SEBAIKNYA KAMU LARI

ken fauzy
Chapter #16

BAB 16. IBLIS BERWARNA MERAH

Rosa berdiri menatap Agni di samping pintu mobilnya. “Ibu yakin? Ibu mengancam kami? Ibu mau bilang kalau sekolah lepas tanggung jawab?” Rosa tertawa. “Silakan bawa ke media, kepala sekolah pun sudah siap, karena Ibu hanya akan mempermalukan diri Ibu sendiri dan tentu saja Anggita.”

“Buktinya, pihak sekolah tidak mau mengusut siapa-siapa saja pelakunya!”

“Bu, dengan berat hati saya harus bilang ini, kalau putri Ibu memakai narkoba … bahkan kalau kasus ini dibawa ke jalur hukum pun, Ibu tetap kalah.”

“Anak saya bukan pemakai! Dia diberi minuman yang sudah diberi narkoba!” tegas Agni.

“Ibu punya buktinya?”

“Ada saksi yang bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”  

“Siapkan saksi-saksi Ibu, tapi itu hanya kata-kata melawan kata-kata,” tantang Rosa, “Ibu perlu bukti konkrit yang tak terbantahkan … karena semua kesalahan menunjuk pada putri Ibu, semua orang menganggap putri Ibu pembuat masalah dan pemakai.”

Agni teringat rekaman itu.

“Saya ada bukti! Bukti rekaman suara di hape Anggi! Itu semua menggambarkan situasi apa yang sebetulnya terjadi di saat orientasi malam terakhir, saya bisa bawa bukti ini ke tim investigasi sekolah bukan?” tanya Agni berharap.

“Saya ga yakin Bu, di era segala sesuatu bisa dimanipulasi maka rekaman suara pun dianggap begitu. Apakah betul itu suaranya, apakah itu hasil AI? Tidak ada pihak yang akan mau menjadikan itu sebagai alat bukti,” jelas Rosa.

Agni menghela nafas berat. “Lalu apa yang harus saya lakukan?”

“Terima uang duka dan melanjutkan hidup,” saran Rosa.

Agni menggeleng keras menolak. “Saya tetap akan menyeret Boba, Evelyn dan Ovi ke pengadilan!” ucapnya tegas. Rosa terkejut. “Ibu dapat dari mana nama-nama itu?”

“Kenapa Bu Rosa terkejut saya tahu nama-nama itu? Saya tahu mereka adalah ketua, wakil ketua dan kepala keamanan saat acara orientasi, merekalah orang-orang yang harus bertanggung jawab!”

Seketika wajah Rosa berubah pucat. “Jangan Bu, Ibu tidak tahu akan berhadapan dengan siapa,” gelengnya gemetar. “Memangnya saya akan berhadapan denga siapa?” Agni mengernyitkan dahi.

“Bu, saya beri tahu, orang tua Evelyn dekat dengan penguasa, Ibu bukan lawan mereka. Berpikirlah dengan rasional Bu, kita hanya rakyat jelata, hukum ini diciptakan untuk melindungi mereka bukan kita,” ungkap Rosa.

Agni terdiam.

“Pikirkan saran saya tadi, terima uang duka, lanjutkan hidup bahagia bersama keluarga, dan jangan ganggu iblis yang sedang diam,” ucap Rosa menekan.

Lihat selengkapnya