SEBAIKNYA KAMU LARI

ken fauzy
Chapter #15

BAB 15. MENCARI KEADILAN

Di perjalanan Agni merasa ada sesuatu di dalam kantong jaket yang dipakainya.

Ia merogoh kantong dalam jaket itu lalu mengeluarkan isinya. Terkejutnya Agni ketika melihat sebuah telepon genggam berada di tangannya. Hape Anggi! Seru batin Agni. Dengan tangan kanan tetap memegang kemudi, tangan kiri Agni mencari-cari kabel cas di laci dashboard-nya. Setelah menemukan, ia segera mengisi batere telepon yang telah mati itu. Mobil masih terus berjalan di jalan tol.

Setelah baterai telepon genggam itu terisi, Agni segera menyalakannya. Ia membawa mobilnya pindah ke jalur lambat, dan berhenti di pinggir jalan, menyalakan dua lampu sen belakangnya untuk memberi tanda darurat lalu Agni mulai memeriksa isi telepon genggam itu.

Tidak ada yang mencurigakan semua tampak normal, tetapi tanda merah di simbol audio itu membuat Agni penasaran. Ia memijit simbol itu dan terlihat sebuah file hasil perekaman dengan durasi waktu yang panjang. Agni melihat tanggal rekaman tersebut dan terkesiap. “Itu tanggal saat Anggi masih di orientasi,” gumam Agni.

Ia menyalakan rekaman itu untuk mendengarkan, seraya menyalakan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan. Hasil rekaman itu tidak terdengar terlalu jelas karena direkam dari balik kantong jaket, tetapi Agni bisa menangkap kata-katanya. Rekaman itu dimulai ketika mereka akan memulai permainan. Agni membesarkan volumenya untuk mendengarkan kata-kata mereka.

Dalam benaknya ia bisa membayangkan kondisinya.

Ada sekelompok siswi baru yang dipaksa untuk mengikuti permainan paintball oleh kakel mereka meski dengan kondisi tubuh yang sudah letih, karena Agni mendengar kata senapan paintball disebutkan, tapi posisinya tidak imbang, para siswi ini tidak diberi senapan paintball juga, melainkan mereka hanya untuk diburu karena ia mendengar kalimat, “… kami adalah pemangsa dan kalian yang dimangsa, kami adalah pemburu dan kalian yang diburu …”

Ya Tuhan, gumam Agni menjadi tegang mendengarkan rekaman tersebut.

Mobil sudah memasuki kota Bogor dan Agni segera mengarahkan mobil tersebut menuju sekolah putrinya. Dari rekaman itu ia mendengar suara pukulan dan suara putrinya yang mengaduh kesakitan. Agni terkejut bukan kepalang, ia menahan geram hingga jemarinya mencengkeram kuat kemudinya mendengar bagaimana anaknya diperlakukan.

“Brengsek,” geram Agni. Lalu terdengar suara berteriak, “Hey Nggi! Sebaiknya lo lari! Hahaha …” disusul suara letusan senapan yang membuat Agni terpekik kaget ketika mendengar suara letusan tersebut.

“Ini bukan permainan, ini adalah rencana pembunuhan! Para kakel itu bermain-main dengan nyawa adik juniornya!” gusar Agni.

Mobil telah memasuki kawasan sekolah khusus putri tersebut, Agni memarkirkan mobilnya dan mematikan rekaman itu lalu membawa telepon genggam tersebut. Ia bergegas menuju ruangan kesiswaan. Sesampainya di ruang kesiswaan ia diterima oleh seorang wanita penerima tamu.

 “Saya ingin bertemu dengan Bu Rosa,” kata Agni. “Apakah Ibu sudah punya janji?” tanya wanita penerima tamu tersebut. “Katakan saja pada Bu Rosa kalau Ibunya Anggi ada di sini … dia pasti mau menemui saya.”

Wanita itu mengangguk dan meminta Agni menunggu.

Beberapa saat kemudian ia telah kembali dan berkata, “Maaf Bu … Bu Rosa tidak bisa menerima Ibu ….”

Lihat selengkapnya