Sepanjang perjalanan pulang, Agni hanya bisa berpikir.
Ia tak bisa menangis. Sedihnya mendadak hilang karena dalam benaknya banyak pertanyaan yang mendadak berseliweran muncul. Mengenai luka-luka bekas penganiayaan di tubuh Anggi, siapa yang melakukannya? Apa alasannya? Mengenai patah tulang rusuknya, apa yang terjadi hingga rusuknya bisa patah seperti itu? Kalau itu bekas pukulan, siapa yang melakukannya? Lagi-lagi apa alasannya? Salah apa Anggi hingga diperlakukan sekeji itu?
Begitu juga mengenai ditemukannya zat narkoba di dalam darah Anggi, kenapa bisa? Apakah ia harus menghubungi polisi? Apakah ia harus menghubungi pihak sekolah? Agni menatap jalan tol lurus di depannya yang sepi. Seperti dirinya yang harus menghadapi ini sendiri.
Menjelang pagi, mobil Agni dan ambulan sampai di komplek perumahan. Bergetar hati Agni melihat sudah banyak tetangganya berkumpul di rumahnya, dan tampak Bu Erna beserta si kembar berdiri menunggu di depan pintu pagar. Agni dan kakek turun setelah mobil terparkir di pinggir jalan. Berlari menghambur si kembar dengan air mata berlinangan di pipi mereka memeluk mamanya. Hati Agni seperti diguncang-guncang mendengar tangisan si kembar ini yang menanyakan kakak mereka, Anggi. Lidah Agni terasa kelu, ia tak bisa berkata, ia hanya bisa menunduk diam.
Kakek segera menghampiri si kembar, memeluk mereka, menenangkan tangis mereka.
Tak lama para tetangga membantu petugas ambulan untuk menurunkan keranda jenazah Anggi dan membawanya ke dalam rumah. Agni hanya bisa berjalan pelan dipapah Bu Erna dan menerima ucapan dukacita dari para tetangga yang bersimpati. Saat itu seperti mimpi buruk bagi Agni. Melihat bendera kuning yang berkibar di pagarnya, menerima ucapan duk cita dari para tetangganya, melihat air mata yang jatuh berlinangan dan itu semua untuk Anggi.
Agni ingin bangun dari mimpi buruk ini, tetapi tak bisa.
Agni ingin menolak mimpi buruk ini, tetapi tak kuasa.
Agni hanya bisa menatap nanar semuanya dalam diam dan sesak.
***
Iring-iringan ambulan, mobil dan motor bergerak menuju tempat pemakaman.
Banyak tetangga dan teman yang mengantarkan. Agni duduk di kursi belakang diapit si kembar yang masih sesunggukkan menangis di bahu kanan dan kirinya, sedang kakek yang mengendarai mobilnya. Agni terus menciumi kepala si kembar bergantian untuk memberikan tenang.
Tak lama iring-iringan itu sampai di pemakaman.
Hari itu burung-burung berkicau merdu. Langit biru tanpa awan kelabu. Matahari bersinar terang tapi tak terik. Angin bertiup menyegarkan udara. Dari balik kacamata hitamnya Agni menatap nisan kayu yang dibawa kakek bertuliskan nama putrinya. Hatinya hancur saat itu.