SEBAIKNYA KAMU LARI

ken fauzy
Chapter #2

BAB 2. KELUARGA ADALAH YANG TERPENTING

Perempuan berusia 40 tahunan dan bertubuh gemuk itu membuka matanya. Ia bangun lalu memakai mantel tidurnya. Perempuan itu bernama Agni dan ia melihat jam dindingnya.

Pukul 2.30 WIB.

Hatinya merasa gelisah. Ia mengambil telepon genggamnya, membukanya. Dengan perlahan Agni mengecek-ngecek pesan WA atau telepon masuk, tetapi tidak ada pesan WA baru atau pun telepon masuk yang baru. Ia menyimpan telepon genggam itu di dalam kantong mantel cardigan-nya melangkah keluar kamar.

Di luar kamar suasana temaram menyambutnya, semua lampu besar telah dimatikan sejak jam sembilan malam tadi, hanya lampu-lampu sudut yang dibiarkan menyala. Agni berjalan melintasi ruang keluarga yang tampak rapi dan bersih dengan poster besar di sebuah bingkai kaca menempel di tengah dinding bertuliskan, Keluarga Adalah Yang Terpenting.

Di bawah poster itu tampak berbagai foto dalam bingkai yang diletakkan di atas lemari bufet kayu mahoni. Ada foto dirinya bersama suami dan anak-anaknya, foto dirinya bersama suami, dan foto anak-anak sejak bayi hingga sekarang.

Ia berjalan menuju sebuah kamar, mendorong pintunya, lalu melongok melihat kedua anaknya sedang tertidur pulas di dua tempat tidur yang terpisah. Ia melihat kamarnya yang kecil, ingin sekali hatinya memberikan kamar terpisah untuk kedua anaknya yang beranjak remaja ini, tetapi ia belum memiliki dana yang cukup.

Agni menghela nafasnya seraya mendekati tempat tidur anak laki-lakinya, tersenyum melihat selimut yang tertendang, ia menarik selimut itu untuk kembali menyelimuti putranya lalu mengecup dahinya. Sang putra menggeleng seraya menepiskan bekas kecupan itu, Agni tertawa kecil, ia tahu anak laki-lakinya tidak suka diperlakukan seperti begitu.

Agni kemudian merapikan piala-piala kejuaraan bela diri yang diraih putranya itu, untuk kemudian menuju tempat tidur anak perempuannya yang berada di sudut seberangnya.  Ia mengambil buku-buku yang berserak di sekitar kepala anak perempuannya yang senang membaca dan sedang terlelap itu. Buku-buku berbagai genre itu dibariskan dengan rapi di atas meja belajarnya, ia lalu mengecup dahi putrinya dan keluar kamar.  

Langkahnya berlanjut hingga ke sebuah kamar yang berseberangan dengan ruang tamu. Ia mendorong pintu kamar yang awalnya merupakan kamar tamu ini tetapi kini telah menjadi kamar untuk putri sulungnya. Ia melangkah masuk melihat-lihat kamar yang selalu dirapikannya itu. Duduk di pinggir tempat tidurnya, memeluk selimut berbahan fleece berwarna biru muda sembari memandangi foto-foto si pemilik kamar yang menempel di dinding. Foto-foto gadis muda ceria yang sedang mengejar mimpi-mimpinya. Ia tersenyum melihat berbagai pose putrinya itu seraya mengeluarkan telepon genggam dari kantong jaketnya.

Ia mencoba menelepon tetapi setelah menunggu beberapa saat, nada sambungnya tidak terjawab, akhirnya ia memutuskan untuk mengetik pesan dan mengirimkannya. Setelah itu Agni keluar dari kamar menutup pintunya dan tidur di sofa di ruang keluarga.

 

***

  

Alarm dari telepon genggam berbunyi.

Agni terkesiap dan melihat, sudah pukul 5.30 WIB. Ia segera melompat bangun dari sofa, seraya membangunkan anak-anaknya di depan pintu kamar. “Aditya! Anindya! Bangun cepat bangun Nak, sudah siang, ayo bangun, kalian harus ke sekolah!” teriaknya menuju wastafel untuk mencuci muka lalu ke garasi untuk mengeluarkan mobil tuanya. Sekembalinya dari mengeluarkan mobil terlihat kedua anaknya masih bermalasan di atas ranjang masing-masing.

“Haduh! Ayo, ayo cepat mandi! Dit, Nin! Nanti kesiangan!” teriaknya lagi seraya menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Tak lama kemudian anak laki-lakinya, Aditya, telah muncul di dapur dengan pakaian seragam sekolah menengah pertamanya.

“Maaa, Adit ga mandi tuuuh!!” teriak Anindya.

Agni bertolak pinggang di depan Aditya yang telah menggigit roti isi daging panggangnya itu.

“Hehehe … sekali ini doang Ma,” cengir Aditya.

“Tapi sudah sikat gigi?” tanya Agni, Aditya mengangguk.

“Sudah pake minyak wangi?” tanya Agni lagi, Aditya mengangguk lagi sembari mengangkat tangannya untuk membuktikkan ketiaknya tidak bau.

“Ok sekali ini saja … tapi besok-besok kamu harus mandi! Awas ya Dit,” kata Agni kembali sibuk menyiapkan sarapan untuk putrinya juga untuk dirinya.

“Siap Mamaku tercintah!” seru Aditya.

Anindya masuk ke dapur dan duduk di kursi makan seberang Aditya. Agni meletakkan piring yang berisikan nasi goreng dengan telur ceplok di hadapan Anindya. “Jorok ih! Ga mandi, ntar cewek-cewek di sekolah pada ga mau sama elu!” tukas Anindya sambil mengaduk nasi gorengnya lalu menyuapnya.

“Biarin … dari pada elu sudah mandi tapi tetep ga ada yang mau,“ ejek Aditya lalu meminum susunya. Anindya mengambil potongan kecil telur ceploknya lalu menimpukkannya pada Aditya. Aditya terkejut lalu membalasnya dengan melemparkan potongan kecil rotinya.

Agni yang sedang menyeruput kopinya menghela nafas melihat kelakuan kedua anaknya itu. “Teruus … terus aja timpuk-timpukkannya … kalau masih kurang, tuh ada sendok, garpu, piring … sekalian timpukin---“ Agni terdiam tidak melanjutkan kalimatnya karena potongan telur ceplok itu nyasar dan menempel di hidungnya.

“Ups … maaf Ma … ini si Adit-nya nih!” kilah Anindya terkejut tak menyangka potongan telur yang dilemparkannya malah mengenai mamanya. “Rasain, rasain … marahin Ma … marahin,” timpal Aditya mengompori lalu tertawa.

Agni mengambil telur itu dari hidungnya. “Jadi … kalian mau maen lempar-lemparan nih? Baiklah rasakan ini!” Agni mengambil potongan roti tawar dan melemparkannya pada Anindya juga Aditya yang terkejut lalu menjerit-jerit berlari sambil tertawa. Agni terus mengejar mereka yang lari berkeliling di dalam rumah.

“Udah Ma, udah … capek nih,” ucap Anindya terengah-engah.

Lihat selengkapnya