Perjalanan paling berat adalah saat kamu harus menahan perasaanmu yang dipenuhi kegelisahan dan kesedihan setelah mendengar kabar atas berita buruk yang menimpa orang yang kamu sayangi di kota lain.
Jarak Jakarta–Bogor tidaklah terlalu jauh, tapi bagi Agni seperti yang tidak sampai-sampai. Ia ingin segera melihat buah hatinya tetapi ia harus menahan gejolak rindu yang bercampur gelisah di hatinya itu. Jalan tol seakan tak selesai. Sakit? Anggi masuk rumah sakit? Gumam hati Agni berkali-kali tak percaya. Perasaan kemarin Anggi baik-baik saja, ucap hati Agni lagi. Berkali-kali pula ia berganti posisi duduknya di sebelah bapaknya yang sedang menyetir.
Kakek hanya bisa menepuk-nepuk bahunya. Agni tahu bapaknya sedang meredam kegelisahannya. Agni hanya bisa menarik dan menghela nafasnya, setiap kali ia ingat wajah putri sulungnya itu. Ia sibuk dengan pikirannya sedang kakek tidak ingin menambah kegelisahan putrinya itu.
Mereka pun sampai di Bogor bersamaan dengan awan mendung. Mobil memasuki rumah sakit PMI. Setelah mobil terparkir, Agni beserta kakek bergegas menuju instalasi gawat darurat. Jantung Agni berdegup-degup tak menentu. Ia melihat beberapa gadis memakai jaket kuning biru beserta gadis-gadis seusia putri sulungnya berdiri di kiri kanan jalan di depan pintu IGD dengan wajah layu. Agni menggenggam erat tangan bapaknya, perasaannya makin tak enak.
Sesampainya di pintu IGD, seseorang wanita datang menghampirinya. “Apakah anda Ibu dari Anggita Damayanti?”
Agni mengangguk, “Mana anak saya?”
Wanita itu berkata, “Saya Rosa, saya yang menelpon Ibu dini hari tadi, sebelumnya saya ingin---“
“Mana anak saya?” potong Agni.
Agni berdiri di depan pintu IGD, di dalam ia melihat sebentuk tubuh yang terbaring di atas ranjang dengan kain hijau menutupi hingga wajahnya. “Itu anak saya?” tanya Agni bergetar. Rosa mengangguk pelan. Agni melangkah masuk. Langkah kakinya seperti tak menjejak, kakinya seakan tak menapak lantai, yang ia injak hanya udara hampa.
Kakek memegangi Agni.
Seorang dokter tampak berdiri di ujung kaki ranjang menunggu. Ibu Rosa ikut masuk ke dalam ruangan IGD.
“Kenapa anak saya Dok? Kenapa kain itu menutupi wajahnya?” tanya Agni lirih dengan bola mata bergetar-getar.
“Maaf Bu … kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Anggita tak tertolong,” sesal dokter.
Hujan turun deras di hati Agni mendengar itu.
“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Kakek.
Agni telah berdiri di kepala ranjang, tangannya gemetar bergerak untuk mengangkat kain itu. “Saya ingin melihat wajahnya … ini tidak mungkin anak saya …” lirih Agni.
Dokter menahan tangannya sesaat. “Ibu yakin?” tanyanya. Agni mengangguk dengan tatapan tegas. Dokter pun membantu menurunkan kain itu dan terlihatlah sebuah wajah.
Agni terpaku membeku melihatnya.
Wajah yang begitu dikenalnya dan telah mencuri hatinya sejak hari pertama kelahirannya tengah terpejam dengan kulit wajah yang membiru. Wajah yang selalu mengisi hari-harinya dengan candanya, tawanya kini tak menyapanya. Wajah itu diam bahkan tanpa senyuman. Jemari Agni menyentuh wajah itu, perlahan dan lembut.
“Anggi? Nggi … Mama di sini … bangun Nggi …” lirih Agni dengan air mata yang mengalir melalui kedua pipinya. Kakek pun mengusap air matanya melihat cucunya terbaring kaku seperti itu.
Agni melihat luka lebam di bahu kanan atas payudara Anggi. Juga memar di rahangnya.
“Pak tolong tutup pintunya,” ucap Agni.
Kakek segera menutup pintu IGD membuat para siswi di luar tidak bisa melihat ke dalam lagi. Setelah pintu ditutup, Agni segera menarik kain yang menutupi tubuh anaknya itu hingga tubuh Anggi terlihat semua. Terkejutlah Agni melihat kondisi tubuh putrinya itu.
“Ya Tuhan!” pekik Agni.