kedai Uncle Tom. Jane masih memikirkan mimpi tadi siang. Dia bingung apakah itu? Apakah dia memimpikan itu karena baru saja membaca dongeng pangeran dan putri atau karena hal lain. Jane penasaran. Karena tidak tahan dia bertanya pada grandma. “Grandma,” panggilnya. “Hmm, sejenak grandma mengalihkan pandangan dari sulaman kristik yang sedang ia kerjakan. “Ada apa Jane,” tanyanya. Jane jarang bicara. Bukan karena malu tapi karena bahasa Inggrisnya terbatas. “Hmm, apa grandma percaya pada mimpi,” tanya Jane. Dahi grandma berkerut “maksudnya,” tanya grandma agak bingung. Jane juga bingung bagaimana cara menjelaskan. “Apakah grandma pernah bermimpi,” Jane mengubah pertanyaannya. “Tentu,” jawab grandma. “Apa pendapat grandma tentang mimpi itu?” “Hmm tidak ada. Itu cuma bunga tidur. Tidak berarti apa-apa.” “Oh tidak ada artinya,” ucap Jane kecewa. “Kenapa tanya grandma heran melihat kekecewaan Jane. “Tidak ku pikir mimpi bisa terjadi.” “Oh. Mimpi bisa terjadi,” balas grandma. Jane terkejut. “Benarkah?” “Benar Ada mimpi yang bisa terjadi. Namanya precognition. Apakah Jane pernah mendengarnya.” “Belum," jawab Jane tertarik. “Precognition itu mimpi yang meramalkan kejadian di masa depan.” “Contohnya,” tanya Jane. “Ini pernah terjadi di Inggris Jane, dulu sekali,” ucap grandma pelan pelan dan menggunakan kalimat sesederhana mungkin supaya Jane paham. “Jadi tahun enam puluhan di Inggris tepatnya di daerah Wales pernah terjadi kejadian yang buruk sekali. Sebuah timbunan limbah batubara yang besar longsor lalu menerjang desa di bawahnya. Nenek membuat gerakan menerjang dengan tangannya supaya Jane mengerti. Akibatnya 140 lebih orang meninggal dan seratus di antaranya adalah anak anak karena salah satu bangunan yang tertimbun adalah sekolah. Nah salah satu anak yang menjadi korban pernah berkata kepada ibunya sebelum kejadian. Bahwa tadi malam dia bermimpi pergi ke sekolah. Tapi tak ada sekolah di sana. Sesuatu yang hitam telah menutupinya. Dia kemudian menjadi salah satu korban bersama teman temannya.” Jane merinding tidak mengira mendapat cerita semengerikan itu. “Ada pula cerita tentang Abraham Lincoln presiden Amerika yang pernah melihat kematiannya sendiri.” Nenek mulai asyik bercerita. Untung Jane tidak begitu paham. Kalau iya dia pasti ngeri. “Jadi presiden Abraham Lincoln pernah bermimpi melihat jenazah dibaringkan di ruangan sebelah timur gedung putih. Lalu dia bertanya pada pelayat. Siapakah yang meninggal? tanyanya. Sang presiden, jawab mereka. Beberapa minggu kemudian presiden Abraham Lincoln di tembak mati dan mayatnya disemayamkan di ruangan sebelah timur. Pernah juga ada pengusaha Inggris yang bermimpi melihat kapal Titanic tenggelam." Kamu tahu kapal Titanic, Jane?” Tanya grandma. “Iya pernah melihat di tv mengerikan sekali,” jawab Jane. “Benar, memang mengerikan,” balas nenek. “Jadi ada pengusaha Inggris yang bermimpi melihat kapal Titanic terbalik dan tenggelam,” ulang nenek kali ini pelan pelan. “Tidak hanya sekali dia memimpikannya dua kali. Akibatnya dia membatalkan tiket yang sudah dia beli dan selamat,” jelas nenek. “Apakah mimpi itu hanya tentang hal buruk,” tanya Jane bingung. “Tidak juga. Nenekku Greta pernah bermimpi melihat wajah kakek Henry yang saat itu tidak dikenalnya. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu lalu menikah.” “Benarkah,” Jane hampir menjerit. “Benar,” ucap grandma yang bingung melihat sikap Jane yang tiba tiba jadi riang. Tapi Jane sudah sibuk dengan pikirannya sendiri. Apakah itu berarti aku sedang memimpikan pangeranku di masa depan, pikirnya senang.

