SEBAIKNYA KAMU LARI

ken fauzy
Chapter #3

BAB 3. MULAI MEMANAS

Awan mendung menggantung tepat di atas tenda-tenda. Angin bertiup dingin dan kencang. Para siswi baru itu sedang berlari mengitari lapangan dengan membawa beban batu di punggung mereka dengan tas ransel.

“Apa maksudnya coba … kita disuruh lari … bawa beban kek gini?” gerutu Dina terengah-engah. “Emang kita mau jadi tentara apa?” timpal seorang siswi mendengar gerutuan Dina.

Anggi hanya diam saja mendengar keluhan teman-teman seangkatannya itu.

“Kita harus aduin ke sekolah nih,” sahut salah satu siswi diikuti anggukan kepala yang lainnya. “Sebaiknya sih jangan, gue lihat tiga kakel itu memang segalak itu, ntar jadi masalah buat kita ke depannya,” saran siswi lain.

“Gue sebel banget sama trio kakel itu huh,” sambung siswi tadi. “Sama! Mereka paling rese, mana jelek dan menyebalkan pula, paket komplit!” timpal siswi lain yang nimbrung dengan nafas terengah. Mereka senyam-senyum menahan tawa mendengar komentar siswi itu.

“Tapi kenapa ya, kalau senior yang jelek biasanya paling banyak bertingkah? Galak dan minta dihormatin gitu?” tanya salah satu dari mereka. “Soalnya caper, kalau ga caper ga ada yang lirik mereka,” sahut yang lain, mereka pun cekikikan.

“Nggi … lo … ga apa-apa?” tanya Dina terengah pada Anggi yang berlari di sampingnya. “Ga apa-apa, kenapa emang?” tanya balik Anggi. “Gue perhatiin dari tadi … lo banyak diam,” jawab Dina, Anggi hanya tertawa kecil.

“Hooooy gue suruh lari bukan pada ngobrol Bangsat!” teriak Ovi seraya melayangkan kayu di tangannya pada kepala Dina dan kepala siswi lainnya yang melewati dirinya.

Plak! Plak!

“Aduh! Iya Kak … maaf,” kaget Dina mengusap-ngusap kepalanya.

“Brengsek!” umpat Anggi melihat temannya dipukul kayu begitu.

 Boba mendatangi Evelyn yang sedang duduk memperhatikan mereka.

“Sudah berapa kali puteran?” tanya Boba.

“Baru lima kali,” jawabnya lalu melihat pada langit, “pas nih, bentar lagi turun hujan gede, biarkan mereka di lapangan terus, setelah itu kita bawa lagi ke hutan, tapi kali ini kita bikin mereka nginep di hutan … kita lihat sampai besok pagi, apa malam ini mereka bisa survive atau ga.”

Boba menatap Evelyn, “Apa ga terlalu berlebihan Eve? Kalau ada hewan buas gimana?”

“Bego, wilayah ini sudah menjadi tempat perkemahan Ba … sudah aman dari hewan buas kecuali lo nyasar masuk ke dalam hutan yang di sebelah sana… gue lagi ngincer si Bangsat Sok Pintar itu.”

“Anggi?”

Evelyn menggangguk dengan senyum culas, bertepatan dengan bunyi gemuruh dari balik awan yang mendung.

“Ok stop!!” teriak Ovi.

Para siswi baru yang tengah berlari itu pun berhenti dan seketika luruh duduk di lapangan tanah dengan dada yang terengah-engah. Tubuh mereka begitu letih. “Heh siapa suruh duduk?! Bangun!” teriak Ovi diikuti kakel lain yang bergerak menarik para siswi baru itu untuk berdiri. Semua bangun dari duduknya dengan malas, salah seorang siswi jatuh lagi tak sanggup untuk berdiri. “Bawa dia ke tenda senior, suruh istirahat sebentar kalau masih lemah siram air ke wajahnya!” perintah Boba. Maka siswi itu pun digotong menuju tenda senior.

Awan mendung semakin gelap.

“Sekarang turunkan beban kalian!” teriak Ovi, semua siswi itu meletakkan tas-tas ransel berisikan batu-batu tersebut seraya menghela nafas lega.

“Anggap kalau beban kalian itu adalah sampah industri, bukan batu … jadi kalian harus bisa menemukan cara untuk me-reduksi sampah agar tidak menjadi beban lingkungan … jadi itu maksud dari tugas lari keliling lapangan sambil menggendong batu ini … nah sekarang siapa yang berani bilang kalau tugas yang kami perintahkan tidak nyambung dengan jurusan yang kalian ambil hah!?” sindir Ovi seraya melirik tajam pada Anggi.

Anggi hanya menunduk diam tak berkomentar.

“Ga banyak bacot lo ya sekarang,” kata Evelyn menatap Anggi yang tertunduk.

Lihat selengkapnya