SEBAIKNYA KAMU LARI

ken fauzy
Chapter #7

BAB 7. GOTCHA!

Sementara itu.

“Kenapa dimatiin sih Gi?” tanya Agni sendiri menatap telepon genggamnya.

Azan Subuh pertama telah lama berlalu, begitu pun waktu Subuh, sebentar lagi pagi. Ia bahkan belum tidur sama sekali. Agni mengucek-ngucek matanya lalu mencoba menghubungi lagi putri sulungnya itu. Ditunggu beberapa saat, tetapi kali ini tidak ada nada suara menyambung sama sekali. Dicobanya lagi tetapi masih sama.

“Arrrggh Anggi!!” serunya kesal bercampur was-was.

 

***

 

Evelyn memerintahkan rekan-rekannya untuk berpencar.

Mereka mengambil jalur kiri sedang ia sendiri menyusuri jalur kanan. Tak lama, ia bisa melihat kelebatan jaket Anggi di depannya. Evelyn segera berlari kencang mengejarnya. “Sistah! Gue udah dapetin mereka! Hahaha,” seru Evelyn senang pada Ovi dan Boba melalui alat komunikasi di telinganya dan sudah bersiap menembakkan senapan paintball-nya.

“Ok Eve, kita ada di belakang lo, kita akan kesitu!” balas Boba di alat komunikasi tersebut. Evelyn terus berlari mengejar. Tak lama Evelyn melihat orang itu berhenti karena bendera-bendera pembatas menghentikannya.

“Hahaha, lo ga bisa lari kemana-mana sekarang Bangsat Sok Pintar! Lo sudah sampai batas permainan ini, angkat tangan lo!” hardik Evelyn berjalan mendekat pada orang yang mengangkat tangan dan memunggunginya itu.

“Heh … mana si Dina? Pasti kalian berpencar ya? Lo pikir gue bego mau nyari si Dina?! Gue lebih suka memburu lo Nggi! Hahaha … buka jaket lo cepetan!” perintah Evelyn galak. Kakel lainnya yang telah tiba setelah berpencar tadi saling menatap mendengar kalimat perintah Evelyn tersebut. Mereka tahu, menembak tubuh langsung tanpa jaket dalam sebuah permainan painball, itu suatu perbuatan berbahaya.

“Heh gue bilang buka jaket lo! Malah diem aja, trus balikin badan lo menghadap gue! Gue pengen lihat mata lo saat gue tembakkin ‘ni peluru,” sentak Evelyn.

Orang itu membalikkan badannya pelan-pelan dengan tangan yang masih terangkat. Sorot lampu senter dari senapan paintball Evelyn menerangi wajahnya. Evelyn terkejut bukan kepalang karena yang memakai jaket anti air itu bukanlah Anggi, tetapi Dina!

Dina nyengir lalu berkata, “Gotcha! Ketipu deh lo.”   

“Brengsek! Mana si Bangsat Sok---“

Belum selesai kalimat Evelyn, tiba-tiba Anggi yang hanya memakai kaos saja melompat dari sisi kegelapan, merebut senapan paintball seraya membanting tubuh Evelyn. Evelyn menjerit, ia tak menduga mendapat serangan mendadak itu. Tubuhnya jatuh menghempas tanah basah dan dengan cepat Anggi berdiri sambil mengarahkan senapan paintball itu ke wajah Evelyn yang tergeletak.

“Lo tau ‘kan kalau peluru paintball dalam jarak dekat bisa mematikan?” ucap Anggi mengulang kalimat Evelyn sendiri. Evelyn menelan ludahnya, ia hanya bisa pasrah memejamkan matanya, hatinya berdebar takut. Dina menyentuh bahu Anggi dengan tangannya untuk mengingatkan pada Anggi agar tidak menarik pelatuk senapan tersebut.

Terlambat.

Dar!

Terdengar suara letusan membuat Dina menjerit begitu pun Ovi dan Boba yang telah datang beserta para siswi baru yang telah mereka lepaskan. Di kejauhan terdengar suara ayam hutan berkokok saat Anggi melemparkan senapan paintball itu ke tanah. Evelyn membuka matanya dan melihat peluru cat itu hanya pecah di samping kepalanya.

Lihat selengkapnya