Agni dan kakek terkejut bersamaan.
“Benarkah?”
Dina mengangguk lalu mengeluarkan sebuah jaket yang telah terlipat rapi dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Agni. “Ini jaket Anggi … malam terakhir orientasi, Anggi meminta saya untuk memakainya … saat itu kita dalam sebuah permainan,” tutur Dina mengingat.
“Permainan?” heran Agni. Dina mengangguk.
“Tolong ceritakan semuanya pada Tante ya, Din,” pinta Agni.
Maka mulailah Dina menceritakan semuanya.
Menit-menit berlalu.
Agni dan kakek mendengarkan cerita Dina dengan seksama. Sesekali Agni mengusap wajahnya mendengar apa yang diceritakan Dina. Bahkan berkali-kali kakek menggeleng mendengarkan cerita Dina. Agni pun mengepalkan tangannya marah. Dina melanjutkan ceritanya. Agni tidak menyangka ternyata selama di orientasi, Anggi tidak dalam kondisi yang bak-baik saja seperti yang disampaikan padanya. Agni baru mengetahui kalau Anggi menutupinya.
Akhirnya Dina menyelesaikan ceritanya seraya mengusap air matanya.
Setelah mendengar semua, Agni dan kakek terdiam masih mencerna apa yang baru mereka dengar. Mereka terkejut bercampur marah hingga tak bisa berkata-kata. “Maafkan saya Tante, harusnya saya segera menemui Tante untuk menyampaikan semua ini,” lirih Dina.
“Tidak Din apa yang kamu lakukan ini sudah tepat … minggu kemarin mungkin Tante tidak bisa menerima ceritamu ini dengan baik,” ucap Agni menatap Dina. “Sebentar … wajahmu dengan rambut ponimu itu membuat Tante ingat … apakah kamu gadis yang menangis dan berteriak memanggil nama putri Tante di rumah sakit saat itu?” tanya Agni, Dina mengangguk.
“Trus, saat itu ada seorang gadis bernama Evelyn datang pada Tante, menyampaikan duka citanya … apakah Evelyn yang ini, sama dengan Evelyn yang ada di ceritamu tadi Din?” lanjut Agni.
“Apakah rambutnya pirang?” tanya Dina.
Agni mengingat sebentar lalu mengangguk.
“Iya … itu Evelyn yang sama,” ujar Dina menegaskan.
Agni menggeleng seraya berdecak geram, “Pintar sekali dia berakting … dan berbohong, mengatakan kalau dia tidak ikutan masa orientasi itu, hih!”
“Tante, Kakek … saya pamit pulang, saya harus naik kereta sore ini,” ucap Dina. “Kalau gitu biar Kakek antar ke stasiun, sekalian Kakek mau jemput si kembar,” senyum kakek.
Agni segera memeluk Dina. “Terima kasih Din, kamu sahabat yang baik,” bisik Agni.
“Bukan Tante … tapi Anggi-lah sahabat yang paling baik … dia mau menolong siapa saja, berani dan setia kawan … secara pribadi saya mengaguminya … dia seorang sahabat yang akan selalu saya kenang,” ucap Dina membuat Agni terharu.
Setelah kepulangan Dina yang diantar kakek, Agni mengusap air matanya, ia melipat rapi selimut biru yang selalu dibawa-bawanya itu kemudian diletakkan di kaki tempat tidur Anggi. Ia menempelkan ujung jemarinya di bibir lalu ujung jemarinya itu ia tempelkan pada foto Anggi yang sedang tertawa di dinding.