SEBAIKNYA KAMU LARI

ken fauzy
Chapter #5

BAB 5. WAKTUNYA BERBURU

Hujan deras telah mereda, tetapi masih menyisakan rintik-rintik yang jatuh.

Malam telah menjelang tetapi di lapangan para siswi baru itu masih terlihat berdiri gemetar kedinginan dengan pakaian yang basah kuyup. Dinginnya udara tempat perkemahan mereka yang berada di lereng gunung itu terasa menusuk, terlebih hujan telah mengguyur mereka sejak sore tadi.

“Sekarang waktunya permainan!” teriak Ovi tiba-tiba.

Para siswi baru itu saling pandang dan mengeluh. Seketika lapangan menjadi riuh. “Pfffhhh … yang gue inginkan itu balik ke tenda dan istirahat, gue udah kedinginan dan capek, bukannya permainan,” lirih Dina menghela nafas. Anggi melihat para kakel itu dan setelah dirasa aman, ia merogoh kantong jaket dalamnya, mengintip telepon genggamnya sesaat dan dengan cepat menekan tombol rekam suara kemudian mengantonginya lagi.

“Diam! Diam! Dengar!” teriak Ovi membuat para siswi baru itu diam.

“Kita janji, setelah malam ini, tidak akan ada permainan lagi. Jadi malam ini adalah malam terakhir kita bermain,” sambung Ovi, “maka dari itu, kami akan membuat permainannya lebih seru dari orientasi tahun lalu, supaya nanti kalian bisa mengenang ini sebagai permainan team building di jurusan kita yang paling seru! Dan kabar baiknya … bagi kalian yang bisa survive dari permainan ini tepat saat matahari terbit besok pagi akan mendapatkan penghargaan khusus dari kita!”

Semua siswi baru saling pandang. “Sampai besok pagi? Maksudnya gimana Kak? Kita ga tidur di tenda malam ini?” tanya seorang siswi terkejut. “Ya betul, kalian akan bermalam di hutan malam ini,” jawab Ovi dengan santai.

“Apa? Tapi Kak---“

“Sudah jangan pada protes, sudah dibilang, protes kalian ga guna di sini!” potong Boba. “Untuk gimana permainannya, silakan Kak Evelyn yang akan menjelaskan,” sambung Ovi.

Evelyn melangkah maju ke hadapan para siswi baru itu dengan membawa sebuah senapan paintball di tangannya. Anggi, Dina dan rekan-rekan siswi baru lainnya mengerutkan kening melihat itu. “Kalian semua pasti bertanya-tanya buat apa gue bawa senapan ini? Tentu saja buat main paintball dong … tapiiii … di sini hanya kita yang membawa senapan … kalian? Tidak! Hahaha,” tawa ejek Evelyn.

Sontak seluruh siswi baru itu memprotes.

“Diam! Diaaaam!!” bentak Ovi. Beberapa kakel menendang siswi baru yang masih protes. Semua pun terdiam. Evelyn berkata tegas, “Kalian lupa ya sejak awal kita sudah sampaikan kalau kami adalah pemangsa dan kalian yang dimangsa, kami adalah pemburu dan kalian yang diburu … dan ingat! Kami adalah aturan … inilah aturan kami, patuhi, ikuti atau kami hukum!”

 “Tapi ini tidak sesuai dengan aturan sekolah dan orientasi!”

Kini Anggi yang berteriak, diikuti anggukan semua siswi baru. “Supaya adil … beri kami juga senapan paintball … maka kami bisa survive sampai besok pagi!” teriak Anggi lagi.

“Ya betul! Setuju!” tambah siswi lain mendukung Anggi.

Evelyn, Ovi dan Boba menatap tajam Anggi.

“Ah Si Bangsat ini lagi, anak ini cari mati,” bisik Ovi pada dua temannya.

“Yang bilang permainan ini sesuai sama aturan sekolah siapa?! Permainan ini memang ga seusai dan ini adalah aturan kami!” teriak Evelyn pada semua siswi baru.

“Kalau gitu gue ga ikut!” tegas Anggi. Dina dan beberapa siswi baru mengangguk setuju, sedang sisanya terdiam.

“Ah si Bangsat ini, ckckck …” geleng Ovi kesal dan akan menghampiri Anggi tapi Evelyn mencegahnya. “Biar gue yang urus dia, sekarang diemin dulu,” bisik Evelyn. Ovi pun menuruti.

Lihat selengkapnya