Searching for destiny

Rina Indie
Chapter #7

As long As You Keep One Foot in The Real World While The Other Foot in a Fairy Tales That Fairy Tales is Going to Seem Kind of Attainable Aaron Sorkin



Sembilan tahun kemudian


Jakarta


Jane sedang mengepak barang. Baju dan buku bertebaran di karpet kamarnya.“Jadi, begitu tiba di sana kau akan segera mencari pangeranmu?” Sebuah suara mengikik geli terdengar dari arah kasur. Jane hanya memanyunkan bibirnya. Dia sudah biasa di goda. “Hmm apa lagi ya yang harus di bawa,” Jane berpikir keras. “Jangan lupa buku dongengmu,” diikuti tawa membahana lagi lagi dari arah kasur. Jane berkacak pinggang, menatap sepupunya Stella yang sedang memainkan bonekanya di atas kasur. “Berhenti menggodaku,” tukas Jane. “Aku hanya mengingatkan…jangan lupa mimpi masa lalumu,” lagi lagi semburan tawa keluar dari mulut Stella yang kecil itu. Kadang Jane menyesal telah menceritakan mimpinya pada Stella. Sebenarnya Stella satu satunya orang yang tahu dengan mimpi Jane. Setelah pulang dari Inggris Jane memilih menyimpan rapat mimpinya. Dia khawatir orang akan menganggap remeh mimpinya atau menganggap aneh karena hal seperti itu dimimpikan anak kecil. Tapi saat Jane dewasa banyak laki laki yang menyukainya. Namun Jane selalu menolaknya dan itu membuat bingung Stella. Ketua osis, bintang basket, aktor muda berbakat, anak pengusaha terkenal, semua di tolaknya. “Pendekatan dulu kek siapa tahu cocok. Ini main tolak aja,” ujar Stella bete. Ia jengkel karena Jane menolak “kesempatan baik”. Untuk menenangkan Stella yang mengamuk Jane menceritakan mimpinya. “Kau yakin, tidak menonton acara lamaran di tv sebelumnya,” tanya Stella.”Tidak, jawab Jane tegas. “Mimpi yang aneh,”ucap Stella bingung. “Tapi Jane kau jangan mudah percaya dengan mimpi. Karena belum tentu itu yang sebenarnya. Aku ingat pernah membaca artikel tentang seseorang yang bermimpi mengalami kecelakaan di suatu tempat dan mengalami patah tulang. Dia sampai paranoid jika harus mengemudi di tempat yang mirip dengan yang ada di dalam mimpinya. Namun waktu berlalu dan dia ternyata baik baik saja. Jadi dia pun melupakan mimpi buruknya itu. Anehnya tak lama kemudian sepupunya mengalami kecelakaan di tempat yang pernah dia mimpikan dan patah tulang pula. Kamu tahu kan itu artinya apa. Itu artinya mimpi itu belum tentu terjadi padamu tapi bisa saja terjadi pada sepupumu yang cantik ini,” ha ha ha tawa Stella kembali membahana. Anak Tante Yuni, adik ibu ini memang suka sekali bercanda. “Ingat ya, sang pangeran menyebut namaku, bukan namamu. Dalam hati Jane bersyukur sang pangeran tidak lupa menyebut namanya.” “Ah, iya benar, keluh Stella kecewa.” “Tapi darimana sih kamu tahu dia pangeran,” tanya Stella usil. “Karena dia punya ruangan penuh berlian,” jawab Jane waswas takut di goda Stella lagi. Benar saja, Stella langsung menyambar. “Tapi Jane kalau hanya berdasar kerlap kerlip bisa saja itu cuma sebuah kamar yang tertutup kertas mengkilap atau kertas metalik gitu lhoo, mungkin saat itu kamu sedang ulang tahun atau gimana gichu ucapnya dengan mulut menahan tawa. “Ya sudah kalau tidak percaya,” ucap Jane jengkel.


Lihat selengkapnya