SEBAIKNYA KAMU LARI

ken fauzy
Chapter #9

BAB 9. MALAM PETAKA

Di pesta orientasi.

Pil-pil berwarna kuning itu bekerja cepat. Unsur kimiawi yang terkandung di dalam pil tersebut pecah di lambung Anggi. Dosis yang tinggi dan bercampur dengan soda merubahnya menjadi racun yang tersebar cepat bersama aliran darah ke seluruh tubuhnya. Anggi merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Tiba-tiba ia merasakan jantungnya berdebar cepat, sepuluh kali lebih cepat dari yang ia biasa rasakan. Pandangan matanya seketika memburam, isi kepalanya mendadak seperti dibentur-benturkan ke dinding, rahangnya gemetar hebat hingga ia kesulitan bicara.

“Nggi, Nggi lo kenapa?” seru Dina terkejut melihat kondisi Anggi yang mendadak gagap dan sempoyongan tak terkendali. Anggi ingin meminta tolong tetapi tak bisa. Ia tidak kuat menahan gempuran racun di dalam tubuhnya itu hingga ia muntah.

“Kak tolong!!” teriak Dina memeluk Anggi.

Boba segera menghampiri untuk membantu tetapi Ovi memegangi tangannya, menggeleng cepat. Boba menepis tangan Ovi, menatap Ovi tajam dan berkata, “Vi … gue ga mau jadi bagian ini, gue ga ikut-ikutan, ini rencana kalian!” kemudian Boba berjalan pergi meninggalkan mereka.

Sedang Evelyn menarik Dina untuk menjauh dari Anggi, “Udah tenang Din, biarkan dia … dia lagi enjoy tuh.”

Dina mengerutkan kening, “Enjoy gimana sih Kak? Kondisinya mengkhawatirkan gitu! Kita harus cepat panggil ambulan!”

Dina mengeluarkan telepon genggamnya tapi dengan cepat Evelyn merebutnya. Dina terkejut. “Hey kalau lagi pesta, tidak boleh ada hape!” tegas Evelyn lalu mengantongi telepon genggam Dina.

“Jangan Kak … kembalikan hape saya Kak! Anggi butuh pertolongan cepat! Plis Kak!” mohon Dina.

Evelyn tidak mendengarkan, ia malah menertawakan Anggi yang menunduk dan duduk bersimpuh lemah sembari memegangi dadanya. “Hey, lagi ngapain lo Nggi? Mengheningkan cipta? Hahaha,” ledek Evelyn.

Dalam kesakitan dan kekalutan semua organ tubuhnya, Anggi bisa merasakan nada getar dari telepon genggamnya yang disimpan di dalam kantong jaketnya. Ia tahu mamanya sedang menelponnya. Berkelebat wajah mamanya tetapi Anggi tidak bisa mengkoordinasikan tangannya untuk bisa mengambil telepon genggam itu dari kantong jaketnya. Tangannya mendadak kaku dan mati rasa. Kepalanya semakin berputar cepat, detak jantungnya tidak bisa ia kendalikan. Berkelebat bayang wajah mamanya lagi kini bersama adik kembarnya. Anggi hanya bisa menyebut nama mereka dalam hati, karena kini rahangnya mengatup hebat membuatnya tak bisa bicara sama sekali.

Air mata pun mengalir dari mata Anggi begitu saja.

Suara musik keras terus terdengar dari pengeras suara. Mengiringi tarian sukacita semua orang dalam gerakan lambat. Semua bersorak-sorak tenggelam dalam keriuhan pesta. Tidak ada seorang pun menyadari apa yang sedang terjadi di pojok lapangan yang minim penerangan itu. Seorang gadis sedang berjuang antara hidup dan matinya.

 Tiba-tiba Dina mendekat dan merogohkan tangannya ke dalam kantong celana Evelyn untuk mengambil paksa telepon genggamnya. Evelyn terkejut marah, “Hey kurang ajar, berani-beraninya lo ya!”

Dina terus merogoh kantong celana Evelyn, berteriak, “Kembalikan hape saya Kak! Kasian Anggi!” Evelyn menolak maka mereka berdua pun bergumul. Ovi datang membantu Evelyn. Dari belakang ia menjambak rambut Dina, terus membantingnya lalu dengan cepat Ovi mencengkeram kerah jaket Dina, menyeretnya ke pojok gelap di bawah pepohonan.

Lihat selengkapnya