Agni mendesah gelisah.
Ia melihat jam dinding di kamarnya, tengah malam sudah lewat, sebentar lagi azan Subuh pertama, tetapi ia belum bisa menghubungi putri sulungnya itu. “Kamu kemana sih Nggi?’ gumam Agni cemas dan kesal.
***
Anggi mengusap air hujan di wajahnya yang turun melalui hoodie jaketnya. Ia sedang mengintip dari balik semak-semak di antara hujan yang kembali mengguyur. Ia melihat di kejauhan tampak Evelyn dan kakel lainnnya tengah menertawakan para siswi baru yang telah tertembak cat di sekujur tubuhnya dan diikat di pohon. “Besok kalian baru kita lepasin hahaha,” seru salah seorang di antara kakel. “Jangan Kak, jangan,” panik para siswi baru itu memohon. Kakel-kakel itu tertawa.
Srek! Evelyn mendengar sesuatu. Ia segera menyorotkan cahaya lampu senter yang menempel di ujung senapan paintball-nya ke semak-semak. Anggi dengan cepat menarik kepalanya serta menempelkan telunjuk di bibirnya memberi tanda pada Dina dan dua orang siswi baru lainnya yang sedang bersembunyi bersama-sama untuk tidak bersuara.
Evelyn menghubungi Ovi dengan alat komunikasi yang menempel di telinganya. “Ovi, masuk Ovi … gimana sudah dapat buruannya?” tanyanya.
Terdengar suara Ovi tertawa senang, “Hahaha … cepat dan mudah! Beberapa bahkan langsung keluar dari persembunyian mereka, menyerah … parah! Generasi sekarang memang lembek dan gampang menyerah ckckck.”
Evelyn tertawa, “Baydewei, lo lihat di buruan yang lo tangkep itu ada si Bangsat Sok Pintar ga?”
“Bentar, gue cek,” sahut Ovi kemudian terdengar lagi suara Ovi lewat alat komunikasi itu, “negatif … dia masih berkeliaran sepertinya.” Evelyn manggut-manggut, “Ok Vi … kalau lo lihat dia kabari gue, tapi jangan lo buru, dia bagian gue.”
Ovi tertawa, “Hahaha, ok siap ….”
Evelyn mematikan komunikasi mereka, bergumam sendiri, “Gue tau lo ada di sekitar sini … gue akan menemukan lo Bangsat Sok Pintar.”
Kemudian Evelyn memberi tanda pada rekan-rekannya untuk kembali bergerak mencari. “Kak … kita jangan ditinggalin di sini … gimana kalau ada binatang buas?” lirih seorang siswi yang terikat di pohon dengan wajah ketakutan. Begitu pun dengan yang lainnya dengan wajah panik dan takut.