Agni tersenyum membaca pesan WA yang masuk dari putri sulungnya.
Ia membalas mengetik, “Ok Sayangku … nanti malam Mama telepon ya.” Setelah mengirim balasan pesannya, ia menemui seorang kliennya yang telah menunggu di lobi kantor.
“Maaf menunggu Pak …” senyum Agni pada kliennya.
“It’s ok, Bu,” balas sang klien.
“Jadi … seperti yang Bapak minta kemarin, ini gambaran dari skema pembayaran cicilan rumahnya,” ucap Agni seraya menyodorkan lembaran-lembaran kertas print out di atas meja. Bapak itu mengambil kertas-kertas tersebut. Agni melirik pada jam di dinding ketika kliennya sedang fokus membaca brosur skema pembayaran kredit rumah yang ditawarkannya.
Pukul 17.00.
Akhirnya setelah menunggu, bapak itu menyetujui, mereka pun berjabatan. Setelah kliennya pergi, Agni segera mengambil tasnya bergegas menuju parkir mobil. “Halo Anin? Tunggu ya, Mama segera jemput ke situ … iya … tadi ada klien dulu … Adit ada di situ juga ‘kan? Iya iya … ini Mama cepat-cepat kesana … tunggu ya, jangan kemana-mana,” kata Agni menutup teleponnya dan menjalankan mobilnya.
Di perjalanan ia mencoba menelpon putri sulungnya dengan panggilan suara seperti yang dilakukan Anindya tadi pagi. “Telpon putriku Anggi,” ucap Agni, tapi telepon genggam itu tidak memberikan respon apa-apa. “Telepon putriku Anggi,” ulangnya lagi, tetap tidak ada perubahan apa-apa pada telepon genggamnya.
“Telepon putriku Anggi! Hoy! Hey!” seru Agni mulai kesal tetapi tidak ada yang terjadi. “Telepon putriku Anggi, brengsek!” umpatnya kesal. Tidak ada sambungan juga, dengan kesal ia melempar telepon genggamnya ke jok sebelahnya.
“Perasaan tadi pagi Anin kok kayak yang gampang sih,” gerutunya.
Mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Kedua anak kembarnya itu naik ke dalam mobil dengan wajah cemberut. “Ma lama banget deh!” ketus Aditya. Disusul protes Anindya, “Ma, tau ga sih kalau menunggu itu pekerjaan yang teramat membosankan?!”
Agni mengatupkan tangannya di dada, “Iya, iya … maafkan Mama … tadi ada klien datang sore, mau ditolak ga enak, maafkan yaaa … buat nebus kesalahan gimana kalau sekarang kita beli es krim sundae dan hot dog?”
Wajah Anindya langsung berubah ceria. “Sundae? Yes!” serunya. “Kek bocah lu, dikasih es krim langsung nyengir,” ketus Aditya. Agni tersenyum, ia tahu kesukaan anak perempuannya adalah es krim. “Lah emang gue masih bocah,” tukas Anindya. “Bocah tapi badan lo paling gede di sekolah,” balas Aditya. “Lo juga! Kayak tiang listrik,” cetus Anindya ga mau kalah.