“Siapa Anda! Dan kenapa bros mawar itu ada di jaket Anda?” dengus Boba.
Agni mengendalikan keterkejutannya, menenangkan dirinya. Ia menggoyang-goyang minuman cola dinginnya itu. Boba mengerutkan kening. “Bogor itu hawanya panas ya? Sebentar saya haus,” kata Agni menempelkan sedotan pada bibirnya lalu mulai menyedot colanya.
Selesai menyedot, Agni berkata, “Kamu mau tahu siapa saya? … Saya adalah Ibu yang sedang marah dan berduka.”
Boba terkejut dan tahu tapi tidak melepaskan tangannya dari kerah jaket Agni, “Anda tidak seperti terakhir yang saya lihat, tapi kalau Anda benar Ibu dari Anggi, maka Anda bodoh!”
“Bisa lepaskan tangan kamu dari jaket saya? Jadi kita bisa bicara dengan beradab!” tegas Agni. Boba melepaskan cengkeramannya. Agni merapikan kerah jaketnya, juga kacamatanya. “Kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi bukan? … Sekarang, semua orang menuduh anak saya sebagai pemakai narkoba dan pembuat masalah … kamu harus menceritakan yang sebenarnya, bersaksi untuk anak saya!”
Boba tertawa sinis. “Tidak akan terjadi!”
“Kenapa? Saya tahu kamu takut dengan Evelyn, bukan dengan Evelyn, tepatnya dengan bapaknya, dengan kekuasaan bapaknya, betul?”
Boba terdiam.
“Boba, saya menghubungi kamu, berharap kamu bisa membantu saya,” harap Agni. “Dan mengorbankan keluarga saya?” Boba menggelengkan kepalanya, “saya hanya menyesal tidak berusaha keras untuk menolong Anggi saat itu.”
“Sekarang kamu bisa menolong Anggi, dengan menceritakan yang sebenarnya!”
Boba menggeleng.
“Dengan bersaksi, hukumanmu akan diringankan, ingat masa depanmu masih panjang,” bujuk Agni. Boba tertawa. “Saya tidak akan masuk penjara kalau bersama Evelyn, sebaiknya Ibu pulang, sebelum keadaan menjadi memburuk.”
“Kalau kau menjadi ibu, apakah itu yang akan kau lakukan? Menyerah untuk mencari keadilan anakmu?” tanya Agni. Boba hanya menghela nafas lalu membalikkan badannya berjalan pergi. Agni mengejarnya.
“Baiklah … kalau gitu, bawa saya ke tempat kelompok persaudarian kalian biasa berkumpul.” Boba menatap Agni, “Ibu serius?” Agni menyedot minumannya lagi hingga yang terdengar hanya sisa es batunya saja, kemudian membuang minuman itu ke dalam tempat sampah.