Hari-hari berantakan itu dimulai.
Anindya dan Aditya terbangun dari tidurnya. Mereka berebut masuk ke dalam kamar mandi. “Hey, hey jangan rebutan!” seru kakek dari dapur. “Kakek kenapa ga ngebangunin sih? Kesiangan nih,” kesal Anindya. “Hehehe, Kakek juga kesiangan,” kekeh kakek. Setelah mandi si kembar bergegas ke dapur dan melihat pada meja makan yang kosong dan berantakan, serta tidak ada menu favorit mereka yang biasa terhidang. Kakek hanya menghidangkan dua tangkap roti dengan selai stroberi dan dua kotak susu yang dibelinya di warung.
“Kek, apa ga ada sarapan lain? Adit bosan!” cetus Aditya. Anindya pun mengangguk. “Ya abis, kemarin dibikinin nasi goreng kalian ga suka,” kilah kakek.
“Ya iyalah Kek … yang kita pengen itu nasi goreng bukan nasi gosong …” kata Anindya mengambil roti dan susu itu terpaksa karena tak ada pilihan lain lalu berjalan ke depan. “Hehehe ya gosong dikit sih,” kelit kakek. “Pfffhhhh,” lenguh Aditya mengambil roti dan susu itu juga lalu menyusul Anindya.
Mereka berdua berhenti dan berdiri di depan pintu kamar Anggi menatap ke dalam.
Di dalam kamar tampak Agni masih terduduk di tempat yang sama menatap kosong foto-foto di dinding. “Ma, Anin pergi sekolah dulu,” pamit Anindya. “Ma, Adit pergi sekolah dulu,” timpal Aditya.
Agni hanya mengangguk pelan dengan mata terus menatap kosong pada dinding itu. Si kembar menghela nafas lalu melangkah keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. “Ayo, ayo yang semangat jangan lesu begitu dong,” senyum kakek yang telah bersiap di belakang kemudi dan menyalakan mesinnya. Mobil pun berjalan menuju sekolah.
“Sampai kapan Mama akan seperti itu Kek?” tanya Anindya sambil matanya memandangi pohon-pohon di pinggir jalan yang berkelebatan cepat. Kakek menghela nafas lalu mengangkat bahunya. “Sudah seminggu … tapi Mama ngelamun terus di kamar, apa Mama ga pernah mandi gitu Kek?” tanya Aditya juga.
“Ya ga tau Dit … Kakek ga merhatiin …” jawab Kakek.
“Anin rindu Mama yang dulu … yang bawel, yang ceria, yang selalu nemenin kita, masak yang enak buat kita, bukan berarti masakan Kakek ga enak ya, no offense,” cengir Anindya. Kakek tertawa. “Kita semua juga sedih kehilangan Kak Anggi tapi Mama ngelupain kita,” tambah Aditya. Anindya mengangguk setuju.
“Hey, jangan berpikir begitu, kesedihan yang dirasakan oleh setiap orang itu berbeda, ada yang bisa cepat move on … ada yang tidak … kita harus memberi Mama kalian waktu … Kakek yakin ga lama lagi juga Mama akan kembali seperti dulu,” kata kakek meyakinkan.
Mobil pun sampai di sekolah dan si kembar turun. “Hey Kembar! Sore, jam lima, seperti biasa Kakek jemput, jangan kemana-mana!” seru kakek. Anindya dan Aditya mengangguk dan melanjutkan masuk sekolah. Kakek menyandarkan tubuhnya di kursi, ia tercenung sebentar, memikirkan kata-kata cucunya tadi lalu menghela nafas. Kakek pun memutar mobilnya untuk kembali pulang.
***