Besoknya mereka kedatangan tamu. Grandpa James. Grandpa James Tetangga grandma. Mereka teman lama. Grandpa James dan grandma sudah berteman puluhan tahun lalu sejak mereka masih sekolah. Grandpa James datang membawa cucunya, Thomas. Usianya sama dengan Jane 9 tahun. Thomas tinggal di London bersama kedua orangtuanya yang dosen. Tapi setiap libur sekolah Grandpa James akan menjemput Thomas dan mengajaknya berlibur dan berpetualang di Windermere. Setiap kali Thomas datang kakek akan membawanya menemui nenek. Untuk menikmati pesta minum teh yang layak itu alasan grandpa James. Grandpa James tinggal sendiri. Dia juga tidak pandai memanggang kue. Jadi untuk mengurangi rasa bersalahnya dia sering membawa Thomas ke rumah nenek untuk menikmati kue buatan Aunt Karen yang enak. Grandma senang bertemu Thomas. Dia anak yang baik dan sayang pada kakeknya. Berdua mereka sering menghabiskan waktu di alam. Hiking, kayaking tetapi yang paling utama adalah berburu kupu kupu. Lake distrik terkenal dengan kupu kupu langkanya. Thomas dan Grandpa James kadang pergi ke hutan untuk menemukan kupu kupu, memotretnya dan jika menemukan yang mati mereka akan mengawetkannya. Seperti saat ini. Thomas membawa salah satu kupu-kupu yang di awetkan. Dia memamerkannya pada Jane. “Cantik kan,” pamernya bangga. Jane melihat kupu kupu tersebut. Berukuran sedang berwarna coklat tua dengan warna oranye di ujung sayapnya dengan bulatan hitam putih di dalamnya. Apa menariknya, batin Jane dia pernah melihat yang lebih cantik. “Just ordinary,” ucap Jane. Biasa aja. Thomas terlihat jengkel. “Ini kupu kupu langka tau.” Memangnya kalau langka harus cantik batin Jane. Dia hanya bisa membatin karena bahasa Inggrisnya jelek. “I have seen prettier,” balas Jane. “You know nothing about butterflies,” ucap Thomas jengkel. “Kamu bahkan tidak punya apa pun untuk dibanggakan,” ujarnya lagi. Dia benar Jane cuma punya buku dongeng yang sudah kumal. Oh nanti dulu bukankah aku punya sesuatu untuk dibanggakan pikir Jane. “Yah sebenarnya kemarin aku bermimpi di lamar pangeran,” ucap Jane. “Di lamar pangeran?" Tanya Thomas terbelalak. “Benar. Dia memegang tanganku dan melamarku di ruangan yang penuh berlian,” jelas Jane. “Tahu dari mana ruangan itu penuh berlian?"Tanya Thomas lagi. “Because its sparkling,” ucap Jane pendek. Thomas terbahak. “Kalian perempuan terlalu banyak khalayannya,” gelaknya. “Itu bukan khalayan. Itu mimpi,” bantah Jane. “Ah apa bedanya,” cemooh Thomas. “Its different,” balas Jane jengkel. “Kau tidak akan menikah dengan pangeran. Itu cuma mimpi,” balas Thomas. “I will,” ujar Jane. “Imposibble,” balas Thomas. “Kata grandma itu bisa terjadi.” “No way. Kau tidak mungkin menikahi pangeran hanya dengan bermimpi.” “Maybe its destiny,” balas Jane. “Destiny harus di cari tau. Seperti kata pujangga kami Shakespeare, It is not the stars to hold our destiny but in our selves.” Jane terdiam. Walau bahasa Inggrisnya tidak bagus. Tapi dia memahami apa yang dikatakan Thomas. “Kalau begitu aku akan mencari pangeranku,” ucapnya dalam bahasa Indonesia. “Apa,” tanya Thomas bingung. “I will find my prince,” jawab Jane. “You will looking for him,” ucap Thomas tidak yakin. “Yes,” jawab Jane yakin. Jika putri duyung saja bisa menemukan sang pangeran lalu kenapa dia tidak.



Lihat selengkapnya